
Merasa ada seseorang yang memanggil namanya, Vivi menolehkan kepalanya kesamping.
"Kak Vivi..." sekali lagi gadis tersebut memanggil namanya.
"Anggi??" sahut Vivi saat melihat seseorang tersebut. Vivi dan Anggi sama-sama keluar dari mobil dan mereka berpelukan.
"Kakak apa kabar? tambah cantik aja nih!" seru Anggi.
"Hahah, makasih, Anggi. Kakak baik kok" sanggah Vivi. Mereka berpelukan dan cipika cipiki ala-ala gadis pada umumnya jika sudah lama tidak bertemu.
"Oh ya, kakak sama siapa itu" tanya Anggi saat melihat seseorang di kursi kemudi yang baru keluar dari tempatnya.
"Oh, itu calon suami kakak" Vivi pun memperkenalkan seseorang tersebut dan menyuruhnya mendekat.
"Sini sayang, kenalin. Ini sepepupu aku" ujar Vivi memperkenalkan sepupunya.
Anggi mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri dan di sambut sekilas oleh Aji.
"Anggi"
"Aji"
Setelah selesai berjabat tangan, Vivi dan Aji berpamitan pada Anggi untuk masuk ke dalam. Sedangkan Anggi, ia akan kembali ke rumah snlang kakak.
"Kami masuk dulu ke dalam ya, apa kamu mau ikut?" ucap Vivi berbasa basi.
"Enggak kak, aku udah puas tadi di dalam. Selamat bersenang-senang ya kak" Anggi kembali masuk ke dalam mobil dan Vivi serta Aji melangkah masuk ke dalam mall tersebut.
Vivi menautkan tangannya ke lengan Aji seraya berjalan menelusuri tempat belanja yang akan di beli oleh Vivi. Mereka membeli pakaian dan pernak pernik lainnya. Mereka terlihat sangat serasi dan begitu lekat bak perangko. Karena Vivi tak jua melepaskan tautan tangannya pada lengan Aji. Walaupun sedikit risih, Aji mencoba untuk tetap menahan risihnya.
Hingga waktu malam tiba, Mika di rumah seorang diri. Sejak sore tadi, ia pulang dari mall terburu-buru agar bisa duluan sampai di rumah ketimbang suaminya. Nyatanya malah suaminya tak kunjung pulang.
__ADS_1
''Nih orang kemana sih! di telepon nggak di angkat!!'' Mika berkali-kali menelpon Aji sambil mondar-mandir di ruang kamarnya. Mungkin kalau lantainya kain, sudah di pastikan kainnya itu sudah sangat licin karena banyaknya gesekan.
''Huh! kemana sih nih orang. Tiap hari kok susah banget di hubungin. Jangan-jangan dia...'' Mika menggantung ucapannya. Ia mulai berprasangka yang iya-iya tentang suaminya.
''Huaa! masa sih dia begitu?? aku harus mencari tahu nih. Aku akan selidiki nanti'' fikiran Mika sudah melayang dan memastikan jika suaminya mulai berselingkuh akhir-akhir ini karena sering terlambat pulang dan sudah jarang memberi kabar kepada dirinya. Juga tingkahnya yang tidak seperti biasanya sudah sangat jelas terlihat.
Tepat pukul sembilan malam, Mika mendengar suara deru mobil di depan rumah. Dan ia segera keluar dari kamar untuk menyambut sang suami yang baru pulang.
Terlihat Aji baru masuk ke dalam rumah dan wajahnya terlihat fresh seperti habis mandi. Mika pun menghampiri Aji dan meraih tas kerjanya.
''Baru pulang ya, Pa, kamu pasti capek akhir-akhir ini sering lembur, mau aku siapkan makan?'' tanya Mika dengan lembut. Dia akan bermain dengan cara yang santai.
''Iya sayang, aku capek. Sekarang mau istirahat dulu, aku sudah makan!" jawab Aji dan ia berlalu menuju kamar di ikuti Mika di belakangnya sambil menenteng tas kerja dan menyimpannya di tempat biasa.
