
Tiga bulan berlalu, Aji yang baru saja selesai menunaikan kewajibannya lima waktu di masjid, kini sedang menikmati makan malamnya. Sendiri, pria itu sendirian di sana. Di rumah kontrakan sederhana dan kini bekerja sebagai tukang galon.
Wajahnya yang tampan membuat ibu-ibu komplek sana selalu meminta Aji menjemput galon-galon mereka untuk di isi air.
''Aku merindukan kamu, tapi semua itu sudah tidak boleh kulakukan aku selalu mendoakanmu agar selalu bahagia, Mi.'' ujar Aji menatap foto Mika dengan mata berembun.
Meski sudah tiga bulan dia berusaha melupakan, tetap saja. Nama wanita itu dia sebutkan dalam doanya. Entah mengapa sulit sekali jika soal melupakan kenangan manis maupun buruk.
Aji mencoba menghubungi nomor Bagas yang masih dia simpan. Selama ini, dia tepah mengganti nomor ponselnya ke yang baru untuk menghindari kontak.
Rindu itu menjelma begitu saja saat dia sendirian. Biasa dia mengaji, tapi usai dari sholat tadi, dia sangat merindukan Mika hingga air mata nya lolos begitu saja tanpa permisi.
Halo, sapa seseorang dari seberang sana.
''Gas, ini gue,'' ucap Aji.
Seriuss ini loh, gue mimpi apa, lo di mana Ji? Tanya Bagas beruntun.
__ADS_1
''Gue di tempat yang lebih baik, gi mana kabar lo?''
Mereka terus berbincang dan saling menanyakan kabar.
Setelah puas bertelepon, Aji mengakhiri panggilannya. Rindu pada sahabatnya sudah terobati. Kini, dia ingin mencoba menghubungi nomor Mika. Namun, rasa takut itu menjelma membuat dia dilema. Dia takut mengganggu dan lebih parahnya lagi jika Anwar yang mengangkat.
Aji sungguh ingin mendengar suara Mika saat ini, ''Ah, sungguh menyiksa sekali, maafkan aku. Aku masih sangat mencintaimu Mi,'' gumam Aji hingga matanya terpejam.
Di sebuah rumah sakit ternama, tampak Mika bersama Anwar sedang memeriksakan kandungan di dokter kandungan.
''Apa keluhan yang ibu alami,'' ujar bu dokter.
''Itu biasa, nanti akan saya beri vitamin dan juga obat untuk mengurangi mual. Ibu harus makan yang banyak, ya. Badan ibu kurus sekali,'' saran wang dokter.
Setelah itu, dokter meeminta Mika untuk berbaring karena akan memeriksa perut Mika. Setelah itu, Mika di beri resep.
''Kamu mau makan apa biar Mas belikan,'' ujar Anwar dengan lembut. Kini mereka tengag keluar dari rumah sakit menuju ke mobil mereka.
__ADS_1
Mika hanya menggeleng, dia belum kepikiran soal menu makanan saat ini. Tapi, saat melihat ada mamang penjual permen kapas, Mika langsung menunjuk dengan antusias.
''Aku mau itu Mas!'' ucap Mika.
Dia menarik tangan pria itu dengan semangat, matanya bersinar terang melihat permen warna pink menggelantung di pinggir jalan.
''Mi, itu nggak sehat buat anak kita, kamu nggak mau makan yang lain,'' sela Anwar yang membuat Mika langsung cemberut.
''Mass, aku mau itu,'' rengek Mika dengan wajah memelasnya. Anwar pun tak tega melihatnya.
''Baiklah, sayang. Ayo kita beli,'' ucap Anwar dengan mencubit pipi Mika gemas. Dia pun mengusap perut Mika dengan sayang, meski Mika masih kurang nyaman di perlakukan seperti itu.
''Mas, satu ya,'' pesan Anwar pada sang penjual.
''Aku mau tiga, Mas.'' Mika mengacungkan jarinya.
Ingin membantah, tapi Anwar tak tega, akhirnya dia pun menuruti permintaan Mika dan berhasil membuat wanitanya kegirangan. Mika dengan semangat langsung memakan permen kapas itu,
__ADS_1
''Enak!'' ucapnya.
Sudah seperti anak kecil saja