Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 25


__ADS_3

Vivi menatap Aji dengan mata memicing, ia tersengat rasa cemburu saat Aji dengan mesranya memanggil sang istri dengan panggilan sayang.


"Mana resep obatnya, biar aku beli" pinta Aji sambil menengadahkan tangan ke arah Vivi.


"Sama bik Rumi, Ji"


Aji langsung menyusul bik Rumi di dapur dan meminta resep yang di berikan dokter tadi. Setelah mendapatkan yang di butuhkan, Aji langsung pergi ke apotek untuk membeli obat-obat tersebut.


Saat Aji berbelok ke arah apotek 24 jam, ada seseorang yang melihatnya dari dalam mobil yang sedang di lajukannya. Sementara Aji langsung bergegas menebus obatnya dengan memberikan resep tersebut ke pihak apotek.


Setelah mendapatkan obatnya, Aji langsung segera kembali ke rumah Vivi. Sedangkan di belakangnya ada seseorang yang sedang mengikutinya tanpa di ketahui oleh Aji.


Tibalah Aji di rumah Vivi dan langsung masuk begitu saja saat sudah sampai di depan pintu. Sementara seseorang itu, telah menghentikan mobilnya di tepi seberang jalan. Orang tersebut melihat dengan jelas, Aji masuk ke dalam rumah tersebut. Orang itu adalah Bagas, dan ia tahu. Bahwa rumah yang di masuki oleh Aji adalah rumah Vivi atasan mereka.


Setelahnya, Bagas pergi meninggalkan tempat tersebut dan ia pulang ke rumahnya.


Sementara di dalam rumah Vivi, Aji sedang menyiapkan makan di dalam piring untuk ia berikan ke Vivi sebelum minum obat.


"Ini, makan lah" titah Aji kepada Vivi.


"Suapiiin," pinta Vivi dengan manja.


Aji terlihat pasrah dan ia langsung menyuapi Vivi. Agar ia bisa segera pulang setelah selesai mengurus Vivi.


"Ini, minumlah obatnya" Aji menyodorkab gelas berisi air putih, serta beberapa tablet obat yang tadi ia beli.


"Makasih, Ji" Vivi langsung meminum obat tersebut lalu menyerahkan kembali gelas minumnya.


"Aku langsung pulang ya. Kamu istirahat saja di kamar"


"Aku lemas Ji, mungkin tidur di kamar bawah Aja" ucap Vivi sambil mencoba berdiri, namun ia malah limbung. Dengan sigap Aji menangkap tubuh Vivi dan ia angkat ala bridal style.


"Kamar yang ini, Ji" tunjuk Vivi dengan menurunkan lengannya dari lingkaran leher Aji.

__ADS_1


Aji langsung membuka pintu dengan susah payah karena sambil menggendong Vivi, lalu di baringkannya tubuh Vivi di ranjang kamar tersebut.


"Kamu sebaiknya makan dulu di sini, Ji. Nanti baru pulang setelah makan" Pinta Vivi saat Aji menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


"Aku akan langsung pulang dan makan di rumah" Aji berlalu dari sana dan langsung mengendarai motornya menuju rumahnya.


"Kamu pinter sayang, dan kamu akan segera memiliki papa" ucap Vivi sambil mengelus perutnya yang masih datar.


Vivi kemudian meraih ponselnya dan ingin menghubungi seseorang.


**


Sesampainya di rumah, Aji langsung menuju ruang makan. Di sana terlihat bungkusan makanan di atas piring serta sudah tersedia air minum. Aji langsung membuka bungkusan tersebut dan memakannya dengan lahap.


Usai makan, Aji masuk ke kamar dan melihat Mika sudah tertidur lelap dengan wajah damai. Aji bersih-bersih ke kamar mandi, lalu menyusul Mika untuk ikut tidur. Namun, setelah memejamkan mata agar dapat terlelap, fikirannya kembali mengingat tentang Vivi.


