
Usai menumpahkan segala keluh kesahnya pada sang sahabat, Aji memutuskan untuk pulang ke rumah. Beban di rongga dadanya terasa sedikit berkurang, karena ia sudah mulai berbaikan dengan sahabatnya. Ia ingin kembali terbuka seperti dulu dan ingin memperbaiki kesalahan yang pernah ia buat. Ia pun telah menceritakan semua hal yang menimpa dirinya dan sampai ke titik sekarang. Bagas pun akhirnya memahami semua yang Aji alami.
Sebelum sampai di rumah, Aji mampir dulu ke gerai ATM untuk mengambil uang tunai yang akan ia berikan pada bik Rumi. Ia tidak tahu berapa gaji yang di beri Vivi untuk bik Rumi. Aji menarik uang tunai sebesar enam juta rupiah. Untuk cukup atau tidaknya, nanti akan ia tanyakan. Karena, uang di tabungannya juga masih akan ia gunakan untuk keperluan lain.
Sesampainya di rumah, semua lampu sudah temaram. Aji langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat melepas lelah dan penat seharian beraktifitas.
Keesokan paginya, Aji telah rapi dengan setelan kerjanya. Ia kemudian menghampiri bik Rumi yang sedang beres-beres dan memberikan uang yang semalam ia janjikan. Setelah bertanya pada bik Rumi apakah uang yang ia berikan itu cukup. Ia pun mulai sarapan dan setelahnya berangkat bekerja. Tak lupa, ia berpesan pada bik Rumi untuk menengok istrinya.
**
Siang hari, saat di kantor. Aji mendatangi ruangan milik Mika untuk menyerahkan laporan barang yang masuk. Sesaat sebelum masuk, ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok tok tok
Aji mengetuk perlahan. Namun tak kunjung mendapat sahutan dari dalam. Ia pun mengulanginya kembali dan hasilnya masih sama. Ia memutuskan untuk membuka pintu tersebut dengan hati-hati dan melihat isi dari ruangan tersebut. Ternyata, ruangan itu kosong tak ada seorangpun di sana. Aji bergegas masuk dan meletakkan berkasnya, kemudian ia kembali keruangannya.
"Kemana ya, dia? sepertinya hari ini tidak ada jadwal rapat. Apa dia ada urusan lain?" gumamnya sambil duduk memutar kursinya ke kanan dan ke kiri. Tapi, setelahnya ia ingin mencoba menghilangkan fokusnya pada Mika. Karena ia sudah tidak punya hak atas diri Mika. Ia kembali tersadar akan nasehat yang Bagas berikan padanya. Dan ia akan fokus pada anak calon buah hatinya. Setelah pulang bekerja, ia akan menengok Vivi di rumah sakit.
Sementara di luar aktifitas kantor, Mika sedang berada di sebuah rumah sakit di mana Vivi berada. Ia bersama pak Anwar datang berkunjung untuk menengok keadaan Vivi. Anwar baru saja menceritakan hal yang di alami oleh Vivi.
Sesampainya di sana, Mika melihat Vivi yang sedang termenung. Mika telah di beri ijin oleh sang perawat untuk menjenguk pasien tersebut. Dengan langkah perlahan, Mika berjalan mendekati ranjang yang di tempati Vivi. Ia pun menyapa dengan pelan ke arah Vivi yang sedang melamun.
"Vi,..." lirih Mika.
Hening, tak ada sahutan dari Vivi. Mika pun mengulangnya kembali. Karena ia fikir Vivi memang tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Vi,... ini aku Mika" ucap Mika dengan lembut. Vivi yang merasa di panggil pun menoleh kearahnya. Dan ia langsung memberikan tatapan tajam pada Mika.
"Mau apa kamu! hah!" Vivi membentak Mika sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Mika.
"Aku hanya ingin melihat kondisimu, semoga kamu bisa kembali seperti sediakala. Tutur Mika lemah lembut. Ia begitu prihatin melihat keadaan Vivi yang tengah mengandung dalam keadaan yang tidak normal seperti ini.
Seketika, Vivi terngat dengan nama Mika dan langsung menyerang Mika dengan menjambak rambut panjangnya.
"Heh! lu Mika, kembalikan perusahaan gue. Itu milik gue. Lu nggak punya hak di sana! hahaha" tangannya menyerang bagian kepala Mika.
Mika pun meringis karena rambutnya di tarik dengan begitu kuat.
"Vivi, kakekmu memang benar sudah menjual pabrik itu pada ayahku. Dan kamu, memang sudah tidak punya wewenang sama sekali untuk itu. Kamu harus sadar Vivi"
Mika pun di lerai oleh suster yang menangi Vivi. Anwar pun langsung menghampiri Mika yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Terlihat olehnya, sang suster sedang menyuntikkan obat penenang pada Vivi agar tidak meronta-ronta mengejar Mika keluar.
"Kamu tidak apa-apa, Mika?" Anwar yang melihat Mika langsung menuntun Mika untuk menjauh dari sana.
"Tidak apa-apa, kita langsung pulang saja, mas" Mika merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Vivi.
"Kamu beneran tidak apa-apa?"
"Iya," Mika tersenyum dan melangkah keluar. Anwar pun menyusulnya.
"Emm, nanti malam jadi kan datang ke opening rezto ku" tanya Anwar saat sudah berada di mobil. Anwar sebelumnya menjemput Mika di kantor dan pergi menggunakan mobil Anwar.
__ADS_1
"Jadi kok, mas. Emm, jam berapa mulainya?" tanya Mika.
"Jam tujuh malam, aku jemput ya" tawar Anwar.
"Enggak usah mas, aku nanti pergi sendiri aja. Lagian mas kan yang punya acara, harus hadir lebih awal dong di sana" tutur Mika.
"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu" walaupun terlihat keberatan karena Mika tak ingin di jemput. Namun, Anwar merasa senang karena Mika akan hadir.
Kini, Mika telah sampai di kantornya kembali. Setelah mengantar Mika, Anwar pun kembali ke tempatnya. Untuk mempersiapkan keperluan untuk Grand Opening Rezto Sederhana miliknya.
Malamnya, Mika tengah bersiap untuk pergi ke acara. Ia berpenampilan yang memukau, dengan dress selutut yang kerlap kerlip di pandang mata. Polesan make up yang tipis menghias wajahnya terlihat begitu cantik.
''Mau kemana sayang?'' tanya ibu Mika saat bertemu di ruang tengah.
''Mau ada acara temen, bu. Aku pergi dulu ya" pamit Mika.
"Hati-hati nak," pesan ibu Mika dan mengantarnya sampai depan rumah.
"Iya, bu" Mika melambaikan tangannya. Setelahnya, ia melajukan mobilnya membelah jalanan yang ramai oleh kendaraan lain.
Sementara itu, suasana di Rezto Sederhana sudah terlihat ramai. Banyak para tamu undangan yang sudah hadir di sana untuk ikut memeriahkan acara potong pita yang akan segera di laksanakan oleh pemiliknya.
Tak berapa lama, Mika pun sampai di tempat Anwar. Ia langsung saja masuk ke dalam dan bergabung dengan tamu lainnya. Saat Mika akan duduk, seseoarang datang menyapa dirinya dari posisi belakang punggungnya.
"Hai..." sapa seseorang tersebut. Mika pun langsung menoleh ke sumber suara dan ia membulatkan matanya saat melihat siapa yang datang menyapa dirinya.
__ADS_1