
Bab 84
Pertemuan yang tak di inginkan
Mika membuka matanya dengan lebar dan nampak wajah seorang wanita yang sangat ia rindukan. Sejak kepulangan kedua orang tuanya dan ia hanya tinggal sendiri, ia merasa kesepian. Mika langsung memeluk ibunya dengan erat. Mencurahkan rasa rindu yang ada.
''Maafkan Mika, Bu.'' Mika menangis dalam pelukan ibunya.
''Ibu nggak masalah kamu mau datang ke sini kapan, dapat kabar dari kamu aja ibu udah seneng.'' Ucap bu Rizal sambil mengelus punggung Mika.
Mereka masuk ke dalam ruangan khusus yang sudah di persiapkan.
''Bu, ini ada apa? Kok rumah kita di hias-hias kayak gini,'' tanya Mika dengan heran.
''Untuk kebahagiaanmu, sayang.'' ujar sang ibu dengan senyum mengembang.
''Maksud ibu?'' Mika masih tidak mengerti dengan ucapan ibunya.
''Ayo masuk, dan duduk. Orang-orang sudah menunggu. Kamu menurutlah, ibu sudah sangat yakin ini adalah pilihan yang terbaik buat masa depan kamu.'' Ucap bu Rizal memastikan ucapannya.
''Bu, aku mau di apain?'' Mika menatap ibunya dengan bingung. Para penata rias langsung menyerbu Mika dengan gerakan seribu bayangan. Ibu Mika terus mengulas senyum menatap putrinya mulai di dandani.
Setelah satu jam menunggu dalam ruangan itu, bu Rizal tersenyum puas dengan hasil sang penata Rias. Mika nampak cantik dan menawan.
Mika berkaca-kaca menatap wajah ibunya, ia tidak tahu apa yang sudah di rencanakan oleh kedua orang tuanya. Namun, setelah ia menatap penampilannya di depan cermin. Ia bisa melihat dengan jelas, jika sekarang ini ia akan di pinang. Apakah benar apa yang semalam di ucapkan oleh Anwar. Kalau ia, sungguh sangat tega sekali kedua orang tuanya memaksakan kehendak mereka tanpa tahu apa yang di inginkan oleh anaknya.
Menjadi dewasa itu ternyata sangat sulit. Mika meneteskan air matanya, hatinya tidak terima dengan semua ini. Tidak ada perencanaan dalam hidupnya untuk menikah yang kedua kalinya. Mengapa semua ini terjadi begitu saja, aku bukanlah boneka yang bisa di mainkan sesuka hati. Aku ini manusia, aku punya pilihan. Aku punya keputusan sendiri. Mika menatap langit-langit ruangan menahan air matanya yang sudah begitu menggunung. Tanpa ia ketahui jika ia tengag di perhatikan oleh seseorang diambang pintu.
Prosesi ijab qabul telah usai dan ia di haruskan keluar untuk bertemu dengan pria yang telah menjadikannya makhram.
__ADS_1
Tak di sangka dan tak terduga, Mika di bimbing langsung oleh ibunya keluar dari kamar.
''Hapuslah air matamu nak, ibu percaya. Kebahagiaanmu tidak akan pernah sirna untuk yang kedua kalinya.'' Bu Rizal mengusap lembut air mata putrinya dengan sehelai tissue. Mika hanya diam menanggapi perkataan ibunya.
Langkah kakinya terasa sangat berat, hingga ia begitu enggan untuk mengangkat kakinya. Dengan senyuman, ibunya Mika memberikan motivasi dan penyemangat pada anaknya hingga Mika menjadi pasrah. Ia pasrah dengan keadaan yang membelenggu dirinya.
Acara pun berlanjut, usai ijab mereka menuju gedung untuk melanjutkan pesta. Para tamu yang hanya orang-orang tertentu saja yang datang sudah siap memberikan selamat pada sepasang pengantin tersebut.
Di sisi lain, seseorang yang sedari tadi resah dan gelisah di bangku yang ia duduki membuat sahabatnya ikut gusar.
''Lu kenapa, nggak bisa diem. Gue jadi nggak konsen nyetir nih!'' tegur Bagas pada Aji.
''Perasaan gue nggak enak banget,'' ujar Aji.