Dalam benaknya, berfikir. 'Vivi, apa yang harus aku lakukan terhadapmu. Aku tidak ingin mendapat masalah dengan Mika. Ahh! Bodohnya aku, kenapa aku bisa ceroboh saat itu!' Aji memposisikan tidurnya menghadap ke arah Mika, tangannya tergerak mengelus lembut pipi halus itu. 'Maafkan aku ya sayang, aku telah membohongimu belakangan ini. Aku merasa sangat bersalah, aku memang bukan suami yang baik buat kamu. Aku bingung sekarang, aku takut sayang!' tak terasa, sebutir air mengalir dari pelupuk matanya. Dengan cepat Aji menyeka air matanya.


Mika yang sedang tidur nyenyak merasa terusik karena ada sesuatu yang mengusap-usap pipinya. Mika perlahan mulai membuka matanya, sedangkan Aji langsung memejamkan matanya dan tangannya berhenti bergerak di permukaan wajah Mika.


Pagi menyapa, Mika telah sibuk di dapur berkutat dengan kompor dan alat tempur lainnya. Ia sedang membuat sarapan andalan yaitu, nasi goreng. Setelah selesai menyajikan sarapan, Mika bergegas mandi kemudian ia membangunkan suaminya.


"Pa, bangun. Sudah pagi," Mika menepuk pelan pipi suaminya.


"Emmh," Aji menggeliatkan tubuhnya.


"Aku tunggu di ruang makan ya, kamu bersiaplah. Aku sudah menyiapkan pakaian kerjamu" Mika beranjak meninggalkan Aji agar cepat bersiap.


Dengan berat, Aji berjalan menuju kamar mandi. Karena semalam ia sulit tidur. Tak berapa lama, ia pun menyusul Mika ke ruang makan. Mereka sarapan bersama dan setelahnya Aji berpamitan untuk berangkat bekerja.


"Aku pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah" pamit Aji sambil mengecup kening Mika. Setelahnya, ia langsung berangkat. Mika membereskan meja makan dan mencuci peralatan tersebut.


"Dia kenapa ya, kok akhir-akhir ini banyak sekali perubahan. Sering pergi tiba-tiba, terus juga, sok-sok romantis. Nggak biasa-biasanya" Mika berbicara pada piring yang sedang ia bilas.

__ADS_1


Setelah itu, Mika menuju kamarnya dan mendengar ponselnya berdering. Di lihatnya nama pak Anwar sedang memanggil.


"Halo, pak" sahut Mika.


"Bagaiman tawaran saya kemarin, Mi. Sudah kamu fikirkan?" tanya Anwar dari seberang sana.


"Oh, iya sudah pak. Saya bersedia, tapi belum untuk sekarang. Karena saya sedang ingin istirahat dulu dari pekerjaan" terang Mika.


"Baiklah, saya tunggu kabar selanjutnya"


"Iya pak, selamat pagi" Mika menutup panggilan telponnya.


Mika mengganti pakaiannya dengan baju daster pendek setengah paha, lalu ia mulai membereskan rumahnya mulai dari menyapu, mengepel, mencuci dan semua pekerjaan lainnya. Hingga menjelang siang ia baru selesai berberesan. Tubuhnya terasa begitu lelah, dan ia berbaring di sofa depan tv. Pintu rumah hanya di tutup setengah rapat, agar udara bisa masuk dari celah-celah pintu.


Kriingg!


Ponsel Mika bergetar di atas meja samping sofa, karena Mika tertidur begitu nyenyak, ia tak menyadari bahwa ponselnya berdering. Hingga panggilan ke tiga tak jua ia respon.


Seseorang di depan rumahnya sedang mondar-mandir menunggu teleponnya di jawab oleh sang pemilik rumah.


"Mika kemana ya, kok tidak menjawab panggilanku" ucap orang tersebut lalu ia menyandarkan tubuhnya ke pintu mobilnya yang tertutup.


Di amatinya pintu rumah tersebut, "pintunya sedikit terbuka? Berarti dia ada di dalam" orang tersebut menuju pintu tersebut dan mengetuknya.


Merasa tak ada jawaban dari dalam, orang tersebut mendorong pintu itu pelan-pelan dan matanya menelisih isi dalam rumah tersebut.


"Assalamualaikum!"


-


-


-

__ADS_1


Maaf kalo enggak nyambung. Lagi males mikir


__ADS_2