
Bab 106
Bertemu Vivi dan juga Viona
dalam perjalanan Aji mengendarai motornya sambil bersiul-siul. dia menjalankan kendaraannya dengan santai bagai tanpa beban. Aji melajukan motornya menuju alamat yang tidak sulit di cari. Hanya butuh waktu lima belas menit Aji sudah masuk ke dalam gang.
Rumah sederhana dengan halaman yang luamayan luas untuk ukuran rumah di sana. Aji memarkirkan motornya. Dia menatap kembali alamat dan ciri-ciri yang tadi di lihat dari ponsel bu Minah.
''Ini benar alamatnya,'' gumam Aji dan dia mulai mengetuk pintu.
Tok
Tok
Tok
Aji mengetuk pintu beberapa kali dan terdengar sahutan dari dalam suara seorang wanita.
''Ya, sebentar,'' ucap ssang wanita itu. Aji menunggu dengan santai sambil mengamati sekeliling halaman luas itu. Tidak ada bnyak bunga di sana. Halaman itu hanya di tumbuhi rumput teki saja.
Cklek
Pintu pun terbuka dan muncul lah Vivi di sana.
Bola mata Aji membulat bersamaan dengan Vivi begitu tatapan mereka beradu.
Degh
Vivi mau pun Aji tak menyangka akan di pertemukan lagi saat ini. Tubuh keduanya terdiam membisu tanpa ada yang bergerak atau bersuara sepatah kata pun. Sorot mata itu nampak mendalam. Dalam tatapan Vivi ada segelayut rasa kerinduan yang begitu dalam kala melihat orang yang dia rindu ada di depan mata.
Apakah ini hanya mimpi, tapi aku sedang bekerja barusan. Tidak mungkin terlelap. Kata Vivi dalam hati meyakinkan penglihatannya. Kenapa dia bisa melihat Aji berwujud nyata saat ini. Dia pun memegang pipinya sendiri jika saat ini dia sedang sadar dan bukan mimpi belaka.
Aji yang tak menyangka jika melihat orang yang sudah pergi dari kehidupannya dan memberinya kesempatan untuk mengejar cinta sejatinya namun kesia-siaan yang dia dapat pun tak terfikir akan di pertemukan kembali. Orang yang sangat mencintai dirinya dulu ada di depan mata.
Karena tak kuasa menahan rindu, Vivi langsung berhambur memeluk tubuh Aji, rasa rindu yang mendalam mengalahkan egonya untuk melupakan pria itu. Cinta pertamanya dalam hidup hingga memiliki seorang putri yang cantik.
Vivi menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aji tanpa ia sadari air matanya luruh membasahi pakaian yang pria itu kenakan. setelah beberapa menit Vivii pun mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Aji yang terpaku di posisi.
__ADS_1
'' Aku sangat merindukanmu Aji,'' ujar Vivi terisak.
Aji bergeming, dia tak tahu harus bersikap bagaimana. Vivi pernah hadir dalam hidupnya dan singgah di hatinya. Jemarinya pun terangkat membelah pipi Vivi yang di linangi air mata.
''Oh, ya. Maaf, kamu kok bisa sampai ke rumahku, ada apa, Ji?'' tanya Vivi setelah ia tersadar dari belenggu rindu nya.
''Oh, aku mau ambil pesanan tas,'' ujar Aji. Dia pun baru ingat dengan tujuan utamanya.
''Tas?'' Vivi membeo. Seperti tidak percaya dengan yang barusan dia dengar. Setelah wanita itu mengecek ponselnya. Dia pun menemukan jika tas itu akan di ambil saat ini.
''Apa benar ini yang kamu pesan?'' tanya Vivi memastikan. Dia pun mulai mengambil barang tersebut sesuai yang ada di gambar.
''Iya, itu benar. Bisa aku cek dulu,'' usul Aji.
Vivi pun menyerahkan tas tersebut dan Aji mulai mengeceknya. Setelah puas cek n ricek, Aji membayar tas pesanan bu Minah itu.
''Aku pulang dulu,'' pamit Aji.
''Tunggu!'' cegah Vivi saat Aji akan beranjak dari rumahnya.
''Ikut aku.'' Vivi mengajak Aji menuju kamarnya.
Vivi hanya tersenyum tipis dan langsung menunjukkan kamar di mana Viona berada.
