
Mengobrol hingga larut malam membuat dua wanita itu terlelap. Semua tercurahkan dan saling memberi dukungan satu sama lain untuk menjadi lebih kuat. Mika senang akhirnya Meisya memutuskan untuk kembali di sini. Semua urusan di kampung halamannya sudah di urus olehnya sebelum dia berangkat.
Sinar mentari masuk melalui celah jendela dan membuat silau mata sang penghuni kamar. Mika mengucel kedua matanya yang masih ngantuk dan merenggangkan otot pinggangnya.
Kedua wanita itu terbangun dari mimpinya dan siap memulai aktifitas hari ini. Mereka bergantian mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Meisya akan ikut Mika ke kantor karena dia tidak ingin di rumah sendirian.
Setibanya di kantor, Mika di kejutkan oleh seseorang yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan posisi membelakanginya.
'Siapa yang sudah berani duduk di kursi singgasanaku?' gumam Mika dan perlahan berjalan mendekat. Suara dari ketukan sepatu yang Mika kenakan membuat orang asing yang duduk di kursi tersebut mengeluarkan suara.
''Kamu sudah datang rupanya,'' ucap seorang dari balik kursi itu dengan posisi tetap membelakangi.
'Sepertinya aku mengenal suara ini, suara wanita yang tidak ingin kulihat wajahnya.' Terka Mika dalam hatinya. Langkahnya pun terhenti dan seseorang itu memutar kursinya dengan cepat menghadap ke arah Mika dan menampilkan senyum sinis serta tatapan mata begitu tajam meremehkan membuat Mika sedikit kaget.
''Surpize!'' Vivi berseru dengan lantang diiringi tawa melihat Mika terkejut.
''Ngapain kamu di sini?'' tanya Mika dengan datar menahan kesal.
__ADS_1
''Emm...'' Vivi meletakkan jari telunjuknya di pelipisnya seolah sedang berfikir, ''ah, ya. Aku di sini tentu ingin tempat ini kembali. Kamu tahu sendiri kan, ini perusahaan siapa yang merintis.'' Vivi perlahan beranjak dan mendekat ke arah Mika. Mika masih terdiam di posisi saat Vivi mulai mengitarinya dengan tatapan mengintimidasi.
''Kamu sudah merampasnya dari tanganku, sebentar lagi kamu tidak akan bisa duduk di kursi ini lagi.'' Vivi mengelus sandaran kursi yang tadi dia duduki dengan pongah.
Jemari Mika sontak mengepal erat menahan rasa kesal pada Vivi yang kini mulai membuatnya bungkam. Pasalnya dia hanya tinggal terima beres dari orang tuanya untuk meneruskan perusahaan yang di berikan padanya.
''Kenapa kamu diam? Takut?'' Vivi memajukan wajahnya dan membelai rambut Mika yang terurai indah di bahunya. Mika sedikit memundurkan muka.
''Dasar kamu wanita tidak tahu diri. Merampas sesuatu yang bukan miliknya dan berkuasa dengan bangga,'' ucap Vivi dengan lantang diiringi tawa mencemooh.
Mika yang sedari tadi mencoba bertahan untuk tidak terpancing emosinya kini mulai memanas. Mika mendekat ke arah Vivi hingga dada mereka saling beradu dan tatapan membunuh menghiasi wajah masing-masing. Aura ruangan yang semula sejuk dan dingin kini terasa sangat panas.
''Kamu lihat kan, siapa orang yang sudah menghancurkan hati seseorang dengan cara merebut jiwa dan raga milik orang lain yang bukan milikmu?'' balas Mika dengan sengit dan melempar cermin itu ke atas meja hingga membuat benda itu retak. Seperti hatinya yang sudah retak akan masalalu yang pernah dia jalani.
Vivi merasa tertampar akan ucapan Mika yang menyerang balik atas ucapannya barusan.
''Apa maksudmu, hah!'' Vivi mulai marah.
__ADS_1
''Jangan pura-pura bodoh Vivi! Harusnya kamu itu yang sadar diri atas apa yang sudah kamu lakukan terhadapku. Kamu belum lupa kan soal beberapa waktu lalu saat kita bertemu di sebuah tempat yang mengikrarkan janji suci antara kamu dan pasanganmu.'' Mika menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia melihat rona Vivi yang merah padam.
''Apa perlu aku ingatkan bahwa kamu itu...PELAKOR?'' Mika menekan kata-kata itu hingga giginya bertumpu atas bawah.
Vivi yang tidak terima di katai pelakor oleh Mika mulai mengangkat tangannya dan hendak melayangkan tamparan, ''sialan kamu, Mika!'' tapi belum sempat tangan itu mendarat di pipi Mika, tangan seseorang menjegalnya dengan erat.
Vivi berusaha dengan kuat melepaskan cengkraman itu dan menatap ke arah siapa pemilik lengan kekar yang sudah mengganggu aksinya.
''Jangan kamu sentuh wajahnya dengan tangan kotormu itu,'' ucap lelaki itu dengan mata yang nyalang.
''Sayang, lepaskan. Kenapa kamu malah membelanya,'' tukas Vivi begitu melihat Aji yang merenggangkan cengkramannya pada pergelangan Vivi.
''Kenapa? Karena kamu tidak pantas. Seharusnya yang melakukan itu justru sebaliknya.'' Aji sudah sangat ingin sekali meremas bibir Vivi yang melukai Mika.
Entah sejak kapan, para staff lain sudah berkerumun menyaksikan drama sengit di pagi hari dengan saling melempar cemoohan yang entah di tujukan pada siapa. Meysa yang tadi pergi membeli sarapan di depan kantor itu pun menerobos paksa kerumunan yang tak seberapa itu.
Sama halnya dengan seorang lelaki yang sedang tergesa dari lain arah ingin segera masuk ke ruangan sang pemilik perusahaan.
__ADS_1
Bagas tak sengaja bertabrakan dengan Meisya meski hanya bahunya. Namun keduanya tak memperdulikan karena lebih fokus pada orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Hanya ucapan maaf yang bersamaan muncul dari bibir mereka tanpa menoleh sedikitpun. Jadi mereka tidak tahu karena saling tidak menyadari.