Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 45


__ADS_3

Setelah di usir dari ruangan kerja Mika, Aji meninggalkan ruangan tersebut. Jam pulang kantor telah tiba, ia berniat akan membututi Mika hingga sampai di rumahnya. Ia bergegas menunggu Mika di dalam mobilnya.


Namun, setelah ia menunggu lama di dalam mobilnya. Mika tak kunjung keluar, ia juga melihat mobil milik Mika masih terpakir rapi di tempatnya. Ia memutuskan untuk menunggu kembali dengan menyandarkan kepalanya pada kemudi. Tanpa terasa, ia ketiduran.


Saat Aji terbangun, tempat sekitar telah berubah menjadi gelap. Aji melihat jam pada ponselnya. Sudah menunjukkan pukul 18.30 wib.


''Sial, kok malah ketiduran sih gue!! nih satpam juga nggak ada yang mau bangunin apa!'' Aji memperhatikan tempat sekitar, sudah sepi tak ada kendaraan yang terparkir di dekatnya. Akhirnya, ia memutuskan pulang ke rumah.


Sebelum pulang, Mika dan Bagas melihat Aji yang sedang tertidur di dalam mobilnya. Dan bagas mempunyai ide dan memberitahukan pada pak satpam agar membiarkan Aji tidur hingga terbangun sendiri.


…Sebelumnya…


''Kamu ngomong apa sama pak Kardi, Gas?" tanya Mika sebelum ia masuk ke mobilnya. Mika memperhatikan Bagas yang berbicara sesuatu pada pak satpam.


"Cuma iseng aja sih. Ya udah, yuk pulang" ajak Bagas menuju mobilnya sendiri. Dan mereka pulang dengan kendaraan masing-masing.


……


Saat Aji sampai di rumahnya, ia masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Setelahnya, ia akan pergi mengunjungi rumah Bagas. Ia ingin memperbaiki hubungan persahabatannya yang retak perkara ulahnya.


Tidak butuh waktu lama, ia sudah rapi dengan pakaian santainya. Ia turun ke lantai bawah dan menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh bik Rumi.


Sementara itu, bik Rumi memperhatikan suami nonanya itu makan dengan tenang. Ia berniat untuk mengutarakan niatnya. Ia menunggu hingga sang tuan menyelesaikan makan malamnya.


Setelah sepuluh menit, bik Rumi langsung mendekat.


"Maaf tuan, sudah selesai?"


"Sudah bik, saya akan pergi" ujar Aji dan mulai melangkahkan kakinya.


"Emm, anu tuan..." dengan ragu bik Rumi berseru.


"Ada apa, bik?" Aji sedikit heran.


"Anu tuan, apa saya boleh ..." ucap bik Rumi sepotong.


"Bibik mau ngomong apa, langsung saja, saya mau pergi" ujar Aji.


"Begini tuan, keluarga saya di kampung ada yang sakit. Jadi, saya mau mengirim uang buat berobat" ucap bik Rumi dengan menunduk.


"Oh, iya, silahkan bibik kirim. Kenapa minta ijin ke saya,"


"Maaf tuan, tapi sejak nona Vivi sakit. Nona Vivi belum memberikan uang gaji saya" terang bik Rumi.

__ADS_1


"Hufft, nanti setelah pulang saya akan kasih gaji bibik. Sekarang saya pergi dulu" Aji langsung berlalu.


"Alhamdulillah, kenapa aku nggak ngomong dari bulan lalu ya. Tak kirain sulit kalo minta sama tuan Aji karena kan, bukan beliau pemilik rumahnya" ucap bik Rumi pada dirinya sendiri.


Ia pun segera membereskan meja makan dan membersihkan peralatan yang kotor. Setelah itu, bik Rumi menelepon keluarganya di kampung untuk memberikan kabar.


**


Aji tiba di kediaman Bagas. Masih sama, tidak ada yang berubah dari tampilan rumahnya. Ia langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu utama dan mengetuk pintu.


Tokk tokk tokk


Pintu pun terbuka, menampilkan wajah Bagas yang segar sehabis mandi. Dan Bagas terkejut melihat tamunya yang datang berkunjung.


"Ada apa lu kesini, tumben."


"Gue nggak di suruh masuk?" Aji balik bertanya.


