
Mika tengah duduk menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya. Sudah seminggu ini ia tinggal di rumah baru bersama kedua orang tuanya. Karena, ayah dan ibunya tidak ingin anak perempuan satu-satunya tinggal sendiri. Jadi, sang ayah memutuskan untuk pindah ke kota J. Urusan pekerjaan di kota P ia serahkan dengan orang kepercayaannya. Yang terpenting saat ini adalah memberikan support untuk Mika.
''Kamu enggak nambah nak?'' tanya sang ibu yang melihat Mika hanya makan sedikit.
''Udah kenyang bu'' jawab Mika dengan senyumnya.
''Gimana urusan kantor nak, kamu nyaman kan?'' tanya sang ayah.
''Nyaman kok yah, ayah sama ibu tenang aja. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik''
''Ayah senang mendengarnya'' pak Rizal menimpali.
''Bu, aku mau pergi dulu ya'' pamit Mika pada kedua orang tuanya.
''Mau kemana, nak? sama siapa...''
''Sendiri bu, aku mau ke tempat Meisya, kangen soalnya udah lama enggak ketemu. Aku langsung pergi ya, bu'' Mika mencium pipi ibu dan ayahnya lalu pergi.
Mika melajukan mobilnya menuju jalan arah kost'an Meisya. Ia tidak memberi kabar pada Meisya terlebih dahulu, karena ia ingij memberi kejutan pada sang sahabat.
Setelah lima belas menit perjalanan, Mika sampai di depan kost tempat Meisya. Di sana terparkir mobil seseorang yang ia kenal. Mika hendak turun dari mobilnya, tetapi urung ia lakukan. Mika melihat Meisya sedang berjalan keluar bersama seseorang yang ia kenal sedang mengarah pada mobil yang terparki. Lalu kemudian, mereka pergi dari tempat itu.
Mika tersenyum senang melihat sahabatnya kini telah berkembang biak. Beberapa waktu ia tak memberi kabar, ternyata ia sudah lebih dekat dengan orang yang di inginkannya.
Mika kemudian meninggalkan tempat itu, lalu ia memilih untuk jalan-jalan saja. Mika pergi menuju danau, ia ingin menikmati malam sambil melihat perahu ketek. Sesampainya di sana, Mika memilih tempat yang nyaman menghadap langsung ke danau. Sesaat kemudian, ia memesan minuman sebagai teman nongkrongnya.
Tak butuh waktu lama, minumannya pun datang.
__ADS_1
''Silahkan kak, selamat menikmati...'' ucap sang pramusaji.
''Terima kasih...''
Mika langsung menikmati minuman kopi latte pesanannya. Hanya minuman, tak ada cemilannya. Karena perutnya terasa kenyang, ia tak ingin memesan yang lain.
Arah pandang Mika menelisik setiap pengunjung yang berlalu lalang. Matanya menangkap sepasang kekasih yang sedang berjalan bergandengan tangan sambil sesekali saling cubit dan begitu menggemaskan.
Fikirannya tiba-tiba terbayang akan kenangannya bersama mantan suaminya. Tak terasa, seteteh air bening mengalir di pipi mulusnya. Dengan segera, ia menyeka pipinya. Lalu menggeleng pelan untuk menormalkan fikirannya.
''Apaan sih, kok malah terbayang masa lalu'' Mika berucap pada dirinya sendiri. Senyuman yang penuh kegetiran tercetak di sudut bibirnya.
Mika memutuskan untuk berjalan menelusuri setiap pinggiran danau. Biarlah orang-orang berjalan bersama pasangannya masing-masing. Ia hanya seorang diri. Hatinya sudah merasa lebih tenang, jadi tak perlu memikirkan yang lain. Dari arah yang berlawanan, Mika melihat seseorang yang ia kenal sebagai pemilik toko tempatnya bekerja dulu.
Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu. Seseorang itu langsung menghampiri Mika dan menyapanya.
''Eh, baik pak, bapak sendiri...'' sahut Mika.
''Saya juga baik, kamu sama siapa?'' pak Anwar mencoba memperhatikan ke adaan sekitar, siapa tahu ia melihat orang yang ia kenal menemani Mika di sini.
''Saya sendiri... bapak sama siap...'' belum selesai Mika bertanya sudah lebih dulu di potong oleh Anwar.
''Saya juga sendiri, boleh kah saya menemani kamu, Mika, biar kita bisa mengobrol. Sudah lama kita tidak bertemu'' Anawar menawarkan diri.
''Baiklah...'' Mika pun meresa tidak keberatan, toh pak Anwar dari dulu selalu baik padanya. Hanya menemaninya bersantai menikmati suasana alam Danau yang merileks kan pikiran tidak apa-apa kan. Benak Mika berucap pada dirinya sendiri.
Mereka berjalan beriringan sambil mengorol ringan, tak lupa juga membahas masa-masa saat ia masih bekerja di tempat pak Anwar.
__ADS_1
''Bagaimana kabarnya si Mona pak'' tanya Mika saat ia teringat dengan gadis itu.
''Mona baru dua hari yang lalu mengundurkan diri...'' jawab pak Anwar singkat.
''Loh, kenapa pak?'' Mika malah jadi penasaran.
''Ibunya meninggal, jadi ia memutuskan untuk resign karena tidak ada yang mengurus rumah peninggalan ibunya'' jawab Anwar apa adanya.
''Wah, kasian ya pak si Mona...''
''Kamu kan bukan karyawan saya lagi, bisakah kamu memanggilku dengan sebutan lain. Jangan panggil bapak'' pinta Anwar.
''Eh, kenapa pak, saya nyamannya begitu'' sanggah Mika.
''Hahah, kan saya juga belum tua-tua amat, Mi. Panggil mas, abang, atau panggil nama juga boleh'' Anwar terkekeh pelan.
''Ah, itu... saya akan coba'' jawab Mika setengah ragu.
''Coba katakan, kamu panggil saya dengan sebutan apa...'' pak Anwar sudah penasaran ingin mendengar panggilan baru dari seorang Mika.
''Emmm ... saya panggil ...'' Mika berfikir sejenak dan menghentikan langkahnya.
-
-
-
__ADS_1