
"Assalamualaikum" ucap Anwar dari balik pintu. Setengah badannya sudah masuk ke dalam rumah. Matanya menatap ruangan sekeliling, lalu pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang tertidur di sofa dengan baju daster yang tersingkap membuat paha mulusnya terekspos siap di goreng jadi ayam ipinupin.
Anwar menjelitkan matanya menatap pandangan horor di depannya, membuat jantungnya berdesir dan pangeran santan di dalam pertengahan kebun hitam menyembul minta di keluarkan.
Anwar mengelus dadanya untuk menenangkan detak jantungnya. Kakinya ia putar arah dan melangkah keluar dari pintu, ia takut ada orang ketiga yang bisa mengabulkan permintaan pangeran santannya. Saat tangannya akan menarik handle pintu, suara serak dari dalam sana menggema menghentikan langkahnya.
"Siapa itu!!" seru Mika sambil berusaha berdiri dari sofa. Langkahnya cepat menyusul seseorang yang sudah berhasil menutup pintu dan menjauh dari rumahnya.
Mika sampai di ambang pintu dan menatap keluar, terlihat buntut mobil dengan plat nopol yang tidak asing baginya. Mika berlari mengejar mobil tersebut sampai di ujung gang. Namun, jelas tak tergapai karena laju mobil tersebut lebih cepat dari langkah kakinya.
"Hahh!" Mika menarik napasnya yang tersengal karena mengejar mobil tersebut kedua tangannya menumpu lutut seperti lagi rukuk. Padahal cuma lari kecil, enggak kenceng. Tapi napasnya seperti di jatah karena udah lama enggak pernah olahraga.
Karena kelelahan, Mika menyebrangi jalan menuju warung yang ada di depan gang. Tempat biasa ia sarapan kalau kepepet.
"Loh, mbak Mika. Kenapa mbak lari -lari?" tanya ibuk penjaga warung.
"Enggak buk, enggak ada apa-apa kok" jawab Mika yang napasnya sudah teratur. Dan ia memesan minuman karena haus.
"Buk, bikinin susu jahe merah ya"
"Iya mbak, sebentar ya.." buk Mur menyeduh bubuk jahe saschet dan menuangkan ke dalam cangkir, lalu di tuang air panas dan di aduk kilat.
"Ini mbak, silahkan susunya" secangkir minuman tersaji di hadapannya.
Mika meraih boks kue di atas meja dan mencomot bakwan goreng dari dalamnya. Mika melahap gorengan tersebut hingga mulutnya penuh.
"Loh, mbak. Pelan-pelan makannya, nanti keselek togenya loh!" cegah buk Mur yang mengelap meja sambil memperhatikan cara makan pelanggannya itu.
"Aku laper buk, enggak tau kenapa dari kemarin nafssu makan aku meningkat pesat" ucap Mika dan kembali meraih sebiji bakwan lagi dari dalam boksnya.
Buk Mur akhirnya hanya membiarkan pelanggannya itu memakan semua bakwan yang tersisa.
__ADS_1
"Buk, aku pulang dulu ya. Uangnya ketinggalan di rumah. Nanti aku anter kesini" ucap Mika nyengir sambil beranjak dari duduknya.
"Iya mbak, besok juga enggak apa-apa" jawab buk Mur santai.
"Makasih ya buk," Mika kemudian berlalu dari warung dan kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Mika langsung menuju dapur dan mengolah makanan untuk makan siangnya.
Di sambil masak, ia pun sambil melantunkan lagu dangdud legend.
Masak, masak sendiri.
Makan, makan sendiri.
Nyuci baju sendiri dirumah pun sendiriii...
Aseekkk
Setelah selesai memasak, Mika duduk di meja makan menikmati santap siangnya. Padahal tadi udah makan bakwan sepuluh biji sama susu jahe. Sekarang makan lagi. Untung badannya enggak bisa melar. Jadi dia anteng-anteng ae.
"Duuhh, mau ngapain lagi ya.. Bosen juga nih kalo tiap hari aku begini. Apa aku telpon pak Anwar aja ya buat ngabarin kalo besok aku mau kerja" ucap Mika sambil membereskan perapatan makannya.
