Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 111


__ADS_3

Bab 111


''Tali, kamu pajang yang ini bagusnya di patung. Kalau di gantung seperti ini orang tidak bisa melihat modelnya dengan benar. Ini kan keluaran terbaru,'' tutur Mika.


''Baik, Bu,'' ucap Talia.


''Pakai yang itu,'' tunjuk Mika pada patung yang berdiri dengan bertolak pinggang.


''Iya, Bu.'' Talia segera memasangkan baju yang tadi di perintahkan.


Mika berjalan jalan mengelilingi setiap seluk lorong tempat itu. Dia memperhatikan dengan saksama, mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Saat menemukan yang tidak sesuai dia akan langsung memindahkan.


''Rin,'' panggil Mika mencari sosok Rina.


Mika pergi ke gudang khusus dan menemukan sosok Rina sedang berada di sana. Mika pun langsung menghampiri wanita itu.


''Rin, apa Talia itu anak baru?'' tanya Mika begitu tiba.


''Eh, iya, kak. Kenapa?'' tanya Rina setengag terkejud.


''Tidak apa, hanya memastikan.'' Mika melenggang pergi.


Rina pun hanya bisa bertanya-tanya sendiri tentang Mika mengapa dia menanyakan soal status karyawan di sana. Pasalnya yang biasa aktif bertanya pasti lah pak Anwar.


Setelah sore hari, Mika merasa lelah karena banyak berdiri. Dia duduk di sofa meluruskan kakinya yang jenjang. Pakaiannya yang selutut mengekspos kedua pa ha nya yang putih.


''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Anwar berlutut di sisi Mika. Dia menatap dengan khawatir karena tampak Mika sedikit meringis.


''Pegel, Mas.''Mika memijit kakinya sebentar.


''Sini, biar, Mas yang pijit.'' Anwar menyentuh kaki Mika yang pegal dan mulai memijatnya dengan lebut. Mika tersenyum, ternyata suaminya sangat perhatian dan perduli dengannya. Meski awal-awal dia selalu membencinya.


'Apa aku harus mencintaimu, Mas.' kata Mika dalam hati. Senyumnya terukir manis di sudut bibirnya. Selam ini, dia selalu saja mengabaikan setiap momen yang akan di ciptakan oleh Anwar padanya. Dia tidak pernah menganggap serius hal kecil seperti ini.

__ADS_1


Sementara di luar ruangan, beberapa staff melihat keromantisan dua insan di dalam ruang santai tersebut. Karena Anwar tidak menutup pintu itu dengan sempurna.


''Mbak, apa mereka pacaran?'' tanya salah satu staff pada Rina dengan suara berbisik. Tak di sangka, Rina yang semula ingin menemui Anwar ke ruangan karena ada yang harus di tanda tangani tapi sang bos tidak ada dan mendapati ada di ruang santai. Dia urung untuk mengetuk pintu karena dia melihat Anwar sedang memijat Mika dengan sangat perhatian. Tak luput dia mendengar setiap percakapan dua orang yang ada di dalam sana.


Ssst


Rina langsung menarik tangan Silvi menjauh dari sana. Yang mereka tahu, Anwar sejak dulu memang menyukai Mika. Karena yang juga mereka tahu, Mika sudah bersuami dan selalu menyaksikan apa saja yang di lakukan pak Anwar untuk menarik perhatian Mika.


''Aku juga nggak tahu. Yang aku tahu kan Mbak Mika sudah punya suami, tapi kenapa dia mesra-mesraan sama pak Anwar ya,'' bisik Rina pada Silvi. Mereka saling menduga-duga tentang status keduanya.


''Iya bener, kalau gitu. Berarti mbak Mika selingkuh dong dari, mas siapa ya nama suaminya mbak Mika itu,'' ujar Silvi seraya mengingat nama mantan suami Mika.


''Aji kalau nggak salah,'' terang Rina.


''Wah, mbak Mika nggak bisa di biarin kalau begitu. Kita kan sudah lama tidak bertemu mereka dan juga kabar terbarunya,'' sanggah Silvi.