Saat berdiri di ambang pintu, putri kecil itu sudah terbangun dan duduk di atas kasur.
''Lihatlah, dia sudah tumbuh besar,'' terang Vivi. Wanita itu menggendong Viona mendekat ke arah Aji. Aji melihat Viona sangat mirip dengan wajahnya.
'Apakah Viona benar putriku?' gumam Aji dalam hati. Dia mengusap pipi mungil itu dengan lembut.
Tangan Viona terangkat ke atas seperti minta di gendong. Dia ingin di gendong oleh Aji.
Aji menatap ke arah Vivi dan wanita itu mengangguk.
''Pa pa pa pa pa,'' celoteh Viona yang sontak membuat Aji kaget sekaligus senang. Gadis kecil itu menyebut dirinya papa. Meski belum takin seratus persen, Aji menggendongnya.
''Dia sangat mirip dengan kamu, Aji.'' Vivi melangkah menuju dapur. Dia ingin membuatkan tamunya itu minum. Dia masih ingin berlama-lama dengan pria itu untuk mengusir rasa sepi dal hidupnya.
__ADS_1
Aji mulai mengajak Viona berbicara. Meski anak kecil itu tidak terlalu paham, dia tertawa lepas. Mereka berdua bercanda ria.
Begitu mudah sekali mereka mengakrabkan diri hingga Aji berlama-lama di sana.
''Ji, bolehkah aku meminta waktu kamu untuk menemani kami makan siang,'' pinta Vivi.
''Tapi, aku harus segera pulang, lain kali saja.'' tolak Aji. Dia hendak bergegas untuk pulang. Ponselny pun sudah bergetae berkali kali. Pasti bu Minah telah menghubunginya untuk menanyakan barang miliknya.
Saat Aji akan pergi Viona malah menangis, dia tidak mau di tinggal oleh Aji.
''Ya udah, lain kalo kamu mampir lagi ya, Viona merindukan kamu,'' ucap Vivi.
Vivi mencoba memberi pengertian pada putrinya jika Aji harus pergi. Seperti ikatan batin itu terasa begitu kuat dan tak ingin terpisah lagi. Viona akhirnya bisa berhenti menangis setelah Aji mengeccupnya berkali kali dan membuat Viona tertawa lagi.
''Aku pamit dulu,'' ucap Aji.
''Iya, terimakasih ya,'' jawab Vivi.
Aji akhirnya pulang untuk mengantar pesanan bu Minah yang sudah si tunggu sejak tadi.
''Kok lama sekali, nak Aji. Apa kamu kesasar sampai lorong-lorong?'' tanya bu Minah begitu Aji sampai di rumahnya.
''Ah, iya bu. Maaf ya kalau kelamaan.'' jawab Aji sekenanya.
''Ya sudah, yang penting kamu selamat sampai rumah. Terimakasih sudah mau ibu repotkan hampir tiap hari.
''Iya, nggak apa kok bu, ini kuncinya saya pamit pulang ya, bu.'' ucap Aji menyerahkan kunci motor milik bu Minah.
''Iya, makasih sekali lagi,'' ujar Bu Minah.
Aji langsung pulang dan dia masuk ke dalam rumah kontrakan miliknya. Beberapa hari ini, dia sudah menemukan pekerjaan yang lebih baik dan akan memulai pekerjaan itu besok pagi.
...****************...
Pagi pagi sekali Aji sudah bersiap dengan pakaian kemeja dan berpenampilan rapi. Dia siap untuk melakukan pekerjaan baru di sebuah kantor kecamatan. Berkat bantuan orang yang menolongnya waktu itu akhirnya dia bisa menjadi perangkat desa.
Tugas yang akan Aji kerjakam juga tidak terlalu berat, yang penting dia punya pekerjaan layak dan bisa membangun usaha sendiri nantinya. Dia benar-benar memulai semuanya dari nol lagi.
__ADS_1
Itulah hidup, roda akan berputar pada porosnya. Jika kita sebagai pengendaranya, maka kita harus mengarahkan kendaraan itu sesuai dengan tujuan kita yang sebenarnya.
Hidup manusia mau bahagia, menderita atau bahkan penuh cobaan yang sangat sulit sekali pun. Jika kita bisa mengendalikannya maka kita bisa mencapai tujuan kita untuk menjadi lebih baik lagi.