Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 110


__ADS_3

Bab 110


Semangat Baru


Anwar berjalan mengitari mengitari tubuh Mika yang berdiri sambil berkacak pinggang. wajahnya cemberut karena tidak suka dengan sikap sang suami yang sedikit-sedikit membatasi pergerakannya. Anwar memang sedikit posesif karena memikirkan keselamatan sang istri dan juga calon buah hatinya. Meski kehidupan mereka di awali dengan rasa biasa saja karena hanya Anwar saja yang mencintai Mika. Mika masih belum bisa mencintai Anwar seperti dia mencintai Sang Mantan.


Sorot mata Mika menatap setiap pergerakan Anwar dengan begitu tajam seperti tatapan mata elang.


''Kamu ngapain sih, Mas. kurang kerjaan aja,'' ujar Mika yang mulai kesal menunggu.


Anwar masih belum juga mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan saat ini. karena dia pun sedang berpikir, Anwar tidak ingin Mika kelelahan dan banyak pikiran nantinya.


''Yang pertama,'' Anwar mengacungkan jari telunjuknya. ''Kamu tidak boleh mengangkat beban berat di atas satu kilo gram.'' Anwar menatap intens pada Mika yang menyimak ucapannya.


''Yang ke dua, kamu tidak boleh berpikir keras tentang apa pun, dan yang ke tiga, kamu tidak boleh kelelahan.'' Anwar kembali duduk di kursi kebesarannya.

__ADS_1


''Aku tidak setuju dengan syarat yang nomor dua,'' sanggah Mika. Dia sangat keberatan karena di larang untuk berpikir. Bagaimana bisa melakukan sesuatu tanpa harus di pikirkan dengan baik dan matang. Bagaimana jika sesuatu yang buruk bisa saja terjadi jika tidak di pikirkan apa saja yang benar dan apa saja yang tidak di perlukan dalam bertindak.


Begitulah pikiran Mika saat ini terhadap Anwar. Dia menyela dan protes dengan syarat sederhana yang Anwar berikan. Padahal dia tidak perlu melakukan apa-apa saja sudah membuat Anwar tenang. karena sudah di pastikan sang istri akan baik-baik saja.


''Kenapa?'' tanya Anwar.


''Bagaimana bisa bekerja tanpa berfikir, Mas?'' protesnya tidak terima pendapat Anwar.


''Kamu tinggal perintahkan saja orang yang kamu inginkan untuk berpikir,'' ujar Anwar. Begitulah pemikiran Anwar, dia benar-benar sangat menyebalkan menurut Mika. Syarat yang sangat tidak bebobot di berikan padanya.


Mika mendelik mendapati sang suami bertindak seperti itu. Pasti Anwar akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Dia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena saat ini mereka sedang berada di tempat kerja.


''Nggak mau!'' tolak Mika dengan mentah. Wanita itu tetap keras kepala dengan keteguhannya. Mika tetap di posisinya tanpa mau beranjak walau hanya selangkah.


''Nanti kaki kamu pegel, sayang. Ayolah, menurut. Menolak perintah suami kamu berdosa, loh!'' ancam Anwar. Dia menyeringai

__ADS_1


Membuat Mika memutar bola matanya dengan malas.


''Come on baby, come here, please...'' bujuk Anwar dengan tatapan memelas.


''No!'' kata Mika. Dia menggelengkan kepala di iringi jarinya yang bergerak pelan ke kanan dan ke kiri.


Mika pun berbalik badan dan siap keluar dari ruangan Anwar. Dia ingin melihat-lihat tatanan pakaian yang ada di pajangan. Rindu sekali rasanya mengganti pakaian di boneka patung itu.


Mika mendekat ke arah salah satu staf yang sedang menyusun pakaian model baru di hanger.


''Kamu! Siapa nama kamu?'' tanya Mika begitu sudah dekat dengan salah satu staffnya.


''Eh, Saya Talia, Bu.'' Talia langsung berdiri hormat pada Mika. Dia merupakan staff baru di tempat tersebut.


Mika menatapnya dengan tatapan menyelidik, dia penasaran karena gadis itu sibuk membolak balik beberapa pakaian yang baru saja di pajangnya.

__ADS_1


__ADS_2