Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 57


__ADS_3

Mika dan Meisya langsung berpelukan begitu mereka bertemu. Bagas yang mengantar Meisya pun berpamitan biar mereka bisa mengobrol dengan bebas.


''Sayang, aku tinggal dulu, ya. Nanti kalo udah selesai, kabarin!'' ujar Bagas.


''Oke!'' Meisya hanya mengacungkan jempolnya.


''Wah, sudah jadian ya kalian? kok gw nggak dapet traktiran!'' sindir Mika dan di balas dengan gelak tawa oleh Meisya. Mereka pun duduk dan mulai bertukar cerita.


Angin sore yang sepoi-sepoi menerpa wajah dan rambut dua manusia yang sedang duduk di bangku taman sambil bercerita dari A sampai Z. Hingga mereka sampai di titik pembahasan terakhir.


''Mi, sebenarnya ada hal apa? lu jangan sembunyiin apa pun dari gw.'' Tutur Meisya.


''Hufftt! gw cuma masih bingung aja sama ucapan Mas Anwar siang tadi, gw pengen banget ketemu sama Vivi buat mastiin semuanya. Tapi, ge nggak diijinin!'' keluh Mika.


''Emangnya, pak bos ngomong apa?'' Meisya semakin penasaran.


''Katanya, Vivi nyuruh gw buat rawat anaknya dia!''


''Hah!!'' Meisya melongo. ''Apa dia udah gila, Mi?!'' lanjutnya.


''Aduh! jangan shock begitu, dong. Biasa aja kali, walaupun sejujurnya gw juga kaget banget!'' sahut Mika.


''Terus, lu bilang apa?'' tanya Meisya.


''Gw belum bilang apa-apa, karena gw mau ketemu dulu sama Vivi buat cari tau kebenarannya. Gw juga penasaran banget sama kondisi dia yang sekarang!'' tandas Mika.


''Iya, Mi. Tuh perempuan udah pas banget dapet karmanya. Seneng gw sekarang!'' jawab Meisya.


''Husst! mulut lu, Mei! Nggak ada tulangnya!'' sanggah Mika.


''Lidah kali yang tak bertulang!'' sungut Meisya.


''Jadi, gimana menurut, lu?'' tanya Mika.


''Emm, biarin aja tuh bayi di urus sama bapaknya. Kan ada bapaknya!'' ungkap Meisya.

__ADS_1


''Iya juga, ya. Kenapa harus gw yang repot?!'' Mika tersadar.


''Nah! makanya, lu nggak usah pusing-pusing mikirin orang lain. Pikirkanlah kebahagiaan diri lu sendiri,'' cerocos Meisya.


''Oh, iya! Gimana hubungan lu sama pak Anwar. Apakah ada perkembangan?!'' goda Meisya.


''Apaan, sih! kita biasa aja kali. Gw nggak mau ngejalin hubungan serius. Selama ini gw cuma berteman baik, gitu aja!'' terang Mika.


''Apa?, lu belum mau membuka hati lu buat nerima cinta yang baru?'' selidik Meisya.


''Hahah! buka hati itu nggak segampang lu buka BH, Mei! gw nyaman seperti sekarang.'' ujar Mika.


''Oh, baiklah! pak Anwar keliatannya tulus banget sama lu, dia keliatan kalo cinta banget sama sahabat gw ini!'' Meisya merangkul Mika.


Degghh


Jantung Mika bergetar mendengar celoteh Meisya. Selama ini, Mika hanya menganggap semuanya biasa saja tanpa memikirkan tentang cinta. Ia merasa mendapat kenyamanan setelah mengenal Anwar lebih dekat. Sedangkan mantan bosnya itu pun, belum pernah mengungkapkan perasaan atau kata-kata cinta dari mulutnya. Selama ini yang Mika terima adalah perlakuan manis dan juga perhatian-perhatian kecil. Hal itu sudah menjadi satu sisi ternyaman dalam hidup Mika. Anwar tidak lagi seperti dulu yang suka asal menggandeng tangannya. Anwar benar-benar terlihat berubah.


''Hoi! Kok malah bengong, sih!'' tegur Meisya.


''Eh! pulang, yuk! udah mulai gelap, nih.'' Mika mulai beranjak dari bangku yang ia tempati bersama Meisya.


''Udah, jangan bahas soal itu. Gw lagi nggak pengen!'' Mika melangkah menuju ke mobilnya. ''Gw anterin lu aja, ya. Yuk, naik!'' perintah Mika.