"Tapii... Ah ya udah lah. Nanti malem aku pikirin lagi" Mika lalu ngeloyor menuju kamar. Ia akan menyambung tidur lagi.
**
Anwar melajukan mobilnya menuju reztoran miliknya. Setelah sampai, ia masuk ke dalam dan langsung menuju kamar khusus peristirahatan di belakang. Dengan segera ia merendam tubuhnya yang terasa panas. Pangeran santannya masih saja meronta-ronta di kebun hitamnya minta di sembah.
Setelah satu jam ia berendam, akhirnya ia bisa menaklukkan sang pangerannya. Tubuhnya ia lilit dengan handuk putih yang sudah tersedia di dalam kamar mandi tersebut. Dengan handuk yang melilit di pinggang dan rambut basah yang menambah kesan machonya.
Di dalam lemari pakaian di kamar tersebut ada dua stell pakaian yang sengaja ia sediakan untuk keadaan darurat seperti saat ini.
__ADS_1
"Huuffh, sepertinya aku sudah tersihir oleh pesona Mika. Senyumnya memang benar-benar memikat hatiku dari pertama bertemu. Dan hari ini, bisa-bisanya aku mendapatkan rejeki nonton paha ipinupin" Anwar menggeleng-geleng serasa tidak percaya dengan hal yang sudah merundung jiwanya.
Usai berpakaian Anwar menuju dapur rezto dan mencari sesuatu dari dalam kulkas. Ia meraih minuman dingin berlogo bintang tiga biji dan meneguknya. Ia duduk di minibarnya sambil mengotak atik ponselnya.
"Aku ingin secepatnya kamu bisa mengurus rezto ini Mika" gumam Anwar yang kembali meneguk sisa minumannya.
Hari ini waktu terasa begitu lambat berputar. Cuaca panas matahari membuat siapa saja enggan keluar dari teduhnya perlindungan. Hingga sore hari pun, matahari masih setia menyinari belahan bumi.
Terlihat dari arah koridor ruang kantor di pabrik kopi, seorang laki-laki sedang melangkahkan kakinya menuju ruangan bagian penyimpanan barang. Aji melakukan pengecekan barang yang akan di kirim malam nanti.
Usai melakukan pengecekan, Aji kembali keruang kerjanya dan berbenah untuk segera pulang ke rumah. Saat sudah selesai dan ia keluar dari ruangannya, ada staff lain yang memberitahukan sesuatu padanya agar ia segera keruangan bu Vivi.
"Pak Aji, maaf pak. Bapak di panggil oleh bu Vivi untuk segera keruangan beliau" ucap salah satu staff laki-laki yang umurnya jauh di atasnya.
"Iya pak, terimakasih" jawab Aji dengan ramah.
Aji menerka-nerka ada apa gerangan Vivi menyuruhnya untuk datang keruangannya. Padahal urusan laporan bahan dan surat jalan sudah beres. Tetapi, perasaannya mengatakan ada hal yang lain.
Setibanya di depan pintu ruangan milik Vivi sang pemimpin Aji hendak mengetuk pintu. Namun sudah keduluan oleh seseorang dari dalam.
"Aji, ayo masuk..." ajak Vivi yang sudah melihat bayang-bayang Aji dari balik pintu lalu meraih tubuh Aji agar segera masuk ke dalam ruangan. "Aku punya surpise buat kamu, Ji" lanjut Vivi setelah selesai menutup pintu.
"Kenapa lag sih Vi, aku ingin segera pulang ke rumah" cegah Aji menurunkan lengan Vivi yang melingkar di lengannya.
Setelah itu, Vivi menunjukkan sesuatu dari balik laci meja kerja Vivi.
"Surpise, Aji" ucap Vivi sambil mengacungkan sebuah gantungan kunci berlogo H dan menyerahkan ke telapak tangan Aji yang ia raih.
"Ini buat kamu, kamu terima ya..." ucap Vivi dengan lembut.
"Untuk apa ini, Vi" tanya Aji dengan ekspresi bingung di wajahnya.
__ADS_1