Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 108


__ADS_3

Bab 108


Di tatapnya sang istri yang sudah terlelap, Anwar pun perlahan merebahkan tubuhnya di sisi Mika. Dengan gerakan pelan agar kasurnya tidak menimbulkan gerak yang berlebih dan membangunkan Mika.


Namun, baru saja kepala Anwar mendarat sempurna di atas bantal. Mika kembali terjaga dan menatap Anwar dengan sinis.


''Mas, kok kamu nggak kerja. Pergi sana kerja, jangan malas!'' usir Mika lagi.


''Tapi, pinggang aku pegel sayang, pengen bobo bentarrrr aja...' lirih Anwar dengan memohon.


Mika pun mendorong pelan tubuh Anwar agar turun dari tempat tempat tidur. Dia benar-benar ingin anwar pergi sekarang juga karena bosan melihat mukanya.


''Kerja, nggak boleh malas. Nanti anak ini mau makan enak dan belanja sepuasnya. Papanya harus cari uang yang banyak.'' jurus andalan Mika agar Anwar segera pergi.


''Iya, iya, Mas pergi dulu ya, sun dulu dong!'' pinta Anwar sambil menunjuk pipinya dengan telunjuk agar Mika mengechup pipinya sebagai salam.


''enggak, udah sana sana!'' sisi jutek Mika pun keluar. Moodnya sering berubah ubah seperti bungklon. Mau tidak mau Anwar menuruti permintaan istrinya. Dia keluar dari kamar dan memilih tidur di sofa ruang tamu.


''Gini amat punya bini lagi bunthing,'' keluh Anwar sembari meraih bantal kursi dan dia pun baring di sana.


Anwar pun terlelap di sofa tersebut, asisten rumah tangganya yang melihat Anwar tidur di sofa dan sempat mendengar Mika mengusirnya hanya bisa tersenyum simpul. Lalu berlalu dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tiga jam kemudian, Bi Nunung yang biasa memasak di sana membangunkan Anwar dengan perlahan.


''Tuan, Tuan,'' panggil bi Nunung di bawah kaki Anwar.


Hmm


Anwar hanya berdehem tanpa membuka mata sekali pun dia bener bener lelah dan tak ingin di ganggu.


'' makan siang sudah siap tuan,'' ucapnya.

__ADS_1


Hmmm


Hanya kalimat itu yang Anwar keluarkan. Tubuhnya benar-benar tak ingin di ajak untuk bangun. Dia tetap melanjutkan tidurnya lalu meraih mimpi indah yang belum tercapai.


Sementara di dalam kamar, Mika mengerjapkan matanya beberapa kali hingga melek sempurna. tubuhnya terasa pegal pegal dan ingin di pijit. Dia meliukkan badannya ke kanan dan kiri, matanya menyapu sekeliling ruang kamar yang saat ini dia tempati. Sepi, sunyi hanya terdengar suara ac yang mendominasi.


''Mas,... Kamu di mana?'' panggil Mika sembari menuju ke kamar mandi. Dia tidak ingat sama sekali telah mengusir suaminya dari kamar tadi sebelum dia tidur.


Saat melihat ke dalam kamar mandi, ruangan itu kosong tak berpenghuni. '' Mana dia,'' gumam Mika.


Mika mencuci muka dan menggosok gigi, setelah itu dia memilih untuk mandi. Rasanya lebih segar jika sudah mandi. Harum sabun dan shampo begitu semerbak saat mika keluar dari kamar mandi.


Mika membuka lemari dan mendapati sudah ada pakaian wanita di dalam sana. Mika mengambil salah satu pakaian itu yang masih tertera harga dan juga mereknya.


''Punya siapa ya ini, alapa punya si Anggi.'' bisik Mika.


Dia mengambil satu dres santai selutut berwarna kuning tua. Warnanya begitu cerah memancarkan sinar kulitnya yang putih.


Ngomong-ngomong soal Anggi, tu anak kemana ya, aku kok jadi kangen. Gumam Mika memikirkan adik Anwar yang satu itu. mereka berdua berteman baik dan bahkan Anggi sangat mendukung hubungan mereka.


Mika memanggil bi Nunung yang kebetulan sedang mengelap meja.


''Bi, sudah menyiapkan makan malam?'' tanya Mika.


''Sudah, nyonya. Tapi, maaf...'' ujar bi Nunung.


''Maaf kenapa, Bi?'' heran Mika. alisnya terangkat sebelah karena bingung.


''sekarang masih siang Nyonya. Belum malam,'' canda bi Nunung mengullum senyum. wajahnya yang sudah di hiasi kerutan tampak jelas saat senyumnya mengembang.


''Oh... Masih siang, maaf bi saya lapar. Jadi lupa hari,'' ungkap mika dengan nyengir menampilkan deretan giginya.

__ADS_1


Mika langsung duduk di meja makan dan bi nunung dengan sigap melayanini Mika. mengambilkan nasi beserta lauk pauk.


''Bi, ini sayur asen kan?'' tanya Mika yang melihat msakan berkuah sedikit merah kekuningan.


''Iya, nyonya. Ini pedas, kesukaan tuan Anwar.'' terang bi nunung.


''Aku mau dong, pakai mangkok kecil ya, bi.'' titah Mika.


''Baik,'' jawab bi Nunung seraya mengambilkan sayur asem dan menungkan ke dalam mangkok kecil.


''Bi, mas anwar mana ya. Kok nggak keliatan?'' tanya Mika di sela-sela dia mengunyah.


''Ada kok, Nya. Mau saya panggilkan?'' usul bi nunung.


''Iya, dia belum makan dari pagi, pasti dia kelaparan.'' desis Mika sambil menyuap makanannya.


Bi Nunung pun menuju ke ruang tamu di mana saat ini Anwar berada dan tengah tidur sangat nyenyak.


Bi Nunung kembali membangunkan Anwar yang tidur dengan sangat pulas. sebenarnya dia tidak tega membangunkan majikannya. karena Selama Ini dia tidak berani membangunkan sampai dua kali, hanya sekali saja jika tidak bangun dia tidak mengulang kembali. Takut jika tuannya itu akan marah.


Kini dengan terpaksa dia membangunkan Anwae karena permintaan dari Mika. Wanita itu ingin makan siang bersama suaminya.


''Tuan, Nyonya meminta anda untuk makan siang bersama,' ucap bi Nunung pelan.


Mendengar kata Mika, Anwar langsung berkedip kedip untuk menghilangkan rasa kantuknya. Walau pun sudah tidur tiga jam lamanya, Anwar masih sangat mengantuk karna tubuhnya terasa remuk.


''Iya, bik.'' Anwar terkesiap.


''Nyonya menunggu di meja makan tuan,'' ujar bi Nunung. Lalu undur diri.


Setelah nyawanya terkumpul, Anwar pun beranjak menuju ke ruang makan menyusul sang istri yang sudah menunggunya.

__ADS_1


'Lama banget kamu mas, dari mana aja,'' geruru Mika dengan mulut penuh makanan.


''Aku habis kerja lembur, sayang,'' ucap Anwar.


__ADS_2