
Bab 90
Panik
''Ayo, Yah. Kita naik ke kamarnya Mika.'' Bu Dina dan pak Rizal segera beranjak menaiki tangga menuju ke kamar Mika. Mereka ingin segera mendapatkan informasi yang akurat dari sebab hilangnya putri mereka. Meski sudah dewasa, tapi pemikirannya tidak demikian.
''Yah, ini dua raknya kosong.'' Bu Dina kaget saat melihat satu lemari yang menurutnya tidak penting ia bentangkan denga lebar.
''Memangnya apa isinya Bu?'' pak Rizal mengernyitkan sebelah alisnya.
''Sprei lah Yah, ini kan lemari khusus selimut sama sprei buat ganti penutup kasur.'' ucap abu Dina sedikit kesal.
''Lalu apa hubungannya, Bu sama sprei-sprei itu?'' pak Rizal mendengus kesal sambil mengusap rambutnya yang mulai ada sedikit uban.
''Ayah pernah nonton sinetron nggak, yang anaknya suka kabur lewat jendela pakai tali.'' terang bu Dina.
''Lalu?'' pak Rizal masih belum paham maksud istrinya itu.
''Ihhh, Ayah lemot banget sih mikirnya, coba liat ke jendela sana. Ada nggak spreinya menggantung di besi balkon. Siapa tahu Mika kabur lewat sana.'' desak Bu Dina tak sabaran lagi.
Pak Rizal pun akhirnya paham apa yang sedari tadi di jelaskan oleh sang istri mengenai putri semata wayang mereka.
''Ayo kita turun dan keluar Bu, kita kebelakang sekarang.'' panik pak Rizal dan segera menatik lengan bu Dina untuk menurut padanya.
Dua paruh baya itu pun kembali menuruni tangga untuk segera sampai di belakang rumah mereka, setibanya di sana pak Rizal dan bu Dina melihat jejak serta rerumputan bekas di lewati.
''Ternyata dia lewat sini,'' ucap pak Rizal yang melihat bekas jejak itu.
__ADS_1
''Iya Yah, padahal kan ini semak. Bikin gatal juga, ayo kita susul lewat sini. Siapa tahu masih sembunyi dekat sini.'' usul bu Dina dan ikut melewati rerumputan itu sampai di pintu belakang.
Pintu itu pun sudah tidak tertutup rapat seperti saat sebelum di lewati. Kedua orang tua Mika pun akhirnya kelelahan karena faktor usia juga. Mereka memutuskan kembali dan ingin segera menghubungi Anwar untuk memeberi kabar soal ini.
Sementara di luaran jalan yang sedang hingar bingar karena sudah memasuki waktu malam. Para pekerja pada pulang menuju ke rumah masing-masing. Anwar baru saja keluar dari sebuah gedung kepolisian. Ia tengah membuat sebuah laporan penculikan.
Ia pun pulang kembali dengan perasaan senang. Pasti rencananya ini akan berhasil dan akan segera bisa bersama dengan istrinya kembali.
***
Dua hari kemudian, Mika merasa bisa bernapas lega. Ia baru saja selesai memasak mie instan di rumah baru untuk ia makan bersama Aji. Ia juga merasa aman di tempat yang sekarang.
"Kamu mau bawa makanannya ke mana sayang?" heran Aji yang melihat Mika membawa piring menuju ke luar.
"Kita makan di depan teras yuk, di sini kan suasanya adem karena banyak pohon-pohon. Sambil liat-liat buah mangga di depan rumah. Siapa tahu ada yang mateng," tukas Mika serata melenggang keluar.
Ah, sekarang kan Mika sudah bersamaku, kenapa aku malah merasa khawatir seperti ini. Ayo Aji, kamu tidak boleh berfikir tentang hal-hal yang bukan bukan dan berujung membuatmu rugi sendiri.
Aji menggelengkan kepala saat pikiran buruk menyerang pikirannya. Ia merasa akan berjauhan dengan Mika dalam waktu dekat. Tapi pikiran negatif itu segera ia tepis dan menyusul Mika yang sudah lebih dulu di depan rumah.
