Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 89


__ADS_3

Bab 89


Tempat baru


Aji kaget saat tangannya langsung di jabat secara tiba-tiba. Pria bertampang preman dan nampak garang itu menanyakan beberapa hal yang membuat Aji tersenyum sumringah.


''Gimana bisa lu jadi preman begini, Ben?'' tanya Aji setelag mereka beberapa saat saling mengingat satu sama lain.


''Panjang ceritnya, nanti kita ketemu lagi biar bisa cerita. Sekarang Abang mau cari tempat tinggal kan.'' Beni memastikan.


Aji mengangguk membenarkan


''Ayo, gue anterin lu Bang, di sini selama ada gue semua aman, Bang.'' tukas Beni.

__ADS_1


Beni adalah pria yang sudah tidak lagi memiliki keluarga karena sebuah insiden kecelakaan beruntun dua puluh tahun lalu. Ia merupakan pria yatim piatu yang pernah satu sekolah dengan Aji saat di bangku SMP. Beni di rawat di panti dan setelah lulus sekolah ia memilih keluar dari panti untuk hidup mandiri di jalanan. Ia tidak peduli dan tidak takut akan bahaya yang suatu saat bisa membuatnya celaka atau hal serius lainnya. Hingga saat ini, seorang Beni menjadi preman. Ia juga menjadi kepala yang di takuti oleh seluruh orang yang berhubungan dengan barang haram.


Aji tiba di depan rumah minimalis dan nampak suram. Tapi, ia tidak khawatir sama sekali. Baginya, asal ada tempat tinggal dulu ia sudah merasa aman.


''Oke, selamat bersenang-senang ya Bang.'' Beni memasukkan tangannya ke saku celana dan melangkah pergi meninggalkan Aji bersama Mika yang masih berdiri di depan pintu. Ia menatap kepergian orang yang baru saja memberikan mereka sebuah tempat tinggal.


''Mi, sementara kita tinggal di sini dulu ya, kamu nggak usah khawatir. Dia itu teman aku, cuma tampang aja yang nyeremin.'' ujar Aji seraya mengamati setiap sudut ruangan. Hanya ada satu kamar dan ruang dapur di rangkap dengan ruang tamu.


***


Di sebuah rumah yang belum genap dua puluh empat jam menyelesaikan sebuah acara pesta, kini tengah di hebohkan dengan hilangnya Mika dari rumah.


Bu Dina dan pak Rizal nampak begitu cemas dan panik mendapati kamar Mika yang kosong. Anwar pun nampak sangat emosi tapi masih di tahan karena ia menjaga image di depan mertuanya.

__ADS_1


Ia pun ijin untuk mencari keberadaan Mika di sekitar kampung tersebut. Sementara pak Rizal dan istrinya duduk di ruang tamu dengan perasaan yang resah juga gelisah.


Dua orang tua itu sedang menunggu kabar, "giama ya Yah, kok bisa sih ini terjadi?" cemas Bu Dina. Beberapa kali wanita itu menatap layar ponsel miliknya dan berharap segera mendapatkan kabar baik dari menantunya.


"Iya, Bu. Apa ibu sudah periksa dengan benar kamarnya, kira-kira ada yang dia bawa nggak?" tanya pak Rizal memastikan.


"Pakaian semuanya lengkap kok Yah, nggak ada yang dia bawa satu pun." ujar bu Dina.


"Apa ibu sudah periksa semua lemari dan bagian rak-raknya dengan teliti?" tanya pak Rizal yang membuat kening bu Dina engernyit heran.


"Ada sih Yah, satu lemari yang belum ibu periksa," ingat bu Dina saat ia teringat belum memeriksa satu lemari yang bukan tempat pakaian. Karena saat memeriksa ia merasa tidak perlu,


"Lemari apa yang belum ibu periksa?" tanya pak Rizal dengan harapan bisa mendapat sebuah jawaban.

__ADS_1


__ADS_2