Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 60


__ADS_3

Flashback on


Pada pukul empat pagi, Vivi sudah berada di ruang operasi. Vivi siuman sejenak sebelum dokter melakukan operasi. Dokter sudah siap dengan peralatan medisnya di bantu oleh tim medis untuk membedah perut Vivi.


''Egh!'' lenguh Vivi. Ia membuka matanya dengan pelan. Tatapan matanya buram dan anggota tubuhnya tak dapat di gerakkan.


''Pasien sadar, Dok.'' Ucap salah satu dari tim.


Dokter langsung memeriksa tubuh Vivi dengan intens. Vivi meminta pada orang yang ada di hadapannya untuk bertemu dengan seseorang. Setelah ia memasatkan pandangannya pada sosok yang mengelilinginya. Ia paham bahwa dirinya sedang di tangani oleh dokter.


''Dok, saya mau bertemu kakak sepupu saya,'' ucap Vivi dengan suara serak.


''Sus, tolong panggilkan salah satu keluarganya yang sedang berjaga di luar.'' Perintah pak dokter. Suster yang di suruh pun langsung bergerak keluar memanggil salah satu keluarga Vivi.


Tak berselang lama, masuklah Anwar berasa si suster yang tadi memanggilnya masuk ke ruang operasi dengan pakaian khusus. Setelah itu Anwar mendekat ke arah Vivi yang matanya merem melek menahan sesuatu.


''Vi, kamu sudah sadar? syukurlah,'' ucap Anwar. Ia merasa senang melihat adik sepupunya sudah siuman.


''Kak, aku udah nggak kuat rasanya, titip anakku pada Mi-ka, ya,'' lirih Vivi.


''Vi, kamu pasti kuat, kamu pasti bisa melewati ini semua, Vi, Vivi,...'' Anwar memanggil-manggil Vivi yang sudah tak sadarkan diri lagi setelah mengucapkan permintaannya. Anwar pun langsung menyingkir karena dokter akan segera melakukan tindak lanjut untuk keselamatan dua nyawa di hadapannya.


Anwar akhirnya keluar dari ruang operasi karena prosedur yang sudah berlaku. Ia pun tak tega melihat adik sepupunya akan di sayat-sayat perutnya. Dengan wajah tertunduk lesu. Ia merasa khawatir akan terjadi sesuatu. Namun, ia harus berfikir positif.


Flashback Off


***


Balik lagi ke tempat Anwar dan Mika


Anwar teringat akan pesan Vivi padanya. Setelah ia menyampaikan pada Mika atas apa yang di sebutkan oleh Vivi padanya waktu itu. Ingin sekali Anwar menanyakan jawaban atas keputusan Mika tentang hal itu. Namun, pasti akan merusak suasana yang romantis ini. Akhirnya ia urungkan dan memutuskan untuk fokus menyerahkan hadiah kecil darinya untuk Mika. Orang yang telah lama ia sukai, sejak wanita itu mulai menapakkan kaki di toko miliknya.


Anwar membuka kotak kecil yang berisi sebuah kalung liontin berbentuk bintang dan matahari. Sementara Mika memperhatikan kalung yang terbuat dari berlian itu dengan seksama.


''Apa ini, Mas?'' tanya Mika.


''Hadiah ulang tahunmu,''

__ADS_1


''Maaf, aku,...'' ucap Mika terputus. Ia ingin menolak pemberian dari Anwar. Namun, langsung di interupsi oleh si empunya hadiah.


''Ini hanya hadiah dari seorang teman yang sangat menyayangimu, tidak ada maksud lain. Jangan kamu tolak, ya,'' tegas Anwar. Ia pun memakaikan pada leher Mika.


''Cantik!'' puji Anwar setelah ia selesai memasangkan kalung tersebut.


''Makasih, Mas,'' balas Mika. Ia tersenyum kaku mendapat perhatian lebih dari Anwar. Karena, ia sebenarnya malu menerima pemberian dari orang lain apalagi suatu barang yang berharga tinggi. Mika merasa tidak pantas untuk menerima itu.


Mereka kemudian menikmati suasana yang sudah di persiapkan oleh Anwar yang terlihat sangat romantis bagi siapa saja yang melihat dekorasi dari tempat itu. Mengobrol ringan untuk menghilangkan beban di pikiran masing-masing.


