Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
127


__ADS_3

''Kak, aku mau balik aja ke luar negeri. Udah bosen di sini,'' ucap Anggi saat mereka tengah menikmati sarapan pagi.


''Loh, kenapa?'' heran Anwar.


''Nggak apa, aku udah cukup puas di sini dan pengen ke sana lagi. Biasalah, di sana ada objek baru untuk aku ngonten nanti,'' ujar Anggi menerangkan.


''Loh, kamu nggak mau nunggu ponakan kamu lounching dulu,'' timpal Mika.


''Ah iya, itu gampang. Kan masih lama dede bayinya lounching. Nanti aku akan balik lagi ke sini kalau Kakak udah mau lahiran. Tapi janji, kasih kabar langsung ke aku kalau sudah mendekati. Biar nanti aku bisa langsung terbang,'' pinta Anggi panjang lebar.


''Sepi dong nggak ada kamu, Kakak sama siapa di rumah?'' ucap Mika dengab nada sedih.


''Kan kak Anwar kerjanya dari rumah, Kakak nggak akan kesepian,'' ujar Anggi.


''Itu beda, tapi nggak apalah. Kamu baik-baik di sana, kan kamu di sana juga kerja,'' ucap Mika yang akhirnya memahami.


Anggi memutuskan untuk kembali lagi ke luar negero karena keinginannya untuk bertemu dengan seseorang yang waktu itu tidak membuahkan hasil.

__ADS_1


Dia bukanlah type gadis yang akan berlarut dengan satu objek. Maka kembali ke tempat semula adalah pilihannya yang terbaik.


Sarapan pagi itu cukup menyenangkan meski ada rasa kesedihan karena mereka tak bisa berkumpul lagi seperti saat ini.


Usai sarapan pagi, Anwar pun langsung menuju ke ruangan kerjanya. Mika dan Anggi akan menghabiskan waktu berdua sebelum adik iparnya itu terbang ke luar negeri.


Saat ini mereka tengah berada di toko tanaman hias. Mika mengajak Anggi untuk membeli tanaman bunga. Di sambil mengobrol dan juga merayu agar adik iparnya itu tidak buru-buru untuk berangkat.


''Kak, bunga itu juga cantik. Beli yuk!'' seru Anggi dengan berlari kecil menghampiri bunga anggrek warna ungu putih.


Puas melihat dan membeli bunga yang mereka sukai akhirnya mereka kembali pulang ke rumah.


''Nggi, kamu yakin mau berangkat besok?'' tanya Mika memastikan. Sesungguhnya dia tidak rela jika Anggi berangkat secepatnya.


''Iya kak, Kakak kan lahirannya masih dua bulan lagi. Masih lama,'' ujar Anggi.


''Tapi dede bayinya pengen kamu tetep di sini sampai dia lounching, gimana dong... Kamu tega mau pergi gitu aja?'' pinta Mika dengan wajah memelas.

__ADS_1


Mika mengusap pelan permukaan perutnya yang buncit berusia tujuh bulan. Dia sangat berharap ingin terus di temani oleh sang adik agar tidak kesepian.


''Tapi jadwal rencana kerjaanku itu akan segera di mulai beberapa hari lagi. Aku harus mempersiapkan segalanya dengan waktu yang singkat ini, Kak,'' terang Anggi. Niatnya memang sudah bulat.


Mika masih terus berusaha agar Anggi tetap di sini. Dia tidak ingin berjauhan dengan sang ipar karena mereka sudah sangat cocok.


''Please,'' mohon Mika dengan mengiba.


Anggi yang melihat raut sedih di wajah Mika pun merasa jadi tak tega untuk meninggalkannya. Padahal niatnya untuk meninggalkan rumah ini agar tidak ingat dengan mimpinya yang selalu datang dengan keadaan yang sama kasusnya. Lalu dia harus berakhir jatuh dari tempat tidur.


Mika melihat wajah Anggi berubah sedikit mendung akhirnya ingin mengalah saja. Di genggamnya tangan gadis itu dan meletakkan bunga yang di pegang olehnya ke meja.


''Ini adalah moment pertama dalam hidup Kakak, ini juga adalah kehamilan pertama. Kakak ingin orang-orang yang kusayangi ada di sekelilingku. Dan kamu adalah orang yang Kakak sayang sejak awal kita dekat dan nyaman saat mengobrol bersama kamu,'' ucap Mika panjang lebar berharap Anggi bisa mengerti dengan keinginannya.


Anggi membalas genggaman tangan Mika yang terasa begitu erat seakan memang dia tidak mau di tinggal. Gadis itu pun menghela napasnya panjang.


''Aku akan kasih keputusan setelah kita pulang ke rumah,'' tukas Anggi kemudian.

__ADS_1


__ADS_2