Saat Aji hendak membuka kancing kemejanya, Mika dengan sigap mendahului gerakan tangan Aji. Sehingga ia yang membukakan kancing tersebut. Dengan gerakan pelan dan tatapan menggoda Mika menatap Aji. Setelah selesai membuka kancing, Mika mengelus dada bidang Aji dengan jari lentiknya. Tangannya menyapu rahang serta leher Aji, dan itu sukses membuat sesuatu dalam diri Aji menjadi bangkit.
Aji menangkup wajah Mika dan hendak melayangkan ciuman ke bibir Mika. Namun, Mika langsung menghindar dan tangannya bergerai mengeluss senjata si Aji yang terasa sudah keras. Mika terus merang sang tubuh Aji dengan gerakan yang membuat Aji tidak tahan.
''Boleh ya sayang!'' suara Aji sudah terdengar berat dan sangat menginginkan sesuatu. Setelah berhasil membuat Aji seperti itu. Mika menghentikan aksinya dan ia keluar dari kamar.
Aji menarik lengan Mika dan menarik pinggangnya lalu ia mengelus punggung Mika, ia berniat untuk memberi rangsangann pada tubuh Mika. Namun, Mika langsung menolaknya.
''Stop! aku ingim makan, kamu istirahatlah!" Mika langsung keluar dari kamar menuju dapurnya.
"Yah!!, sayang, gimana nasib si panjulku ini. Dia ingin memasuki rumahnya sayang" rengek Aji dan mengejar langkah Mika. Tetapi Mika tak perduli.
Mika sedang menggoreng telur seperti biasanya dan setelah matang, ia langsung menyantapnya. Ia sudah menunggu suaminya dari sore tadi tapi malah sudah makan duluan.
"Sayang, setelah makan bantuin ya..." Aji datang memeluk Mika yang sedang duduk menikmati makanannya.
"Urus aja sendiri, aku sedang lelah!" ucap Mika dengan santai.
__ADS_1
"Kamu udah mancing-mancing dan bangunin si panjul kok malah di anggurin sih sayang, ayolah.." Aji mengecup leher Mika dan meremes gunung kidul milik milik Mika.
"Aku sedang ingin menikmati makananku yang hanya lauk telur ini. Awas!!" Mika menyingkirkan tangan Aji yang sedang bermain-main di tubuhnya.
"Setelah panjulku tenang, kita keluar cari makan ya" Aji mencoba membujuk Mika.
"Enggak usah! kan kamu sudah makan enak di luar tadi. Ngapain keluar lagi, aku sudah terbiasa kok makan yang beginian!" sinis Mika. Bukan tidak ingin makan yang lain. Tetapi, entah mengapa kalau belum makan telur ceplok hati Mika belum puas.
Aji kembali ke dalam kamar untuk menenangkan senjatanya, lalu ia masuk ke kamar mandi. Dan bersolo karir di dalam sana.
Sudah satu jam Aji berada di dalam kamar mandi. Namun, si panjul tak kunjung ingin muntah. Tangannya pun sudah lelah memberikan terapi khusus bahkan sabunnya pun sudah habis satu batang.
Aji akhirnya menyerah dan kembali ke kamar, dilihatnya Mika sudah tidur dengan gaya miring dan bokongnya di tonjolkan ke belakang. Itu sukses membuat Aji semakin panas. Perlahan Aji mendekati Mika dan menyentuh bokong itu.
Plakk!!
Tangan Mika memukul dengan keras tangan Aji yang meremes bokongnya. Matanya tetap terpejam.
"Nyamuk!" ucap Mika. Dan ia menaikkan selimut hingga menutup semua tubuhnya.
Aji merasakan panas di tangan akibat pukulan Mika yang yang sangat keras. Ia sangat yakin kalau Mika belum tidur.
Aji masih terus berusaha untuk mendapatkan jatahnya agar si panjulnya bisa tenang. Karena tidak biasanya si panjul tidak menurut. Namun, lagi-lagi Mika menepis tangan Aji yang akan beraksi di tubuhnya.
"Sayang, kamu kenapa sih!" ucap Aji dengan kesal. Ia sudah tidak tahan sedari tadi kena keplakan terus menerus saat akan menyentuh tubuh Mika.
"Sorry! aku tidak sengaja. Aku kira ada nyamuk nakal!"
-
-
__ADS_1
Entah nyambung entah enggak part ini. Konsentrasiku buyar seketika!