Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 72


__ADS_3

Setibanya di depan ruangan yang di tuju, Bagas membuka pintu itu lebar-lebar dan nampaklah Vivi, Aji dan juga Mika dalam satu ruangan dengan wajah yang tegang serta mimik muka yang tak bersahabat. Sudah bisa di pastikan jika mereka habis bersitegang.


Bagas masuk dan merapatkan pintu kembali dan mengamati setiap sudut wajah ke tiga orang yang ada di dalam.


''Kamu kenapa, Mi?'' tanya Bagas yang melangkahkan kaki mendekat ke arah sofa yang kini Mika tempati. Sementara Vivi berada di sudut dinding dan tak jauh dari Aji.


Senyap, tak ada yang membuka suara. Bagas pun mendekat ke arah Aji yang sudah di pastikan semua tidak baik-baik saja.


Bagas menepuk pelan pundak sahabatnya itu. Dia pun berjalan keluar dari ruangan lalu Aji pun ikut keluar menyusul langkah Bagas. Meisya menghampiri Mika dan memeluknya, dia tahu jika sahabatnya kini sedang tertekan.


''Lu nggak papa kan, Mi?'' Meisya mengusap punggung Mika.


''Gue nggak papa,'' ucap Mika tegar, suaranya pun terdengar tenang.

__ADS_1


Sementara Vivi yang melihat dua wanita saling menguatkan itu merasa kesal, dia menghentakkan kakinya ke lantai dan langsung melewati mereka dengan menyenggol kasar bahu Mika. Entah mengapa rasa itu sangat mencuat ke permukaan dan ingin sekali mencekik lehernya. Namun, Mika masih waras. Demi kesehatan jasmani dan rohaninya, Mika memilih untuk menenangkan diri dan pulang ke rumah.


Suasana kantor sedang riuh oleh bisik bisik para staff lain mengenai Mika dan juga Vivi. Tapi Mika tak memperdulikan itu.


Dalam perjalanan pulang, Mika mengunci bibirnya. Meisya yang sedari tadi mengamati tidak ingin membuka suara agar semua mengalir dan tenang seperti sedia kala.


setibanya di rumah, Mika duduk di teras dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar.


"Mey, gue harus apa sekarang. Gue nggak bisa di giniin sama wanita itu!" kata Mika.


Sementara di kantor, khususnya di kantin. Dua orang Pria sedang duduk berhadapan dengan secangkir kopi yang menemani. Masih saling diam tak ada suara sama sekali. Aji sedang menghidari perdebatan dan memilih diam. Hingga kopi itu habis dan jam kerja pun juga habis.


"Di sini kamu rupanya, ayo pulang." Vivi muncul tiba-tiba di hadapan Aji.

__ADS_1


"Gue cabut!" Bagas mendahului mereka untuk pulang.


''Kamu ngapain sih pake acara dateng ke kantor?'' gerutu Aji pada Vivi. Vivi pun mendaratkan bokongnya di kursi yang tadi di tempati oleh Bagas.


''Sayang... Kamu tahu kan, ini tuh kantor aku. Hak aku dong kalau aku mau dateng ke sini.'' Vivi memutar bola matanya karena Aji malah mulai menyudutkannya.


''Tapi kenapa harus sekarang, dan kamu juga pakai acara berdebat yang nggak penting sama Mika." Aji pun tak ingin jika Vivi datang ke kantor hanya untuk mencari keributan.


''Kok kamu malah belain wanita itu sih! Aku ini istri kamu Aji. Kenapa kamu malah nyalahin aku?'' bentak Vivi yang kini sudah berdiri menatap nyalang ke arah Aji.


''Karena emang kamu salah. Wajarlah kalau aku nyalahin kamu.'' Aji tak ingin kalah dan memulai perdebatan.


''Nggak bisa gitu dong, aku ini istri kamu. Dan kamu tahu itu!'' Vivi sudah tak dapat lagi menahan rasa kesalnya pada Aji hingga wajahnya memerah.

__ADS_1


''Seorang istri itu harus nurut sama suami. Bukan membangkang seperti kamu!'' Suara Aji memenuhi ruang kantin yang nampak sepi itu.


__ADS_2