
Hari bergulir begitu cepat, Vivi sudah menjalani terapi pada tulang punggungnya yang bermasalah. Kini, dia sudah bisa berdiri normal seperti sedia kala.
Siang ini, Vivi sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dia merasa sangat sedih karena tidak ada satu orang pun yang menjemputnya pulang ke rumah. Suaminya pun jarang berkunjung karena sibuk dengan urusan pekerjaan dan juga bayi mereka.
Vivi pun meminjam ponsel pada salah satu suster yang sedang berjaga untuk menghubungi sang suami. Setelah menunggu beberapa saat, telepon pun tersambung. Akan tetapi, tidak di jawab oleh sang pemilik nomor.
''Duhh! kemana sih, nih, orang! masak istrinya udah pulang nggak di jemput. Jarang di tengokin pula!'' kesal Vivi. Dia pun mengembalikan ponsel milik sang suster dan berjalan keluar dari gedung rumah sakit. Hanya tubuhnya yang dia bawa saat ini, dia pun memanggil taksi untuk mengantarkan pulang ke rumah.
Vivi pun naik ke dalam taksi dan menyebutkan alamat rumahnya pada sang sopir. Setelah beberapa menit, dia pun sampai di depan tumahnya. Di tatapnya sekeliling area depan rumah yang sama sekali tidak ada perubahan alias masih sama seperti sebelumnya.
Vivi turun dari dalam taksi dan meninta pada sang sopit untuk menunggunya sebentar. Dia akan mengambil uang terlebih dahulu ke dalam rumah.
''Pak, tunggu sebentar, ya. Saya ambil uangnya di dalam!'' titah Vivi.
Pak sopir taksi mengangguk, ''buruan ya, Neng!'' serunya. Terlihat Vivi sedang menuju teras rumahnya dan membuka pintu. Setelah sampai di dalam rumah, Vivi mengedarkan pandangan menelisik isi setiap ruangan. Sepi, itu yang dia rasakan saat ini. Dia pun menuju ke dapur untuk mencari bik rumi.
''Loh! Non, Vivi, sudah pulang? Kenapa tidak menelepon Bibik, biar di jemput!'' ucap bik Rumi yang terkejut saat melihat majikannya nongol di balik pintu dapur.
''Bik, pinjem uang bentar buat bayar taksi.'' Ungkap Vivi. Bukannya mejawab pertanyaan dari bik Rumi, dia malah meminta yang lain.
''Oh! tunggu sebentar, ya, Non. Bibik ambilkan,'' ujar bik Rumi seraya berjalan menuju ke kamar miliknya.
''Sekalian bayarin ke depan ya, Bik. Sopirnya menunggu!'' seru Vivi. Dia meraih gelas dan menuang air minum. Lalu, meneguknya hingga tandas.
Usai mencomot tempe goreng yang tersaji di samping kompor, Vivi melangkah menuju ke ruang depan. Saat itu pula, dia mendengar suara tangis bayi di dalam kamar.
Vivi pun terjingkat. Dia baru sadar bahwa saat ini dia sudah menjadi seorang ibu. Sedari tadi yang dia pikirkan hanya Aji sang suami. Selama menjalani terapi, dia benar-benar memfokuskan pada kesembuhan dirinya. Memikirkan hal-hal lain akan membuat proses penyembuhannya lebih lambat.
''Itu suara anakku?'' gumam Vivi. Perlahan, kakinya melangkah menuju ruang kamar bayi mungil. Suara sang bayi seolah memberinya sambutan bahwa sang ibunda sudah kembali hadir di hidupnya.
Vivi membuka pelan pintu kamar tersebut dan terlihatlah bayi yang berada dalam boks sedang menangis sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan kekanan seoalah mencari sumber pelumas bibit keringnya.
__ADS_1
''Anakku, kamu anakku, .... '' lirih Vivi. Matanya berkaca-kaca kala melihat bayi itu terus menangis. Dia mendekat dan merundukkan tubuhnya, mengelus pipi mulus nan bersih yang terlihat memerah karena menangis. Perlahan, Vivi menenangkan sang buah hati dengan cara menggendongnya. Meski ini pertama kali dia menggendong Viona. Kerinduan seorang ibu pada sang putri terpendam begitu lama.
Tangan Vivi bergetar saat tubuh mungil itu berada dalam dekapannya. Dia berusaha merilekskan diri agar bisa lebih tenang untuk mendekap buah hatinya. Di kecupnya berkali-kali namun dengan penuh kasih sayang dia lakukan.
