Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 88


__ADS_3

Bab 88


Kabur


''Maafkan aku ya, ayah... Ibu. Aku belum bisa jadi anak yang baik dan penurut. Aku ingin hidup bahagia dengan pilihanku sendiri,'' gumam Mika di balik pohon besar seraya menunggu Aji mengambil mobil.


Pukk


Mika terlonjak kaget dan memegangi jantungnya saat tangan seseorang menepuk bahunya. Di kala orang sedang di landa rasa takut karena kesalahan tapi malah orang yang terlibat dalam kesalahan itu mengajaknya bercanda membuat Mika spot jantung dan ingin memaki orang itu habis-habisan.


Aji menampilkan deretan giginya yang putih serta senyum tanpa dosa di hadapan Mika. Dua orang itu pun langsung masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh dari sana.


''Kita mau ke mana, Mi?'' tanya Aji saat terus melajukan mobilnya yang entah sudah sampai di mana.


''Nggak tahu,'' dengqn polosnya Mika menggeleng pasrah. Ia pun juga bingung akan kemana membawa dirinya. Tak ada bekal apa pun yang ia bawa saat ini. Hanya dirinya dan pakaian yang melekat di tubuhnya, serta tak lupa beberapa lembar sprei yang masih dalam bentuk buntalan ada di jok belakang.


''Kita makan dulu yuk. Udah mau sore nih,'' ajak Aji saat melihat jam yang melingkar di lengannya.


''Aku nggak laper, oh ya. Kamu udah matikan hp belum. Takutnya nanti di lacak sama orang rumah.'' peringat Mika pada Aji.

__ADS_1


''Kamu tenang aja, semua aman kok. Kamu tahu sendiri kan dulunya aku ini apa?'' tanya Aji yang akhirnya membuat kepala Mika manggut-manggut tanda paham.


Sejak masih SMA hingga duduk di bangku kuliah, Aji adalah seseorang yang menyukai dunia perhakcer-an. Namun, hal itu hanya ia pelajari saja dan tidak di terapkan untuk sebuah keuntungan. Hanya saja, karena ia dulu hobi bermain game di warnet bersama Bagas, maka dunia chitng sudah sering ia lakukan.


Saat melewati sebuah warung makan kecil di pinggir jalan, Aji pun menepikan mobilnya. Aji pun mengajak Mika untuk turun dan meminta makanannya di bungkus saja.


''Ayo kita makan di sini aja dulu,'' ajak Aji tapi Mika menolak.


''Bungkus aja, ya. Aku males keluar. Kita nanti cari tempat yang pas buat nikmati makanan kita di tempat lain.'' usul Mika. Sebenarnya, ia takut kalau saja ada seseorang yang tiba-tiba mengetahui posisinya.


''Ya udah kalau kamu maunya gitu, tunggu di sini sebentar dan jangan kemana-mana ya,'' ucap Aji.


Dalam pikirannya, Mika sibuk memikirkan bagaimana jalan selanjutnya. Ia tidak ingin di jemput dan di bawa pulang serta kembali bersama orang itu.


Asik melamun dan sibuk dengan pemikirannya, Mika pun tersadar saat Aji kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa dua buah bungkusan berisi nasi padang. Tak lupa pula minuman dingin. Beruntungnya Aji memiliki banyak uang cash karena dalam perjalanannya bersama Bagas kemarin ia menarik uang tunai.


Saat ini, mereka tengah berada di perbatasan wilayah. Daerah yang katanya rawan. Mereka pun berhati-hati dan siap siaga. Hingga memasuki sebuah desa bebas aturan.


Aji dan Mika saling tatap saat mereka melewati gapura dan membaca plang namanya. Keduanya sama-sama mengernyitkan dahi tanda tidak paham. Namun, dengan terus melaju, ia pun di hentikan oleh seseorang yang bepakaian preman.

__ADS_1


Aji hendak menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa pria garang tersebut. Namun, Mika memberikan peringatakan agar hati-hati.


Tokk


Tokk


Tokk


Kaca pintu mobil Aji di ketuk dengan kasar dan tak sabaran. Saat Aji mwnurunkannya, pria tersebut meminta Aji untuk turun dari mobil.


''Mi, aku turun dulu, ya. Kita harus nurut karena kita adalah pendatang.'' ucap Aji dengan yakin, karena dari tadi Mika tidak melepaskan tangannya dari lengan Aji.


''Aku takut,'' lirih Mika.


''Ia, aku kan cuma sebentar. Kamu jangan khawatir. Oke,'' tutur Aji dengan yakin agar Mika mau percaya dan segera melepaskan tangannya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Pintu kembali di ketuk karena merasa Aji sangat lama. Akhirnya Aji turun dan tangannya langsung di jawabat oleh pria bertampang preman tersebut.


__ADS_2