Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 8


__ADS_3

Pakaian sudah tersusun rapi di dalam koper, siap dibawa oleh pemiliknya.


"Bagaimana bu, apakah sudah siap" tanya pak Rizal kepada istrinya.


"Sudah yah, ayo kita berangkat sekarang. Nanti malah kesiangan" jawab bu Dina istri Rizal.


"Ayo!!"


Mereka keluar dari rumah miliknya dan naik kemobil yang akan membawa mereka ke suatu tempat. Mereka sudah sangat rindu ingin segera bertemu dengan darah dagingya yang sudah lama tidak memberi kabar.


Sudah Enam bulan kabar yang di tunggu tunggu tak kunjung tiba, akhirnya mereka memutuskan untuk langsung mengunjungi rumahnya.


Sore hari akhirnya mereka sampai di sebuah rumah minimalis yang sudah lama tak pernah mereka kunjungi. Terakhir kali Dua tahun yang lalu setelah acara pernikahan anaknya.


"Sepi yah, mungkin mereka belum pulang dari kerja," ucap bu Dina sambil duduk di kursi teras sambil menselonjorkan kakinya yang pegal karena lama di perjalanan.


"Iya bu, kita tunggu saja."


Mereka duduk di kursi teras sambil mengamati jalanan, tak banyak kendaraan yang berlalu lalu lalang. Karena memang posisinya didalam gang.


Setengah jam mereka duduk menunggu hingga terasa mengantuk. Tak lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman rumah tersebut.


"Nah, itu dia datang." Dina dan Rizal segera berdiri menyambut pemilik rumah.


"Ayah, ibu. Kok nggak ngabarin kalau mau dateng!" seru Mika sambil menghampiri ibu kandungnya dan segera memberi pelukan kerinduan.


"Ayah kapan sampainya yah?" tanya Aji sambil mencium tangan ayah mertuanya.


"Belum ada sejam kok, kalian baru pulang dari kerja." Tanya Rizal sambil menatap Aji dan Mika bergantian.


"Iya yah, yuk kita masuk dulu kedalam!" Mika segera membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk.


Sementara Aji membantu membawakan koper milik mertuanya masuk kedalam dan langsung ia letakkan di kamar depan.


"Duduk dulu yah, bu. Mika buatkan minum sebentar." Mika segera menuju ke dapur.


Aji menemani kedua mertuanya duduk di ruang tamu sambil menanyakan kabar. Hanya beberapa menit, Mika sudah kembali dengan membawa nampan berisi teh hangat.


"Minum yah, bu." Mika mempersilahkan orang tuanya minum setelah cangkirnya ia suguhkan di masing masing posisi sesuai ayah dan ibunya duduk. Dan ia juga menyuguhkan cangkir untuk suaminya.


"Bagaimana kabar kalian," bu Dina memulai obrolan.


"Kami baik Bu, maaf sudah lama tidak menelpon." Ucap Mika sambil menatap wajah ibunya.


"Syukurlah kalau kalian baik baik saja. Itu sudah cukup untuk ibu. Bagaimana pekerjaan kamu Ji, lancar?" lanjut bu Dina bertanya kepada Aji.


"Lancar kok bu, Alhamdulillah."


Mika pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam, sementara itu Aji yang menemani kedua orang tuanya mengobrol. Tak lama setelah Mika ke dapur, Aji mempersilahkan mertuanya untuk istirahat di kamar.

__ADS_1


"Sebaiknya ayah sama ibu istirahat dulu di kamar. Pasti capek habis perjalanan jauh."


"Oh, iya makasih Ji." Kedua mertuanya itu berdiri.


Lalu mereka menuju kamar yang akan mereka tempati untuk menginap, Aji mengantarkan hingga ke depan pintu kamar.


"Aji mau ke kamar dulu ya bu, ayah sama ibu kalau perlu sesuatu langsung panggil Aji ya."


"Iya Ji, terimakasih. Ibu akan istirahat dulu."


Setelah menutup pintu Aji menuju kekamarnya, ia segera mandi. Setelah selesai berpakaian. Ia kedapur untuk melihat istrinya.


"Masak apa Mi?" Aji berjalan mendekat.


"Semur ayam aja Pa, yang simple" jawab Mika sambil menuangkan masakannya ke mangkuk saji.


Aji membantu istrinya itu mempersiapkan peralatan makan ke meja makan. Setelah selesai memasak, Mika pergi kekamarnya untuk mandi.