Bayi Viona pun perlahan tenang dari tangisnya, Vivi mengajak sang buah hati berbicara sambil duduk di tepi ranjang. Dia melihat bibir kering si mungil dan nalurinya pun langsung terhubung untuk dia segera memberikan Asi-nya. Saat dia memberikan Asi pertama pada sang bayi. Akan tetapi, air dalam tabung itu tidak mau keluar. Bibir mungil Viona mencoba menghisap dan malah berujung kembali menangis.
''Duh! sayang, airnya nggak mau keluar, kamu jangan nangis, ya. Ssshhh, .... '' Vivi bingung kenapa Asi-nya tidak bisa keluar. Dia membawa anaknya keluar dari dalam kamar. Nampaklah bik Rumi sedang menuju ke arahnya sambil memegang botol susu.
''Ini susunya, Non.'' Bik Rumi memberikan botol tersebut. Vivi dan bik Rumi bersama-sama masuk ke dalam kamar Viona.
Vivi meletakkan bayinya ke dalam boks dan menyodorkan susu formula yang terasa suam-suam kuku di genggamannya pada Viona.
***
''Bik, Aji mana?'' tanya Vivi setelah selesai memberikan susu pada Viona. Dia kembali duduk di tepi ranjang sembari menatap tidue lelap anaknya.
''Tuan belum pulang dari kantor, Non. Mungkin sebentar lagi,'' ujar bik Rumi.
''Sama-sama, Non. Tuan juga membantu meraway bayi Viona dengan sabar,'' tutur bik Rumi.
''Viona?'' Vivi bertanya.
''Iya, tuan memberi nama Viona pada buah hati kalian!'' tutur bik Rumi.
Vivi beranjak dan kembali mendekat pada sang bayi. Dia mengamati tubuh mungil yang tertidur pulas karena sudah kenyang minum susu.
***
Aji baru saja keluar dari kantor, dia pergi menuju ke halaman parkir dan terlihat ada Mika di sana. Dia hendak menyapa, namun, hal itu dia urungkan. Karena Bagas sudah lebih dulu menepuk pundaknya.
"No, no, no, .... " ucap Bagas sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri swbagai kode larangan.
__ADS_1
"Apaan sih, lu! kan gue cuma mau nyapa doang." Kesal Aji.
Bagas hanya terbahak melihat sahabatnya menggerutu karena misinya di gagalkan.
"Inget sama yang di rumah. Bayi itu anak, lu. Jangan coba-coba buat membangun bencana di ranah yang baru,'' pungkas Bagas.
''Akh! sok drama, lu!'' Aji berlalu meninggalkan Bagas begitu saja.
''Drama dari mana coba? jelas, kan apa yang gue bilang barusan. Lu urus aja apa yang sudah ada, jangan lagi bikin kesedihan buat hati yang sudah pernah, lu, lukai.'' Papar Bagas yang mungkin sudah tidak terdengar oleh Aji karena jaraknya semakin jauh.
***
Sesampainya di rumah, Aji langsung menuju ke kamar dan dia sangat terkejut saat melihat ada seorang wanita sedang tidur dengan poisisi memunggunginya. Perlahan-lahan, Aji mendekati sosok tersebut.
''Vivi, kapan kamu pulangnya? kenapa nggak telepon aku,'' ucapnya. Namun, tidak ada sahutan dari sang empunya yang ternyata terlelap dengan pulas.
Jemarinya terulur meraih pipi tirus yang sudah lama tidak dia jamah. Selama Vivi menjalani terapi, dia jarang sekali berkunjung agar proses kesembuhan Vivi terfokus tanpa ada gangguan dari mana pun.
''Ternyata, aku merindukan sosok wanita di ranjang tempatku melepas penat. Maafkan aku,'' gumam Aji. Lalu, dengan perlahan Aji membelai wajah Vivi dengan lembut. Di kecupnya puncak kepala wanita yang kini menjadi pendamping hidup seorang Aji Pamestu. Tangan yang satu lagi dia gunakan untuk merayap ke sela-sela tubuh yang di balut oleh selimut putih.
''I want you, baby!'' bisik Aji.
-
-
Halo guys, author hadir lagi. Maafkan daku yang jarang update. Jangan lupa tinggalkan likenya, ya.
Jika berkenan silahkan kirimkan gift mawar, vote dan juga komentar kalian.
Dukung terus karyaku hingga selesai. Terimakasih.
__ADS_1