
Mika terbangun dari tidurnya dan ia memegangi perutnya yang keroncongan, matanya yang baru saja melek, langsung tertuju ke meja nakas yang terdapat kantong kresek di sana. Mika langsung meraihnya dan mengambil isinya.
Roti abon pesanannya langsung ia lahap satu persatu. Kemudian ia menepuk-nepuk dadanya karena mengkelek'an (seret, hampir tersedak).
Mika menepuk-nepuk lengan aji di sampingnya yang sedang tertidur. Setelah itu, Aji melihat Mika yang hampir kehabisan nafas langsung segera mengambilkan air minum.
"Ini, Mi. Pelan-pelan" Aji menyodorkan gelas air minum ke bibir Mika dan langsung di teguk hingga tandas.
"Makasih Pa, kamu mau juga rotinya? tapi, tinggal setengah ini.." Mika mengacungkan roti yang sudah ia gigit dan tinggal setengah.
"Aku masih kenyang, kamu habisin aja" Aji tersenyum melihat tingkah Mika. Setelah itu, Mika langsung melahap sisa roti di genggamannya. Lalu kembali meminta air minum untuk melancarkan tenggorokannya.
Usai makan, Mika kembali menyambung tidurnya yang ter skip. Hingga pagi menyapa kebelahan bumi. Mika banguj dari tidurnya dan merasakan mual. Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Namun, tidak ada yang bisa ia keluarkan. Hanya air dan angin yang keluar dari mulutnya.
Aji yang mendengar suara Mika muntah-muntah langsung bangun, ketika hendak menyusul ke dalam, Mika sudah keluar lebih dulu.
Wajahnya terlihat pucat, dan ia langsung menghampiri Mika dan menuntunnya kembali ke kasurnya. Aji pergi ke dapur untukbmengambilkan air hangat untuk kenetralkan rasa pahit di tenggorokan Mika.
Setelah merasa baikan, Mika menyuruh Aji untuk segera bersiap berangkat kerja.
"Pa, siap-siap gih. Udah siang, nanti kamu telat" ucap Mika sambil menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang.
"Sebaiknya, kamu berobat dulu Mi, biar aku bisa tenang" saran Aji.
"Aku nggak pa-pa kok, bentar lagi juga baikan, tapi maaf, aku nggak bisa bikinin kamu sarapan. Aku masih lemes" tutur Mika.
"Ya udah, aku bersiap dulu. Nanti aku sarapan di simpang aja. Kamu mau aku siapin bubur?" tanyanya.
Mika hanya mengangguk, ia memperhatikan suaminya yang akan segera mandi dan kemudian bersiap. Hingga pintu kamar mandi tertutup dan kembali terbuka kembali karena Aji telah selesai dengan ritualnya.
__ADS_1
"Kamu melamun Mi?" Aji melambaikan tangannya di depan muka istrinya yang terlihat sedang melamun menatap pintu kamar mandi.
"Eh, udah selesai Pa? sini aku pasangin dasinya" Mika menarik lengan Aji yang sedang merapikan kemejanya. Dan ia menyerahkan dasi tersebut ke Mika. Mika memasangkan dasi ke kerah baju Aji yang duduk menghadap ke Mika.
Usai menyiapkan bubur instan ke dalam mangkuk, Aji mengantarkan bubur tersebut ke dalam kamar, tak lupa air putih dan teh hangat juga besisian di nampan yang sedang ia bawa.
"Ini, kamu makan ya. Biar ada tenaga" Aji meletakkan nampannya di sisi Mika, "aku berangkat dulu ya" Aji mendaratkan kecupan di kening Mika, lalu ia meraih ponsel serta kunci motornya.
"Hati-hati Pa" Mika menatap punggung tegap Aji hingga hilang di balik pintu. Mika sedang tidak berselera untuk mengisi perutnya. Ia ganya meminum teh hangat. Perutnya terasa nyaman saat teh hangat tersebut menyapa organ dalamnya.
Aji melajukan motornya hingga sampai ke gang lorong rumahnya, ia sarapan dengan super kilat. Lalu berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor, Aji berpas-pasan dengan Bagas yang juga baru datang. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam dan berpisah di ruang masing-masing.