"Duduk di luar aja" tunjuk Bagas mengarah ke kursi teras.


Aji melangkahkan kakinya duduk ke kursi teras, sementara Bagas masuk ke dalam untuk mengambil minuman kaleng yang dingin.


"Ada angin apa lu ke sini?" tanya Bagas seraya menyodorkan minuman dingin ke hadapan Aji.


"Heh, santai bener jawaban lu. Lu nggak ngerasa bersalah sama gue?" dengus Bagas.


"Ya ... makanya gue kesini. Gue mau minta maaf sama lu" Aji meneguk minumannya sejenak.


"Gue pengen baikan lagi sama lu, sepi banget hidup gue gak ada lu" ujar Aji.


"Lu baru sadar? makanya, jangan mau enaknya aja jadi orang. Lu masih aja sama, enggak ada mau berubah apa?'' Bagas menatap serius.


''Berubah yang gimana maksud lu, gue kan dari dulu juga begini penampilannya!" sanggah Aji.


"Bukan penampilan. Tapi, pola pikir elu!" jawab Bagas dengan ketus.


"Jadi, gue harus gimana?" Aji mengangkat kedua alisnya.


"Urusin aja bini lu dengan benar, kasian bayi yang ada di perutnya. Elu jangan nambah masalah lagi. Gue tau tujuan lu kesini bukan cuma mau baikan sama gue. Tapi, elu mau Mika balik lagi sama lu kan??" cerocos Bagas tepat sasaran.


Aji yang niatnya memang untuk meminta solusi agar bisa balikan lagi sama Mika, malah dapet ceramahan dari Bagas. Aji pun menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Pengen nyengir tapi takut kena tampol.


Bagas pun sebenarnya tidak ingin merusak persahabatannya hanya gara-gara sikap Aji yang egois itu. Bagas akan membantu Aji untuk merubah sikapnya yang kadang-kadang plin-plan dan semaunya sendiri. Sikapnya yang kadang-kadang tidak bisa tegas dan lembek yang membuat ia mudah tergoda.

__ADS_1


Kini mereka hanya saling diam menikmati sekaleng minuman dingin di tangan masing-masing.


''Pulang gih!'' Bagas beranjak dari tempat duduknya.


''Lu ngusir gue?''


''Iya, ngapain juga lu lama-lama disini. Dari tadi juga lu cuma diem kayak patung!'' Bagas ngeloyor masuk ke dalam rumah.


''Gas, gue pengen cerita lagi sama lu kok malah di tinggal masuk sih!!'' gerutu Aji mengikuti langkah Bagas.


''Besok aja lagi. Pulang gih, kasian bini lu nungguin di rumah!'' usir Bagas.


''Bini gue di rumah sakit jiwa''


''Apa?...'' Bagas sangat kaget mendengar ucapan Aji.


''Iya, dia lagi di terapi di sana.''


''Gile lu! elu apain dia sampe dia bisa di rawat disana hah?'' spontan Bagas menaikkan volume suaranya.


''Jangan ngegas dong! gue enggak apa-apain dia kok'' jawab Aji dengan enteng.


''Gimana bisa enggak lu apa-apain tapi sampe masuk ke tempat itu!'' Bagas jadi emosi sendiri melihat Aji yang terlihat santui.


''Makanya, gue tu pengen curhat sama lu. Tapi, lu malah ngusir gue!'' Aji merebahkan tubuhnya di sofa panjang langganannya jika ia main ke rumah Bagas.


''Oke. Lu ceritain aja, gue akan dengerin'' pungkas Bagas.


''Tapi, gue ngantuk sekarang. Besok aja deh!'' Aji memejamkan matanya.


''Sialan lu!'' Bagas melempar bantal ke wajah Aji.


''Sahabat laknatt lu!'' umpat Aji.


''Elu yang laknatt!!''Bagas kembali mengumpat.


''Dah lah, sana pulang. Bikin empet lu!'' Bagas meninggalkan Aji dan ia memilih masuk ke dalam kamar.


''Akhirnya, bisa juga gue bercanda lagi sama lu Gas'' Aji terkekeh pelan. Ia sudah lama tidak merasakan kehangatan persahabatannya selama ia hidup bersama Vivi beberapa bulan tetakhir.


-


-

__ADS_1


Skip aja kalo enggak enak di baca.


__ADS_2