……


Malamnya mereka makan bersama diselingi obrolan obrolan ringan.


"Apa setiap hari kalian begini?" tanya bu Dina setelah selesai makan dan menaruh sendoknya ke piring.


Aji dan Mika saling pandang. Bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan ibunya.


"Maksud ibu, apa kalian setiap hari bekerja hingga sore, dan bertemu hanya malam begini." Bu Dina menjelaskan ucapannya.


"Iya bu," jawaban kompak diberikan oleh Mika dan Aji bersamaan.


"Hmm" sang ibu menghembuskan nafas sejenak.


"Apa kalian belum kepingin punya momongan"


Pertanyaan yang membuat keduanya terdiam beberapa saat.


"Kalian sudah Dua tahunkan menikah," sambung pak Rizal.


"Itu,..." Mika menghentikan makannya lalu meminum air putih yang ada di depannya.


"Kami masih fokus menabung dulu bu," sambungnya kemudian.


"Ibu sebenarnya, sudah kepingin sekali menimang cucu Mi" ucapnya dengan nada sedih.


"Ayah juga Mi," sahut pak Rizal.


Mika nyengir mendengar rengekan kedua orang tuanya itu.


"Ayah dan ibu tenang aja ya, kita Minggu depan akan berbulan madu. Semoga nanti pulangnya bisa mendapat kabar baik" Aji mencoba menyenangkan hati mertuanya.

__ADS_1


Mika langsung menatap Aji dengan tatapan kurang setuju. Dan Aji pun mengkodenya dengan menganggukkan kepalanya.


"Iya bu, nanti kita akan berbulan madu." Jawab Mika membenarkan ucapan Aji.


"Wah, bagus itu!" sang ayah langsung sumringah.


"Baiklah kalau begitu, ibu sangat mendukung. Kalian itu jangan kerja terus."


"Ayah sudah mempersiapkan sesuatu untuk kalian. Tapi, itu kalau kalian bersedia"


"Apa itu yah," Mika langsung penasaran.


"Nanti kalau kalian sudah memberi kabar baik itu, akan ayah beri tahu."


Mika langsung lesu, sejujurnya ia masih ingin menikmati masa masa ini. Nanti kalau sudah punya anak ia tak bebas lagi. Walaupun sekarangpun ia juga tak bebas. Tapi, paling tidak ia tidak merasa repot.


Datang jauh jauh menemui anaknya untuk menanyakan keinginannya agar segera punya cucu. Karena Mika hanya anak satu satunya yang mereka punya.


Setelah usai makan malam, mereka menghabiskan waktu untuk melepas rindu sambil bercerita.


Sementara di lain tempat, Vivi sedang menunggu kedatangan kakak sepupunya untuk bertemu dengannya.


'Saung Kito' tempat mereka bertemu, Anwar berjalan menyusuri tempat Vivi berada. Ia duduk di paling ujung sekali.


"Sudah lama kamu Vi," sapa Anwar begitu sampai di meja yang Vivi tempati.


"Ya lumayanlah, kak An kan selalu sibuk." Ucap Vivi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hahah, ya kamu kan sudah tahu kalau kakak sibuk, kenapa ngajak ketemuan"


"Aku ingin mengobrol lebih leluasa dan santai, dari telepon mana puas kak!" tukas Vivi.


"Ya! ya! belum pesen apapun kamu dari tadi selama menunggu Vi?" tanya Anwar yang melihat mejanya kosong.


"Sengaja sih, Aku nunggu kakak, pengen di traktir!"


Anwar membuka buku menu dan memilih makanan dan minuman, saat ada pelayan yang mendekat segera Anwar memanggilnya.


"Mbak.." Anwar melambaikan tangannya, dan pelayan tersebut mendekat sambil memegang buku catatan kecil.


"Saya pesan sayur asem dan gurami bakar, lalu minumnya jus sirsak." Pelayan tersebut langsung mencatat yang Anwar sebutkan.


"Ada tambahan lagi pak," ucap pelayan itu dengan ramah.


"Vivi, kamu pesan apa?" Anwar menatap Vivi yang hanya membolak balikkan lembaran buku menu tersebut.


"Aku nggak tau mau makan apa," ucap Vivi pada akhirnya sambil meletakkan buku menu tersebut.


"Kalau nggak mau makan ya minum aja, ice lemon tea tambahannya mbak" putus Anwar dan Vivi tak memprotes.

__ADS_1


__ADS_2