"Gue masuk dulu, Ji. Nanti ada berkas yang perlu lu tanda tanganin" ucap Bagas sambil masuk ke dalam ruangan miliknya.
***
Siangnya, Mika hanya tiduran di kamar. Baju yang ia kenakan masih sama dengan yang semalam. Ia begitu malas untuk mandi. Perutnya kembali terasa lapar. Mika memutuskan turun dari tempat tidur dan menuju ke dapur.
Ponsel yang berada di genggamannya bergetar, menampilkan nama Meisya di sana sedang memanggil. Mika langsung saja menjawab panggilan dari sahabat karibnya itu.
''Halo, Mei?'' sapa Mika sambil berjalan menuju kulkas.
''Mi, lu kenapa nggak masuk kerja? lu sakit?'' tanya Meisya dengan khawatir.
''Gue nggak pa-pa, Mei. Cuma masuk angin aja'' sahut Mika sambil mengeluarkan 5 biji telur dari kulkas dan di bawa ke dapur lalu ei masukkan ke mangkuk. Kemudian ia cuci agar hilang hawa dinginnya.
''Syukurlah, gue khwatir lu kenapa-napa. Soalnya dari kemarin lu nggak balik langsung ke toko. Pak Anwar juga belom nongol sampai sekarang'' cerocos Mei panjang lebar, ''oh ya, apa lu lagi ada masalah sama pak Anwar, Mi?'' tanya Meisya penuh selidik.
__ADS_1
''Ntar aja kalo lu udah pulang kerja, mampir ke rumah gue'' jawab Mika.
''Oke, bye Mi'' Meisya menurut.
''Bye..'' Mika menutup panggilan dan meletakkan ponselnya di atas meja makan. Ia meraih beberapa bawang merah lalu di kupas, kemudian di iris-iris. Di masukkan ke dalam mangkuk setelahnya lima butir telur ia pecahkan dan di kocok lalu di beri bumbu.
Setelah selesai menggoreng telur dadar, Mika menikmati telurnya dengan mencampur saos sambal. Usai makan, ia menuju ruang tv dan menonton.
Sementara di tempat Aji bekerja, Aji sedang berada di dalam ruangan Vivi. Ia baru saja menyerahkan beberapa dokumen, setelahnya, ia hendak keluar ruangan. Namun segera di cegah oleh Vivi.
''Ji, tunggu!''
Aji menghentikan langkahnya, lalu menoleh kebelakang. ''Ada apa?'' tanya nya dengan datar.
Vivi berjalan mendekat, ''Kita makan siang di ruangan ku aja Ji, aku bawa bekal dan..'' Vivi mengelus perutnya yang masih datar ''anak kamu, mau makan di temenin sama papanya'' Vivi tersenyum dan menampilkan tatapan puppy eyes nya.
Aji bedecak, ingin menolak, tetapi tidak tega.
''Hmm. Ya sudah,'' Aji akhirnya pasrah, mengingat di dalam sana ada calon anaknya yang bersemayam di tubuh Vivi.
Vivi menggandeng lengan Aji menuju sofa, ia mengeluarkan bekal yang sudah ia siapkan dari rumah. Setelahnya, Vivi langsung menyajikan nasi dan lauk ke dalam piring kemudian ia menggeser duduknya. Vivi duduk memepet dan ia ingin segera tau reaksi masakannya yang ia buat dengan penuh cinta itu.
''Kamu cobain ya, ini aku yang masak'' ucap Vivi sambil menyendok nasi beserta lauknya, lalu ia sodorkan ke depan mulut Aji. Aji langsung menghidar dan menolaknya.
''Aku akan makan sendiri'' Aji meraih sendok di genggaman Vivi. Tepat saat itu, Bagas yang hendak masuk karena pintu sedikit terbuka melihat adegan pegangan tangan serta duduk yang intim. Membuat ia mengurungkan niatnya.
Bagas memilih kembali ke ruangannya dan menunggu bos nya selesai makan siang.
''Ada apa dengan lu, Ji?. Apa lu mengkhianati Mika?'' tanya Bagas pada dirinya sendiri ketika sampai di dalam ruangan miliknya.
__ADS_1