Tiin tiin


Suara klakson di belakang mengurungkan niat Meisya untuk membuka pintu mobil milik Mika. Ternyata itu adalah Bagas yang datang tepat waktu untuk menjemput sang kekasih.


''Cie, cie, yang nggak bisa lepas jejak barang sebentar,'' goda Mika. Meisya hanya tersipu di godain oleh sahabatnya. Sedikit perasaan gundah mulai memudah setelah kita bercerita pada sahabat yang kita percaya.


''Apaan, sih! gw sama dia aja, ya. Lain kali kita jumpa lagi. Bye!'' Meisya berpamitan dan melambaikan tangan pada Mika.


***


Vivi baru saja selesai dipindah keruang peratan, sama halnya dengan Aji. Hanya saja mereka berbeda ruangan. Vivi yang sudah sadar sedang ditunggui oleh Anggi.

__ADS_1


Dengan suara lemahnya, Vivi menanyakan kabar suami dan juga anaknya yang sudah dilahirkan secara caesar. Kepala yang di perban dan juga tangan yang dipasangi gips karena mengalami patah tulang. Belum lagi tulang punggung yang bergeser, membuat Vivi sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Hanya mata dan mulut yang bisa bergerak bebas.


''Gimana keadaan suami Kakak, Nggi?'' suara serak Vivi terdengar lemah di telinga Anggi.


''Kakak jangan fikirkan yang lain, suami Kakak baik-baik saja. Jadi, fokuslah ke kesembuhan Kakak dulu, ya.'' Ujar Anggi. Ia sangat prihatin dengan kondisi Vivi saat ini. Begitu mengenaskan dimatanya.


''Bagai-mana dengan-bayi Kakak, ap-a baik-baik saja? Mika, maukan merawatnya?'' tanya Vivi dengan suara terbata-bata.


''Untuk itu, kak Anwar sudah memberi tau ke kak Mika,'' tutur Anggi.


''Ap-a dia ti-dak mau merawat bayiku?'' tanya Vivi. Ia menitikkan air mata. Ia sudah menduka bahwa Mika tidak sudi merawat buah hati yang sudah ia kandung dari benih mantan suaminya. Kondisi yang belum memungkinkan Vivi untuk banyak berbicara apalagi berfikir yang berat-berat membuat kondisi Vivi kembali melemah. Ia tak sadarkan diri lagi. Dengan cepat Anggi memannggil dokter yang sedang bertuga.


''Dok, tolong kakak saya!'' seru Anggi saat dokter akan masuk ke ruangan Vivi.


''Baik, tolong tunggu di luar, kami akan memeriksanya!'' jawab sang dokter. Anggi hanya menurut dan ia menunggu di luar ruangan.


Setelah beberapa saat, dokter yang sudah selesai memeriksa keadaan Vivi keluar dari ruangan dan menghampiri Anggi.


''Bagaimana, Dok?'' tanya Anggi yang tidak sabaran.


''Kondisi pasien kembali menurun, saya harap, jangan membuat pasien berfikir yang bisa menurunkan semangatnya. Berilah penyemangat dan jangan sampai stres. Itu sangat berpengaruh sekali,'' terang pak dokter yang memeriksa Vivi.


''Baik, Dok. Terimakasih,''


''Kalau begitu, kami permisi,''


Dokter tersebut berlalu meninggalkan Anggi yang masih berdiri didepan pintu ruangan. Tak berselang lama, Anwar datang menghampiri Anggi.


''Bagaimana, Nggi?'' tanya Anwar saat tiba.


''Kak,'' Anggi mengajak kakakanya untuk duduk. ''Kondisi kak Vivi menurun kak,'' ucap Anggi dengan pelan.


''Huft, Aji juga belum sadar sampai sekarang.'' Sahut Anwar. Ia menyandarkan tubuh lelahnya pada kursi. Ia sudah menghubungi keluarga Vivi yang lain. Namun, tak ada satu pun yang perduli. Sang kakek yang menyayangi Vivi sudah tak bisa bepergian jauh. Tubuh renta dan sakit-sakitan membuat sang kakek memilih untuk tetap di rumah. Ia mempercayakan semua pada Anwar. Sementar ayah Vivi yang memang sudah stroke hanya bisa memberi doa untuk putri yang tak pernah menghargai ia sebagai ayah.


-

__ADS_1


-


Maaf jika ada kekurangan ya, terimakasih buat kalian yang selalu setia menanti cerita ini.


__ADS_2