''Kenapa? Bentar lagi kalian pasti akan bertemu. Jadi, lu harusnya bahagia. Berharaplah pertemuan kalian nanti mulus dan bahagia. Bukan seperti ini,'' tutur Bagas dengan tegas.
Aji nampak menghembuskan napas pasrahnya ia merasa tidak yakin akan ucapan dari Bagas. Namun, ia harus berusaha berfikir positif agar tidak berfikir yang bukan-bukan.
Tak jauh dari rumah itu, ada gedung pesta. Mata Aji membola begitu melihat sebuah papan ucapan. Bibirnya bergetar hanya sekedar untuk membaca papan namara tersebut.
Bagas yang sedari tadi fokus pada memarkirkan kendaraan, ia tidak melihat jika sang sahabat tengah tegang seperti habis tersengat listrik.
''Acara apaan itu ya?'' tanya Bagas seraya turun dari mobil. Ia tidak melihat Aji yang masih terpaku di kursinya.
Tidak berselang lama, Aji pun keluar dan menyusul Bagas yang sudah lebih dulu membaur dalam keramaian. Meski tidak terlalu ramai, tapi lumayan sesak jika berada di tengah-tengah mereka.
Aji mengikuti langkah orang-orang yang ada dalam jalur masuk pesta tersebut. Matanya terus menatap ke depan dan mencari sosok orang yang dia rindukan.
Begitu sumber yang ia cari-cari itu ada dalam pandangan mata, sedang duduk di kursi pelamaninan bersama seseorang yang ia ketahui.
__ADS_1
Degh
Jantung Aji serasa ingin lepas dari rongganya, tatapannya tiba-tiba nanar dan rasa tidak percaya akan penglihatannya, ia menepuk-nepuk pipinya untuk meyakinkan jika ini bukanlah mimpi.
Bibirnya kelu untuk sekedar menyebut nama seorang yang ia cari. Hatinya teriris perih melihat sang pujaan hati bersanding dengan pria lain.
Lengan seseorang menepuknya pelan seolah tengah memberinya kekuatan untuk tetap tegar di kondisi ini.
Pria itu pun sama halnya, ia tidak menyangka akan semua ini. ''Lu yang kuat, Bro.'' ucapnya lirih membuat sang empu menatapnya dengan nanar. Kali ini, pria itu kembali memperlihatkan air matanya, bukan type seorang Aji untuk menjadi pria cengeng. Tapi entah mengapa, keadaan yang membuatnya harus seperti ini.
''Cabut, bro.'' ajak Aji yang langsung meninggalkan Bagas. Namun, Bagas belum bisa tenang jika ia tidak mendapatkan sebuah informasi yang bisa menjelaskan semuanya.
Ia pun menyusuri tempat itu untuk bisa naik ke atas mengikuti langkah tamu yang ingin memberinya sebuah ucapan selamat.
Tiba di gilirannya, Bagas tersenyum menatap Mika yang nampak sedih dan tidak senang dengan acara yang ia jalani.
Mata Mika menatap nanar saat tahu seseorang yang kini ada di hadapannya, pasti Bagas bersama dengan Aji. Ia sangat yakin, bibirnya pun bergerak menanyakan posisi pria itu pada Bagas yang ingin mengulurkan tangan pada Anwar.
''Mana dia?'' tanya Mika penuh permohonan.
Anwar yang berada di sisinya pun langsung menatap tajam pada Mika. Bagaimana bisa, ia sedang berada di acara yang membahagiakan tapi Mika malah menanyakan orang yang ada di masa lalunya.
Bagas pun menatap tempat yang tadi ada Aji bersamanya, namun pria itu sudah pergi entah kemana. Ia pun menjawab dengan mengangkat bahu jika ia pun tidak tahu di mana keberadaan Aji sekarang.
***
Maaf ya guys, semakin ke sini isi ceritanya semakin ngalor ngidul.
Harusnya ini sudah mau di tamatkan. Tapi aku tiba-tiba pengen ikut event. Jadi di lanjut lagi. Doakan ya teman-teman. Semoga aku bisa ngelanjut part ini sampai batas waktu yang di tentukan.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan kalian, semoga sehat selalu dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Dukungan kalian adalah penyemangatku. Love you so much