Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 41


__ADS_3

Tiga bulan sudah berlalu masa sulit Mika untuk menata hatinya, serta ia juga berusaha membuang masa lalunya ke tong sampah. Kini, Mika telah berhasil membuat pabrik kopi tersebut lebih maju dan mendunia. Mika menjadikan Bagas sebagai asisten pribadinya, serta siap menggantikan Mika jika ia berhalangan.


Sementara untuk Aji sendiri, ia masih tetap pada posisinya yaitu sebagai kepala gudang. Vivi sendiri sudah tidak lagi berada di sana. Ia sangat sakit hati dan menyimpan dendam pada Mika. Karena posisinya yang tergantikan, Vivi awalnya mengamuk karena sang kakek tidak memberikan kabar padanya terkait masalah pabrik tersebut.


Saat ini, Vivi tengah mengalami stres karena ia masih tidak terima kakeknya menjual pabrik tersebut. ''Kakek enggak sayang sama Vivi, kakek jahat'' isak tangis Vivi terdengar pilu. Ia sedang meringkuk di atas tempat tidurnya.


''Hahaha, Mika ... lu liat aja, gue akan rebut kembali tempat itu! gue akan bales semua perbuatan lu, hahaha!'' Vivi tertawa dengan kencang, kemudian meredup dan kembali menangis dengan lirih.


Sesaat kemudian, Vivi berdiri dan menghadap ke cermin. Rambutnya sudah lebih kusut dari bulu singa yang habis bertarung, membuat penampilannya mirip pasien di rumah sakit jiwa yang kabur dari pengobatan. Ia berjalan perlahan mendekati cermin sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Daster yang ia kenakan sebatas lutut, ia pentangkan dan kemudian ia berputar ke kiri dan ke kanan. Melenggok sejenak sambil memperhatikan tubuh kurusnya.


''Aku masih tetap cantik, Aji saja bisa aku dapatkan dari tangan kamu Mika, apalagi pabrik yang sudah ku kelola dari dulu. Se enaknya saja kakekku menjualnya pada ayahmu. Lihat saja, apa yang aku lakukan nanti di kantor mu itu, hahaha!'' ucap Vivi dengan tatapan sinis pada bayangan dirinya sendiri.


Kondisi Vivi benar-benar memprihatinkan. Sudahlah stres karena hartanya hilang dari tangannya, perutnya pun membawa kehidupan baru yang tak berdosa. Di tambah lagi suaminya yang sering memarahinya karena ia sering mengacak-acak isi rumah. Pembantu Vivi yang setia bekerja dengannya bahkan belum menerima gaji selama dua bulan terakhir. Tetapi, bik Rumi masih setia dan sabar dengan keadaan nonanya.

__ADS_1


Sore hari, Aji baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan ia hendak menemui Mika, istri pertamanya. Ia ingin meminta penjelasan pada Mika soal surat cerai yang baru saja ia terima. Ia tidak ingin bercerai dengan Mika.


''Mi, kita harus bicara...'' Aji menghampiri Mika yang baru saja keluar dari ruangannya di ikuti oleh Bagas. Mika menghentikan langkahnya sejenak, dan Bagas mendahuluinya.


''Sudah nggak ada lagi yang perlu di bicarakan, semua sudah jelas. Maaf, aku sedang banyak urusan. Permisi!'' tegas Mika dan berlalu meninggalkan Aji. Tak ingin kehilangan kesempatan, Aji segera mengejar langkah Mika hingga di parkiran.


''Mi, kasih aku kesempatan, Mi...'' Aji hendak meraih tangan Mika yang akan masuk ke dalam mobilnya. Namun, Mika segera menghindar dan langsung masuk ke dalam mobil, lalu tancap gas. Mika melirik dari balik kaca spionnya sebelum keluar dari pagar beton. Terlihat olehnya Aji yang tak menerima perlakuannya.


''Mikaaa... arrgghhh!!'' Aji berteriak kesal. Ia menendang ban mobil yang sedang terparkir anteng tanpa ada salah apapun, kini menjadi tempat pelampiasan kekesalan seorang Aji.


Akhirnya Aji memutuskan untuk pulang. Setelah sampai di rumah, ia melihat keadaan kamarnya yang bak kapal pecah. Selimut serta bantal yang tak berada di tempatnya. Pakaian yang ada di lemari pun berserak ikut memenuhi isi ruang kamar tersebut. Aji langsung mencari keberadaan Vivi dan meneriakkan namanya.


''VIVI!! VIVI!!'' teriak Aji sembari memeriksa isi kamar mandi. Namun, ia tak menemukan Vivi di sana. Ia pun membuka pintu balkon dan mendapati Vivi yang sedang duduk manis sambil menggigit kecil kuku-kukunya.

__ADS_1


''Heh!! tidak bisakah kau sehari saja tidak mengacak-acak isi rumah ini, hah!!'' bentak Aji dengan mencengkram dagu Vivi.


''Sayang, kamu sudah pulang'' Vivi langsung memeluk tubuh Aji. Ia tidak perduli bahwa sang suami memarahinya.


''Jawab!!'' Aji kembali berteriak dan melepaskan dengan paksa rengkuhan lengan Vivi pada tubuhnya.


''Heheh, iya, aku akan bereskan!'' ucap Vivi yang akal sadarnya sedang ada pada raganya.


Vivi pun keluar kamar memanggil asisten rumah tangganya untuk merapikan isi kamarnya.


-


-

__ADS_1


-


Semoga kalian enggak bosen sama tulisanku ya, udhlah muter-muter nyari ide, nemunya yang begini. Maaf kalau enggak sesuai dengan harapan kalian. Kiss


__ADS_2