Mika dan Anwar pun akhirnya menyudahi acara itu, lalu mereka meninggalkan tempat tersebut dan berjalan-jalan di sekitaran tempat ini.


**


Setelah berjalan mengitari taman tersebut, Mika pun teringat akan permintaan Vivi yang di sampaikan Anwar kemarin. Ia pun sudah memberi keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga kebaikan semuanya.


"Mas," panggil Mika. Ia duduk di bangku taman yang sudah tersedia di sana.


"Aku mau kasih tahu tentang yang kemarin," lanjut Mika.


''Maaf,'' ucap Mika.


Anwar pun mengernyitkan kening sejenak. Ia mencoba menelaah maksud dari kata maaf yang terucap dari bibir Mika.


''Maaf, aku nggak bisa memenuhi permintaan Vivi, Mas.'' Lanjut Mika.


Anwar langsung menghembuskan nafas kasarnya. Ternyata, sangat sulit untuk menembus hati Mika yang sudah terluka. Ia pun manggut-manggut saja mendengar penuturan Mika.


''Baiklah, jika itu keputusanmu. Mas, hanya menyampaikan permintaan terakhir Vivi.'' Ungkap Anwar dengan suara beratnya.


''Ayo, kita Pulang, hari sudah semakin larut,'' ajak Anwar. Ia pun bangkit dari duduknya.


''Mas, bagaimana kondisi Vivi sekarang?'' tanya Mika. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak menentu saat mendengar ucapan Anwar yang terakhir.


Drrtt drrrt


Ponsel Anwar bergetar dan tertera nama Anggi di sana sedang memanggil di ponselnya.

__ADS_1


''Halo, Nggi,'' Anwar menjawab teleponnya.


"....''


''Apa?!, kakak akan kesana sekarang.'' Anwae langsung mematikan sambungan teleponnya dan menarik tangan Mika begitu saja menuju mobilnya yang terparkir.


''Mas, ada apa?'' Mika melihat wajah tegang Anwar dan membawanya masuk ke dalam mobil.


''Kita ke rumah sakit sekarang.''


Anwar memacu mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit setelah mendapat kabar tak mengenakkan dari Anggi. Setelah lima belis menit menempuh perjalanan menuju rumah sakit. Akhirnya mereka sampao di mana ruangan Vivi berada.


''Kak,'' panggil Anggi saat melihat Anwar dan Mika menghampirinya.


''Bagaimana kondisinya?'' tanya Anwar dengan sangat khawatir. Terlihat Anggi matanya memerah karena sehabis menangis.


''Kritis kak,'' jawab Anggi dengan suara paraunya.


Mika yang mendengar kondisi Vivi kritis menjadi terenyuh. Bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Kasihan nasib bayinya. Bayi Vivi yang masih berada di ruangan khusus agar bisa terjamin keselamatannya.


Melihat Anwar dan Anggi sedang terduduk lesu memikirkan kondisi sepupu mereka, Mika memilih melipir dan pergi dari sana. Ia menyusuri ruangan lain. Langkah kakinya sampai di depan ruangan khusus bayi. Terlihat dari balik kaca tebal, seorang bayi mungil yang di pasangi alat-alat bantu di tubuhnya dengan mata terpejam. Mika merasa terisis hatinya melihat keadaan bayi yang seperti itu. Tanpa terasa, ia meneteskan air mata. Tangannya terlulur dan menempel di kaca luar ruangan seolah ingin menggapai dan mengelus bayi tersebut.


Cukup lama Mika berdiri di depan ruangan sambil mengamati bayi mungil tersebut, fikirannya entah berada dimana saat ini. Air mata yang menetes pun tak terasa dari sela pipinya.


Getar ponsel dari dalam tas membuyarkan lamunan Mika. Ia pun mencari ponselnya dan melihat layar pipih tersebut. Pesan dari sang ibu yang menanyakan keberadaanny saat ini.


Tanpa terasa, hari sudah semakin larut. Mika segera membalas pesan bu Dina agar tak khawatir memikirkannya.


-


-


**Halo, author kembali menyapa kalian ya, dear. Maaf jika kurang pas alurnya, ya. Ini beneran udah nguras isi kantong. Eh, isi kepala ding. Hehehe, canda.


Untuk kali ini, aku mau rekomendasiin cerita milik sahabat haluku. Sembari menunggu aku update bab berikutnya, jangan lupa mampir ke sini ya 👇**.


__ADS_1


__ADS_2