Mika membentang karpet plastik di teras dan duduk bersila di sana. Dua piring mie instan yang tadi ia masak sudah tersaji di hadapannya. Wajahnya sedikit merengut karena Aji lama sekali menyusulnya.
"Lama banget sih, ayo buruan udah laper nih." Mika bersedekap dan memasang wajah juteknya.
Aji tersenyum simpul dan duduk di hadapan Mika. Selama dua hari ini tinggal di rumah tersebut, mereka makan apa adanya. Untuk keluar mencari menu lain masih takut jika sewaktu-waktu mereka di cari oleh keluarga Mika.
Beruntungya, Beni teman lama Aji semalam membelikan mereka makanan instan untuk persediaan selama ia pergi mengurus masalahnya di luar. Beni sedang ada urusan darurat mengenai bisnis haramnya ke pelabuhan. Kabarnya, anak buahnya di tangkap polisi karena ada cepu di antaranya.
__ADS_1
"Pa, kita jalan-jalan deket sini yuk, aku bosen di dalam rumah terus." rengek Mika dengan manja. Malam yang sunyi ini, sepasang manusia yang di takdirkan untuk berpisah itu berencana untuk keluar.
"Mi, kamu pakai jaket tebal ini ya, terus juga pakai masker." ucap Aji dan menyodorkan masker ke hadapan Mika.
"Buat apa sih, kan malem juga. Nggak akan ada yang liat lah. Kan daerah sini sepi Pa..." tolak Mika yang tak ingin menurut perintah Aji.
"Buat jaga-jaga, nanti kalau tiba-tiba ada yang kenal dan kita tertangkap malah bahaya." Aji memasangkan jaket tebal itu ke tubuh Mika. Dengan terpaksa Mika pun memakainya.
Ia baru sadar, saat kabur dari rumah Mika tidak memakai sandal. Tapi beruntungnya kakinya tidak terluka sedikit pun saat lewat semak-semak kemarin.
"Tapi, aku nggak ada sendal... Masak nyeker," Mika memonyongkan bibirnya dengan menggemaskan. Ingin sekali Aji menarik bibir itu dan mengecupnya.
"Pakai sepatu aku aja, untung ada sendal jepit di dalem mobil. Aku ambil dulu ya," Aji menarik bibir itu dan mengecupnya secepat kilat. Lalu ia berlari keluar untuk mengambil sendal di dalam mobil.
Mika merasakan pipinya menghangat karena baru saja mendapat serangan jantung mendadak. Ia sudah lama tidak mendapat ciuman seperti itu dari Aji. Pipinya pun merah merona dan tersipu malu, ia memegangi bibir tipisnya itu.
Sementara menunggu, Mika memilih untuk duduk di sofa seraya membuka buku majalah lama yang tersedia di meja tersebut.
Sedangkan Aji, masih mencari-cari sendalnya di bagasi tapi tidak ia temukan di sana. Aji berusaha mengingat-ingat di mana dia meletakkan sendal miliknya. Ia mencari ke bagian depan juga tapi tidak ketemu.
"Huh, ternyata nggak ada, ya sudahlah. Nanti cari saja warung dekat sini." ujar Aji dan menutup kembali bagasi mobilnya. Saat mengibaskan dua tangannya dan hendak membalik badan. Ada dua orang berpakaian intel menghampiri Aji.
"Selamat malam, pak." sapa salah satu dari pria itu. Aji sangat terkejut mendengar sapaan dari dua orang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Kami membawa surat perintah penangkapan terhadap saudara Aji Pamestu. Anda di harapkan ikut kami ke kantor." salah satunya lagi langsung mencekal lengan Aji dengan kuat.
"Maaf, pak. Ada apa ini, kenapa bapak-bapak ingin menangkap saya?" bingung Aji yang tubuhnya di bawa dengan paksa.
__ADS_1