
Bab 74
Balikan atau menolak?
Mika terpaku dan jantungnya semakin kencang berdetak kala Aji mengatakan permintaannya. Aji menginginkan mereka balikan seperti dulu. Bersatu kembali menjalani kehidupan berdua. Mika bergeming di tempatnya, bibirnya kelu tak dapat menjawab barang satu huruf pun atas apa yang Aji minta padanya.
''Mi, kamu mau kan kita balikan lagi? Aku masih sangat mencintaimu dan nama mu tak pernah bisa tergantikan oleh siapa pun.'' Aji berlutut di hadapan Mika dan menghiba, wajahnya nampak tulus dengan apa yang barusan ia katakan.
Mika menatap Aji dengan tatapan nanar karena air mata telah menggunung kembali di pelupuk mata. Rasanya sangat sulit untuk bisa mempercayai ucapan lelaki yang telah mengkhianati cintanya. Mika melengos dan mengusap air matanya dengan kasar.
Seketika, Mika mengatur perasaannya agar bisa tenang menghadapi situasi ini. Duduk di tepi ranjang sembari menatap ke luar jendela, pikirannya masih mengawang.
Apa yang harus Mika lakukan sekarang?
Aji keluar meninggalkan Mika yang masih sibuk dengan pemikirannya. Lelaki itu pergi ke sebuah toko perhiasan dan memesan sebuah cincin kecil mermotif permata. Imut modelnya dan Aji sangat percaya jika Mika akan sangat senang jika menerima pemberian darinya.
''Mbak, saya pilih yang model ini ya. Ukurannya 17,'' pinta Aji pada sang penjaga toko. Dengan senang hati pelayan tersebut menyiapkan pesanan konsumennya.
Setelah mendapatkan pesanannya, Aji pergi ke toko bunga. Ia membeli bunga kirsan berwarna putih. Hatinya begitu berbunga-bunga membayangkan Mika tersenyum manis menerima pemberian darinya.
dua jam berlalu dan Aji sudah kembali ke rumah. Menyimpan barang yang ia beli di balik punggung kekarnya.
Saat ia masuk ke dalam kamar, ia tak mendapati Mika di sana. Aji pun langsung menuju ke pintu belakang yang ternyata Mika berada di sana. Wanita itu sedang duduk menatap pepohonan rindang yang terletak tak jauh dari pekarangan.
''Mi,'' panggil Aji dengan lembut sontak membuat Mika menoleh ke arahnya. Tatapan wanita itu kini nampak datar dan acuh. Ia menimbang-nimbang perasaannya akan di bawa ke mana selama ini.
__ADS_1
Mika menarik napas lalu membuangnya dengan kasar.
''Mi, maukah kamu memaafkan kesalahanku yang sudah nggak terhitung lagi berapa jumlahnya?'' Aji menuntun Mika menghadap tepat di depan wajahnya.
''Kalau aku nggak mau maafin kamu. Kamu mau apa?'' tantang Mika dengan sengit. Namun, Aji menghadapinya dengan kalem bahkan lemah lembut.
''Aku akan mengulang kembali untuk meminta maaf sama kamu sampai kamu mau maafin aku.'' tegas Aji dengan nada yang lembut.
''Tidak ada maaf bagimu,'' dengus Mika mengalihkam tatapannya. Tak kuat menatap wajah Aji yang nampak tenang tapi mengiba.
''Tuhan aja maha pemaaf loh, Mi. Masak kamu sebagai umatnya nggak mau membuka pintu maaf untuk sesama umatnya,'' rayu Aji sedikit menggoda.
''Karena manusia punya batas kemampuan. Jadi kamu tidak bisa memaksakan kehendak!'' Mika beranjak dari hadapan Aji hendak masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, Aji langsung mencegahnya dan berlutut di hadapan Mika.
Menyodorkan sebukcet bunga krisan yang tadi ia beli di toko bunga di sertai sepucuk surat kecil yang terselip di baliknya.
