
"Hah?? Lu kira gue tukang ojek? Jalan-jalan dulu lah kita" sahut Meisya yang tidak terima dengan usulan Mika.
"Gue lagi males kemana-mana, Mei. Jadi langsung pulang aja" jawab Mika dengan enteng.
"Huh! Dasar. Ya udah deh kalok gitu" balas Meisya dengan sewot, lalu ia mengarahkan kembali motornya ke arah rumah Mika. Sesampainya di rumah, Mika menatap halaman rumahnya sudah kosong. Mobil yang tadi terparkir di sana sudah menghilang bersama pemiliknya.
"Loh, udah nggak ada??" tanya Mika pada dirinya sendiri.
"Masuk dulu, Mei" ajak Mika dan mereka masuk ke dalam rumah. Mika merogoh kunci rumahnya terlebih dahulu, karena saat ia akan masuk, handlenya tak dapat terbuka dengan sendirinya.
"Laki lu kagak di rumah, Mi?" tanya Meisya yang langsung menuju sofa dan duduk manis di sana.
"Seperti yang lu lihat, rumah aja ke konci" jawab Mika dengan acuh dan duduk bersebelahan dengan Meisya.
"Eh, tadi lu beli apa, Mi" tanya Meisya penasaran.
Mika lalu mengeluarkan benda berbungkus kertas tebal itu ke hadapan Meisya dan membacanya dengan lantang.
"SENSITIVE" sebut Mika dengan memegang benda tersebut di antara jari jempol dan telunjuknya.
"Lu hamill?" tebak Mei dengan bola mata melebar.
__ADS_1
" Besok pagi baru gue tes. Soalnya ya, gue udah ngerasa aneh belakangan ini dengan kondisi badan gue. Dan lu tau, Mei??" Mika menjelaskan dengan ekspresi tidak senang.
"Mana gue tahu, emang apaan!!" sanggah Meisya.
"Suami gue, udah nukar obat kb gue dengan vitamin yang warnanya sama, Mei. Sumpah!! Gue kesel banget sama dia. Gue mau marahin dia tadi, makanya gue ngajakin lu pulang. Ehhh! Taunya dia udah ngilang di gondol wewe" ucap Mika dengan asal jeplak.
"Gila lu, laki sendiri lu kata di gondol wewe. Ntar di gondol wewek cantik baru tahu lu!" sahut Mei dengan sedikit meledek.
"Bodok amat lah!" Mika masih terlihat kesal dari raut wajahnya. Dan Meisya, tidak ingin menambah beban pikirannya dengan menyahut ucapan Mika. Dan ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh iya, gue kemarin liat Mona, Mi.."
"Kenapa sama dia?"
"Bodok amat ah, gue lagi males Mei"
"Lu tahu, Mi.. Gue juga pengen loh pergi di anterin sama cowok.. Nggak pergi sendirian terus" nada bicara Meisya terdengar menyedihkan di telinga Mika. Dan itu, membuat Mika menurunkan bahu lemasnya melihat sahabatnya yang ternyata masih jomblo hingga sekarang.
"Sorry," lirih Mika dan ia memeluk bahu Mei dengan sayang.
"Kalo gitu, lu deketin aja bos lu, Mei" saran Mika dengan ide gilanya.
__ADS_1
"Lu gila ya, ogah gue. Lu tau sendirikan, dari dulu gue tu merhatiin Bagas. Tapi, dia enggak pernah liat gue"
"Yahh! Elu juga kagak gercep sih! Di embat orang dong" ledek Mika.
Meisya menimpuk kepala Mika dengan bantal kursi.
"Hahah...sabar dong beibh, makanya...coba aja lu deketin dulu Bagas nya. Ini dia cuek lu juga cuek. Ya mana ketemu lah titik terangnya. Cowok mah mana peka kalo nggak di kasih sinyal" Mika menjawab dengan kekehan.
"Gue harus gimana dong?" Meisya memonyongkan bibirnya.
"Lu punya nomor dia kan?" tanya Mika dengan mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Meisya.
Dan Meisya mengangguk-anggukkan kepala pertanda ia memiliki nomor yang di maksud.
"Ya udah. Tunggu apa lagi, tinggal lu chat aja. Kagak susah kan.."
"Gue malu kali, Mi. Nggak ada pasal apa-apa tiba-tiba nge chat dia.."
Ctiik!
"Ha!! Gue ada ide!" ucap Mika dengan jentikan jarinya.
__ADS_1
"Apaan??" terlihat binar di mata Meisya menanti ide yang akan di luncurkan oleh bibir Mika sang sahabat sejatinya. Sedangkan Mika manatap sahabatnya dengan senyum senang.