''Iya bener kamu, Sil. Aku dari dulu menyukai pak Anwar. Tapi nggak pernah bisa punya kesempatan untuk mendekatinya,'' ujar Rina membuat Silvi melotot kaget.


Upss


Rina menutup mulutnya karena dia keceplosan mengungkapkan isi hatinya yamg selama ini hanya di pendam sendiri.


Rina yang selalu di beri kepercayaan pada Anwar untuk menghandle semua toko miliknya bahkan menjalankan usaha itu dengan baik. Rina juga mendapatkan bonus banyak, maka dia menjadi wanita yang paling di perhatikan oleh Anwar. Padahal Anwar mengontrol dirinya karena urusan pekerjaan agar selalu lancar tanpa ada kendala.


''Kalau gitu, mulai sekarang mbak harus rebut perhatian pak Anwar untuk mbak. Mbak liat sendiri kan tadi, pak Anwar bilang, mbak Mika bekerja lagi di sini. Tapi kenapa dia sok ngatur-ngatur gitu, kayak bos aja.'' kesal Silvi.


Padahal dulu mereka sama saja, tidak ada yang menjadi atasan atau bawahan. Semua sama rata bekerja dengan tim dan kompak.


''Kamu benar, yang berkuasa di sini kan harusnya aku. Karen Aku yang di kasih kepercayaan untuk mengatur semuanya.'' sambut Rina membenarkan ucapan Silvi.


''Kita harus buat rencana, pokoknya pelan-pelan saja. Mbak harus mulai mengambil perhatian ke pak Anwar.'' saran Silvi.


''Kamu benar, aku sudah punya rencana, kamu tenang aja.'' ujar Rina dengan percaya diri.

__ADS_1


''Ngapain kalian ngumpul di situ!'' tegur Anwar yang tiba-tiba muncul di belakang Rina dan juga Silvi.


Dua gadis itu pun membelalak, sedikit bergetar karena takut obrolan mereka tadi di dengar oleh bos mereka.


''Eh, nggak kok, pak. Ini mau lanjut kerja lagi,'' Silvi langsung menarik tangan Rina untuk menjauh dari sang bos.


Anwar keluar dengan merangkul Mika menuju ke mobilnya. Semua staff melihat kemesraan bos mereka dengan Mika yang mereka ketahui adalah wanita bersuami.


Prasangka buruk mulai bermunculan di benak mereka masing-masing.


''Gila, apa bos kita sudah jadi seorang pebinor, guys?'' seru salah satu staff laki-laki di sana. Mereka mengintip dari stand masing-masing dan saling lempar tanya.


''Iya, nggak tahu diri juga tu si Mika. Bukannya dia dulu cewek paling anti sama Anwar jika di sentuh pak Anwar,'' cibir satunya lagi.


''Murahan juga dia sekarang,'' celetuk Silvi menimpali obrolan rekan-rekan yang lain.


Sementara Mika, melihat semua reaksi staff di dalam tokonya seperti saling menggosip. Dia sudah bisa menebak jika mereka sedang membicarakan dirinya. Mika hanya bisa tersenyum mengejek. Karena mereka tidak tahu fakta yang sebenarnya.


''Kamu kenapa sayang?'' heran Anwar karena sang istri senyum-senyum sendiri.


''Nggak kok, mas. Kita beli rujak ya, aku pengen makan rujak,'' pinta Mika dengan manja. Dia merebahkan kepalanya di bahu Anwar yang sedang menyetir mobilnya.


''Iya sayang, kita akan cari rujak. Tapi,'' Nawae teringar sesuatu.


''Tapi apa Mas?'' alis Mika terangkat sebelah.


''Yang Mas ingat, kamu tidak suka rujak Sayang,'' ujar Anwar.


''Nggak tau, tapi sekarang aku pengen.'' manja Mika dengan wajah di buat seimut mungkin membuat Anwar sangat gemas dan tak bisa menunda jemarinya untuk menarik hidung mancung Mika.


''Apa ini bawaan anak kita, uhh anak Papa mau makan rujak ya,'' ucap Anwar mengusap perut Mika.


Mika terkekeh. Dia sedikit geli mendengar kalimat Anwar tapi entah mengapa, ada rasa senang dalam diri Mika.

__ADS_1


__ADS_2