
Berikut ada beberapa manfaat dari bermain catur seperti yang sedang dilakukan oleh Ayah Mika dan Anwar saat ini.
Saat bermain catur, seseorang akan berusaha membuat strategi agar dirinya tidak termakan jebakan lawan. Ia akan memikirkan berbagai kemungkinan dari setiap gerakan yang ia lakukan. Ya, main catur akan mengembangkan perspektif seseorang terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.
Bermain catur akan melatih daya ingat seseorang. Hal ini karena setiap bidak memiliki gerakan yang berbeda. Selain itu, pemain catur akan mengingat strategi lawannya sehingga ia bisa menyusun hal yang harus dilakukannya. Dalam penelitian ditemukan bahwa pemain catur jauh lebih baik dalam mengingat daftar kata yang pernah mereka dengar daripada orang yang belum pernah bermain catur.
Orang yang bermain catur akan lebih sering berpikir. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kecerdasan dan kemampuan memori orang tersebut. Orang yang suka main catur biasanya otaknya lebih cepat memahami tugas yang diberikan.
Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa main catur dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif dan berbeda. Hal ini karena saat bermain catur, orang tersebut akan memikirkan berbagai cara untuk mengambil keputusan dalam setiap langkahnya.
Seperti yang kita ketahui, pemain catur akan selalu memikirkan strategi. Dirinya akan membuat berbagai perencanaan dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap daya pikirnya dalam aktivitas lainnya. Ia dapat memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada setiap langkah yang diambil.
Dalam sebuah percobaan ditemukan, kelompok yang rutin bermain catur menunjukkan keterampilan perencanaan yang jauh lebih baik daripada kelompok yang tidak bermain catur. Pemain catur juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir untuk membuat keputusan.
Bermain catur dapat melindungi diri dari demensia. Dalam penelitian, permainan yang menggunakan ingatan, perhitungan, keterampilan, dan kemampuan berpikir kritis dapat membantu mengurangi penurunan kognitif dan menunda demensia.
Kini, Ayah Mika dan Anwar tengah serius tanpa ada yang bersuara. Mereka tampak sedang berfikir keras dan suara Mika memecah keheningan diantara keduanya.
''Yah, Mas, ini kopinya.'' Mika meletakkan nampan di sisi papan catur yang sedang dimainkan. Lalu ia duduk di sebelah sang Ayah yang sedang fokus.
Tak ada yang bersuara, tetapi tangan mereka bergerak saling memindahkan buah catur. Mika melihat keseriusan dari raut wajah keduanya. Dan, beberapa saat kemudian. Ayah Mika membuka suara.
''Skakmat!'' seru Ayah Mika memecah keheningan.
''Argh! Ayah luar biasa,'' Anwar berdecak kagum. Ia tak menyangka akan kalah dalam permainan. Anwar langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menatap kagum pada pak Rizal.
''Hahah, Ayah sering berlatih dan bermain sama tetangga sebelah. Tapi, kamu juga jago kalo Ayah lihat. Cuma, kamu jarang melakukannya.'' Ungkap Pak Rizal menilai permainan yang dilakukan oleh Anwar.
''Hehe, iya, Yah.'' Anwar hanya nyengir menunjukkan deretan giginya yang rapi.
''Orang sibuk sama dunia luar, mana sempat mau main, Yah'' Mika menimpali. Sedari tadi ia hanya menyimak kedua lelaki di dekatnya.
''Eh, Mas, kan kerja buat ...'' belum selesai Anwar berucap, Mika langsung menyela.
__ADS_1
''Buat apa? biar tambah kaya?!'' Mika menerka ucapan Anwar sambil menaikkan sudut bibirnya. Ia hanya sekedar menggoda.
''Mi, jangan begitu dong, nak'' Pak Rizal menatap ke arah Mika. Ayahnya tidak senang dengan candaan anaknya.
''Enggak apa-apa, Yah. Kami sudah biasa bercanda'' Anwar membela ucapan Mika.
''Iya, Yah. Ayah enggak usah khawatir kalau Mas Anwar bakalan marah. Ayo, diminum kopinya, udah dingin. Aku buatnya penuh dengan perasaan loh, ini!'' ujar Mika dengan mimik wajah yang serius.
''Kalian sudah seakrab itu, ya?'' sambung Bu Dina yang baru saja bergabung dan duduk di sisi suaminya. Mika yang melihat ibunya datang langsung berpindah duduk di sisi Anwar.
