Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 102


__ADS_3

Bab 102


Kabar yang tak di harapkan


Setelah Mika tertidur, Anwar terus memaksa dokter pribadinya untuk bisa datang ke mantion miliknya untuk segera memeriksa kondisi Mika. Meski dokter itu sudah mengatakan untuk menunggu dua jam lagi. Tapi Anwar yang tidak sabaran pun terus menghubungi hingga dokter tersebur di buat kesal olehnya.


''Aku sedang ada praktek. Kalau kamu memaksa terus aku yang akan pecat kamu dari pasien pribadi!'' ancam dokter Lina di seberang telepon.


''Kau mengancamku?'' gerutu Anwar tak terima.


''Tentu, bukan hanya kau saja yang bisa mengancam. Aku juga bisa melakukannya.'' dokter Lina pun tak ingin kalah.


''Ya-ya-ya. Aku tunggu kau sejam lagi. Awas kalau telat!'' ancam Anwar dan memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa ingin mendengar komplain di seberang sana.


Setelah menunggu selama satu jam dengan perasaab resah dan gelisah, akhirnya Anwar bisa bernapas lega saat dokter Lina memasko mantionnya bersama mobil kesayangannya dan di antarkan oleh scurity untuk menuju ke kamar pribadi miliknya.

__ADS_1


Seorang wanita cantik yang seumuran dengan Anwar berjalan dengan tergesa menaiki undakan tangga dengan menenteng tas yang berisi alat-alat medis.


Setibanya di kamar yang di tuju, wanita itu pun langsung di persilahkan masuk dan di sambut oleh Anwar dengan beberapa pertanyaan.


''Kenapa kau lama sekali,'' celetuk Anwar yang langsung di balas dengan tatapan sinis oleh dokter cantik tersebut.


''Aku tidak ingin berdebat denganmu.'' Dokter Lina mulai mengeluarkan alat-alat miliknya dan mulai menjalankan tugasnya.


Anwar pun dengan gerakan cepat secara perlahan membangunkan Mika. Dia berkata dengan sangat lembut


Mika pun nampak mengerjapkan matanya dan tatapannya langsung tertuju pada sosok dokter yang tersenyum ramah padanya.


''Kita periksa dulu, ya Bu. Keluhan apa yang ibu rasakan?'' dokter Lina sembari mengukur tensi dan memberikan beberapa persoalan yang di keluhkan oleh Mika.


Saat mendengar penjelasan Mika, dokter itu pun bertanya perihal tanggal terakhir pada saat Mika datang bulan. Lalu dia pun tersenyum saat mendengar tanggal yang di sebutkan oleh Mika telah lewat.

__ADS_1


''Apa hubungan penyakit Mika sama kalender, Lin?'' tanya Anwar dengan bingung meski sejak tadi dia menyimak obrolan antara dokter Lina dan juga Mika sang istri.


''Tentu ada, dan ini hanya perempuan yang mengalaminya. Kau tak akan paham!'' tukas dokter Lina.


''Sudah sebaiknya kau langsung saja kasih tahu sakit apa sekarang yang sedang di derita oleh istriku.'' tekan Anwar yang tidak suka berbelit-belit.


Dokter Lina mengeluarkan sebuah alat pengetes kehamilan dari dalam tas miliknya. Lalu dia pun memberikan petunjuk penggunaan pada alat tersebut pada Mika.


Saat tahu jika itu adalah sebuah alat tes kehamilan, Mika langsung nampak shock dan tidak menyangka kalau dia malah di diagnosa sedang hamil.


''Apa aku hamil?'' gumam Mika dengan wajah yang mematung dan nampak kaku. Meski dengan langkah ragu, Mika menuju ke kamar mandi.


Sementara Anwar terpancar binar matanya yang bersinar. Dia berdoa agar apa yang di ucapkan oleh dokter pribadinya itu menjadi kenyataan alias benar diagnosisnya.


''Topcer ya, bibitmu cepat bersemi.'' ledek dokter Lina pada Anwar yang menanti Mika dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


''Apaan tuh, topcer? Bahasa dari mana?'' tanya Anwar balik.


__ADS_2