Mika menjadi bimbang, di satu sisi ia tak ingin menghiraukan sang mantan. Tapi di satu sisi ia tak ingin menjadi orang yang egois dengan keadaan.
Aji mendongak dan menyodorkan bunga itu ke hadapan Mika dan sangat dekat sekali dengan dada Mika yang nampak berdetak lebih kencang.
''Baiklah. Aku memaafkan kamu. Tapi, pergilah dan jangan ganggu aku.'' Mika meninggalkan Aji dan berlari masuk ke kamar.
Ia kembali butuh ketenangan hati dan pikiran ataa keputusan yang baru saja ia ambil.
Aji pun paham dan akan sabar menanti sampai waktu itu tiba. Di letakkannya bunga itu di meja nakas dekat pintu kamar dan ia menuju ke ruang kerja.
__ADS_1
Ruangan yang dulu ia tempati untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Masih tetap rapi dan terlihat bersih. Mika memang sudah membersihkan ruangan itu sebelum ia membersihkan ruangan lain.
Aji duduk di kursi itu dan meraih satu album. Album foto saat pernikahannya dengan Mika dulu. Beberapa kenangan manis saat masa-masa itu membuat Aji tersenyum getir. Mengusap lembut gambar Mika yang tersenyum manis.
''Maafkan aku, aku memang lelaki bodoh yang tak pandai membahagiakanmu. Tapi, untuk kali ini tolong beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu. Menyenangkanmu dan tentunya selalu berdamai dalam hal apa apun.'' gumam Aji. Tanpa ia tahu jika Mika mengintip di balik pintu. Mendengar semua ucapan Aji meski lirih.
Mika kembali meneteskan air mata, hatinya seketika luluh mendengar kata-kata tulus dari Aji. Cinta yang dulu ia kubur sedalam dalamnya kini terasa mencuat ke permukaan.
Tanpa ia sadari kakinya melangkah memasuki ruang kerja yang kini Aji tempatim nampak Aji tertegun menatap foto-foto dirinya yang nampak romantis dan harmonis.
Jemarinya menyentuh satu foto yang juga Aji sentuh hingga tangan mereka saling bersentuhan. Aji menatap Mika yang wajahnya nampak sembab.
''Mi,'' Aji bangkit dan tanpa malu ia langsung metmrengkuh tubuh Mika ke dalam dekapannya. Di peluknya dengan erat tubuh mungil Mika yang sangat ia rindukan.
''Please, kita bisa mengulang kembali masa-masa seperti yang ada dalam foto ini kan. Berikan aku kesempatan untuk yang terakhir kali ya. Aku mohon!'' pinta Aji dengan suara yang parau.
''Apa kamu bisa menepati kata-kata barusan tanpa ingkar?'' tatap Mika pada Aji mencari ketulusan dari ucapannya.
''Iya Mi aku janji. Aku akan lakukan apa pun demi cinta kita.'' Aji mengembangkan senyumnya. Hatinya terasa sangat bahagia bisa seperti ini.
''Aku punya hadiah kecil sebagai permintaan maafku sama kamu, aku mohon jangan kamu tolak.'' Aji mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang tadi di belinya.
Aji membuka kotak tersebut dan nampaklah cincin permata yang nampak manis dan cantik. Ia mulai meraih jembari Mika dan hendak memasangkan pada jemarinya.
Mika nampak ragu mengulurkan tangannya, tapi Aji menatapnya dengan penuh keyakinan agar Mika bisa mempercayainya sepenuh hati jika ia memanglah sangat tulus.
__ADS_1
Perlahan, Aji memasukkan cincin permata tersebut ke jari manis Mika yang sudah tidak ada cincin penikahan mereka waktu itu. Mika memang sudah membuangnya waktu dia menyaksikan pernikahan antara Aji dan Vivi dulu.
Cincin manis itu sudah tersemat di jemari manis Mika dan sangat cantik di kulit putihnya. Aji mengecup pelan punggung tangan Mika sekilas membuat Mika tersipu.