Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 56


__ADS_3

''Iya, mereka lagi di kantin. Kita susul kesana aja, mau jenguk ke dalam juga belum di bolehin. Nanti sore baru di pindah ke ruang rawat.'' Jawab Mika sambil memberi penjelasan.


''Lah, ngapain gw ikut ke kantin. Gw nggak kenal sama mereka, Mi,'' ujar Bagas.


''Sekalian kenalan nggak ada salahnya, kan?'' jawab Mika enteng.


''Huft!'' Bagas menghembus nafas ke arah hidungnya.


Mereka menyusuri koridor menuju ke kantin. Terlihatlah Anwar sedang berbicara serius dengan Anggi membahas tentang bayi. Mika dan Bagas memelankan langkah dan menyapa keduanya.


''Ehm, Anggi, Mas,'' sapa Mika.


''Eh! Kapan kamu datang, Mi. Maaf, kami belum memberi kabar, takut mengganggu pekerjaanmu.'' Jawab Anwar.


''Duduk, Kak,'' Anggi mempersilahkan Mika duduk. Mika dan Bagas duduk saling berhadapan bergabung di meja Anwar dan Anggi.


''Bagaimana keadaan mereka, Mas?'' tanya Mika.


Anwar menghembuskan nafas sejenak sebelum mulai angkat suara.


''Suami Vivi masih belum sadar, hasil rontgen untuk kepalanya belum keluar.''


''Bagaimana keadaan Vivi, Mas? apakah bayinya baik-baik saja?"


"Vivi sudah selesai operasi, dan bayinya,..." ucap Anwar terjeda. Hal itu membuat Mika semakin penasaran diliputi rasa khawatir. Ekspresi Anwar terlihat begitu sendu dan semakin membuat Mika cemas dan berfikiran negatif.


"Bayinya kenapa, Mas?" tanya Mika.


"Bayinya prematur, dan sedang dirawat intensive di ruang khusus bayi," imbuh Anwar.


"Oh, begitu ya, Mas." Ada perasaan lega, dan khawatir bercampur menjadi satu di hati Mika. Kenapa ia harus memikirkan anak dari wanita itu.


Semua terdiam sejenak, raut wajah sedih terpancar di wajah masing-masing hingga suara perut seseorang mengaligkan perhatian mereka.


Krucuk krucuk

__ADS_1


Mika, Anwar, dan Anggi menoleh ke arah Bagas. Sementara yang di toleh memasang tampang senyum memelas.


"Maaf," satu kata meluncur dari bibir Bagas.


"Maaf, Gas, gw sampe lupa, kalo lu belum makan!" ujar Mika.


"Ah, mari kita makan bersama, ya. Kami juga belum makan apa-apa," tawar Anggi. Ia memesan makanan yang tersedia di kantin tersebut.


"Mi, setelah makan, Mas mau bicara berdua sama kamu, ya." Tutur Anwar.


"Iya, Mas," sahut Mika.


"Oh, iya, Bagas, ini mas Anwar dan ini adiknya, Anggi," Mika memperkenalkan keluarga Vivi pada Bagas. Ia sampai kelupaan mengenelakan siapa yang sejak tadi diajaknya mengobrol.


Mereka berjabat tangan sejenak lalu duduk kembali setelah perkenalan.


Menu makanan pun datang, mereka makan dalam diam. Tak terlalu bernafsuu karena fikiran mereka yang tak menentu. Asal jangan menjadi sakit gara-gara melewatkan jam makan.


Usai dari kantin, mereka kembali keruangan tempat Aji berada. Diantara mereka hanya di perbolehkan salah seorang yang membesuk pasien. Akhirnya, Bagaslah yang masuk. Sebenarnya Mika yang ingin sekali masuk, tetapi Anwar melarangnya. Kini, Anwar dan Mika tengah berada di kursi taman rumah sakit.


''Mi, Mas, mau menyampaikan sesuatu,'' ucap Anwar. Ia menatap manik mata Mika dalam-dalam. Mika pun menanti dengan serius apa yang hendak disampaikan oleh Anwar.


''Vivi sempat sadar sebelum di lakukan operasi, ia meminta pada Mas untuk menyampaikan pesannya pada kamu.'' Lanjut Anwar. ''Ia meminta agar bayinya kamu yang merawatnya,'' terang Anwar.