Anwar dan Mika menatap Bu Dina secara bersamaan dan kemudian hanya membalas pertanyaan Bu Dina dengan senyum yang terpaksa. Setelahnya, mereka mengobrol ringan tanpa ada rasa canggung. Anwar begitu terbuka pada kedua orang tua Mika. Saat Ayah dan Ibu Mika menanyakan masalah pekerjaan apa saja yang Anwar geluti, Anwar menjawab dengan apa adanya. Ayah dan Ibu Mika manggut-manggut mendengar penuturan dari Anwar. Saat obrolan mereka selesai, Anwar pun berpamitan pada kedua orang tua Mika.
"Saya pamit pulang dulu ya, Yah, Bu,...'' Anwar menyalami kedua orang tua Mika. Lalu, ia menatap ke arah Mika yang juga ikut berdiri hendak mengantar Anwar hingga ke pintu utama.
''Mas, pamit dulu ya, Mi'' ucap Anwar pada Mika.
''Iya, Mas. Yuk, aku antar sampai depan!" jawab Mika.
''Iya, Yah. Pasti!'' Anwar mengacungkan jempol sebagai tanda persetujuan.
Mika dan Anwar melangkah menuju pintu utama. Sesampainya di depan teras, Anwar mendekat dan memepet pada langkah Mika. Ia menoleh kebelakang guna melihat ke arah pintu yang baru saja ia lewati. Tidak ada siapapun yang terlihat.
Mika mengerutkan keningnya melihat keanehan pada diri Anwar. Dan langsung saja melontarkan pertanyaan.
''Kenapa, Mas?!''
''Cuma,...'' jeda Anwar.
''Cuma apa, kok kamu mencurigakan, Mas!'' Mika semakin dibuat heran dengan sikap Anwar. Dan Anwar pun mendekatkan kepalanya , lalu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Mika. Kemudian, ia membisikkan kata-kata yang tadi hendak ia katakan.
''Ayah sama Ibu, baik, ya. Aku suka'' bisik Anwar.
''Ya, Allah, Mas,...'' Mika mengehela nafas panjang. ''Aku kira kamu mau mesyum!!'' lanjutnya lagi.
__ADS_1
Anwar malah terkekeh mendengar ucapan Mika yang mengira dirinya hendak berbuat mesyum.
''Pikiranmu terlalu jauh, Mas udah enggak seperti dulu. Mas menghargai kamu, Mika.'' Ucap Anwar dengan tulus, ''jadi, Mas minta maaf pernah melakukan salah padamu." Anwar menundukkan wajahnya. Saat mengingat kesalahannya yang pernah bekerja sama dengan Vivi untuk berbuat yang tidak-tidak pada Mika yang akan pergi liburan bersama suaminya dulu.
"Kesalahan yang mana, Mas?" Mika menautkan alisnya. Tapi, ia berfikir untuk tidak mengingat masa lalu.
"Ah, sudah lah, Mas. Jangan bahas yang sudah lalu, jadi pulang nggak, nih?" Mika menghalau agar Anwar tidak membahas masalah masa lalu.
"Oh, iya. Mas sampai lupa. Pengennya dekat sama kamu terus, sih!" goda Anwar.
"Hmmh... jangan mulai lagi. Sudah, buruan masuk mobil. Kasian si Anggi, nanti dia nungguin Mas yang kelamaan pulang" Mika mendorong pelan tubuh Anwar agar segera masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu ngusir, nih, ceritanya?!" tanya Anwar.
"Iya," jawab Mika.
"Humm" Anwar mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.
"Ihh, udah, ah. Enggak habis-habis kalo mau debat besok lagi aja, ya" pinta Mika. Ia pun membukakan pintu untuk Anwar agar segera masuk ke dalam mobil.
"Ya udah, mas pulang dulu. Sampai ketemu besok, ya!" Anwar mengerlingkan matanya. Lalu ia masuk ke kursi kemudi.
"Bye,..." Mika melambaikan tangannya tepat di samping pintu mobil Anwar, dan Anwar pun menurunkan kaca pintu kemudian membalas lambaian Mika.
Tanpa di sadari, kedua orang tua Mika yang kepo akan kelakuan anak semata wayangnya. Mereka mengintip dari balik gordyn jendela di ruang tamu.
Saat Mika mulai melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah, Ayah dan Ibu Mika langsung bergerak secepat kilat untuk duduk di kursi agar tidak ketahuan bahwa tadi mereka mengintip.
-
-
Terimakasih buat yang selalu menanti kelanjutan dari karyaku ini. Semoga bisa menghibur kalian, ya.
__ADS_1