''Ap-apa, Mas?!'' Mika kaget dan tak percaya dengan yang ia dengar barusan.


''Maksudnya gimana, Mas? aku nggak paham!'' jawab Mika.


''Vivi menitip pesan, ia meminta maaf pada kamu, dan juga ia menitipkan bayinya agar kamu mau merawatnya.'' Anwar kembali mengulang perkataannya. Namun, Mika masih belum bisa mencerna dengan baik kalimat yang Anwar lontarkan.


***


Sepulang dari rumah sakit, Mika hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Ia masih memikirkan perkataan Anwar yang di sampaikan tadi siang di rumah sakit. Ia perlu berbagi keluh kesah dengan sahabatnya untuk saat ini. Mika menghubungi Meisya lewat pesan agar mereka bisa bertemu. Sebenarnya Mika sudah meminta pada Anwar agar bertemu langsung dengan Vivi untuk memastikan semuanya. Namun, ia tak diizinkan. Pada akhirnya, ia memilih pulang ke rumah.


Tokt tok tok

__ADS_1


Suara ketukan di depan pintu kamar, membuat Mika tersadar dari lamunannya. Tak berselang lama, pintu kamarnya pun terbuka. Telihatlah sosok sang ibu berdiri di ambang pintu menatap dirinya yang sedang duduk menghadap ke jendela.


"Ibu," Mika menoleh ke arah bu Dina.


"Kamu kenapa, sayang," tanya bu Dina dengan lembut. Ia berjalan masuk dan menghampiri Mika. Mengelus pundak sang putri, terlihat sekali jika anak semata wayangnya sedang dirundung kebimbangan.


"Enggak apa-apa, kok, Bu.'' Jawab Mika. Ia menetralkan perasaannya dan berbicara santai seperti biasanya. Namun, ibu mana yang tak memahami jika sang putri sedang dilanda kesedihan serta kebimbangan. Semua tergambar begitu jelas dimata sang ibu.


''Jangan terlalu kamu fikirkan, sayang. Nanti kamu sakit. Ibu tidak mau kamu kenapa-napa,'' suara lembut sang ibu selalu menghangatkan hatinya. Mika meraih tangan bu Dina yang mengelus pundaknya dan ia dekap dengan pipinya. Air mata menetes tanpa di suruh. Buru-buru Mika menghapusnya.


Aduh, maaf ya, author sejujurnya susah banget mau nulis part yang mengsedih. Cuma bisa gitu aja.


Drrtt drrtt drrt


Ponsel Mika bergetar, pesan balasan dari Meisya masuk ke ponselnya. Mika membaca sekilas dan ia beranjak dari duduknya.


''Mau kemana, sayang?'' tanya bu Dina. Ia memegang pergelangan tangan Mika yang terasa lemah.


''Mau bertemu Meisya sebentar, Bu, aku berangkat sekarang, ya.'' Pamit Mika.


''Nak, sebaiknya nanti saja. Atau Meisya yang kamu suruh datang kesini,'' usul bu Dina. Ia benar-benar mengkhawatirkan Mika.


''Ibu tenang aja ya, aku cuma sekitaran sini aja, enggak jauh-jauh, kok!'' Mika memberikan senyum termanisnya. Bu Dina pun pasrah jika Mika sudah seperti itu.


''Hati-hati, ya sayang,'' pesan bu Dina. Ia beriringan keluar dari kamar Mika. Sebelum pergi, Mika meraih tas kecilnya.


''Aku pergi dulu ya, Bu,'' Mika mengecup pipi sang ibu dan pergi.


''Iya, sayang, kalau ada apa-apa, segera hubungi Ibu, ya!'' bu Dina kembali mengingatkan putrinya.


Mika menyatukan jari jempol dan telunjuk membentuk lingkaran. Setelahnya, ia melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya. Hanya butuh waktu lima menit, Mika sudah sampai di taman. Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dan mencari tempat duduk. Tepat di bawah pohon rindang, ia duduk menunggu Meisya yang sedang dalam perjalanan dari tempat kerja menuju taman tersebut.


Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti di samping mobil Mika yang terparkir. Keluarlah seseoang dari dalam mobil tersebut dan tersenyum ke arah Mika yang tengah memperhatikannya.


''Hai, Mika!, i miss you,''

__ADS_1


__ADS_2