Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 73


__ADS_3

Bab 73


''Ternyata kau seorang penipu, Vivi!'' tatap Aji dengan nyalang. Segenap emosi tertumpuk dalam dirinya dan siap di ledakkan.


''Aji, aku bisa jelasin yang sebenarnya." Vivi memohon dan bersimpuh di hadapan Aji. Vivi menitikkan air mata dan siap untuk memberi penjelasan tentang surat yang saat ini sedang berada dalam genggaman Aji.


''Jelasin apa lagi, hah! Ini sudah menjadi bukti yang lebih efektif. Sekarang kamu jelaskan, kenapa kau membohongiku, anak siapa sebenarnya yang sekarang ada di dalam sana!'' tunjuk Aji ke arah kamar si kecil yang saat ini masih tidur nyenyak.


''Itu, anak kita Aji. Kamu masih ingatkan,'' ungkap Vivi.


''Jawab jujur!'' Aji mencengkram dagu Vivi dengan mata yang membeliak hampir keluar. Emosinya benar-benar sudah tidak bisa di tahan.


''Anak kita, aku dan kamu. Soal surat itu, itu soal sepupu kak Anwar. Dia ingin mengadopsi anak jika tidak mendapatkan anak laki-laki.'' Bohong Vivi tapi sangat meyakinkan agar Aji percaya. Namun, Aji sudah tidak bisa lagi menerima alasan apa pun yang di katakan oleh Vivi.


Alasan yang tidak bisa ia terima karena sudah di pastikan jika itu adalah sebuah kebohongan yang kesekian kalinya.


''Heh! Kau pikir aku percaya?'' Aji tersenyum miring seraya menggelengkan kepala lalu melepaskan cengkramannya dari wajah Vivi yang sudah nampak merah dan sembab karena menangis.

__ADS_1


''Tidak!'' lanjut Aji. Pria itu pergi menuju ke arah lemari dan langsung mengeluarkan sebuah koper. Semua pakaian miliknya ia tumpuk dan masukkan ke dalam koper tersebut.


''Aji, kamu mau ke mana. Jangan tinggalin aku, aku mohon!'' Vivi menahan tangan Aji yang sibuk mengemasi barang-barangnya.


Aji menyentak dengan kasar tangan Vivi dan menutup kopernya dengan kasar. Tatapan dingin dan wajah yang nampak tidak bersahabat itu memberikan aura mengerikan dalam tatapannya.


''Mulai sekarang. Kau bukan istriku lagi, kau aku talak 3. Jangan pernah lagi kau mencariku!'' Aji memberikan ultimatum yang tidak dapat di ganggu gugat lagi.


''Aji, pleasee! Jangan ceraiin aku. Aku sangat mencintai kamu Aji!'' Vivi mengiba dan memohon.


Pernikahan Aji dan Vivi hanya pernikahan siri, jika Aji sudah mentalak Vivi. Maka perpisahan itu sudah resmi dan tidak bisa di tarik kembali.


Vivi merosotkan tubuhnya di sisi pintu kamar saat melihat kepergian Aji. Air matanya sudah membasahi pipi hingga memburamkan pandangan matanya. Ia menggeleng lemah tidak terima jika ini semua terjadi.


Aji sedang dalam perjalanan menuju ke rumah lama. Rumah yang pernah ia tempati untuk merajut biduk rumah tangga yang penuh warna. Rumah yang penuh kenangan suka dan duka. Rumah yang membawanya hingga ke puncak perselisihan hingga ia harus menerima kenyataan pahit dari Vivi. Ia menyesali perbuatannya.


''Maafkan aku Mika, maafkan kesalahanku. Aku ingin kembali lagi padamu,'' gumam Aji dalam hati. Tatapannya lurus ke depan dan bola mata nya mengembun penuh penyesalan.

__ADS_1


Setelah selesai membayar ongkos taksi, Aji mengamati sebuah rumah. Rumah yang menjadi tujuan akhir yang beberapa minggu lalu ia sambangi bersama Bagas sang sahabat.


Namun, matanya memicing saat melihat ke dalam rumah tersebut. Ia melihat ada sosok wanita yang sedang beres-beres dalam rumah tersebut.


''Siapa itu?'' heran Aji dengan terus melangkah hingga sampai ke depan pintu. Ia meraih kunci yang ada dalam saku celananya. Meski rumah itu adalah rumah kontrakan yang sudah resmi di beli, tapi ia tidak pernah merubah apa pun dari tampilannya.


Aji segera masuk dan alangkah terkejutnya saat tahu siapa wanita yang saat ini tengah memegang sapu dengan berpakaian daster longkar kedodoran. Rambut di cepol ke atas membuat Aji kembali tersihir akan pesona wanita tersebut.


Mereka sama-sama terkejut dan kaku, akward moment yang saat ini tengah terjadi di antara keduanya.


Mika sangat tidak menyangka akan kedatangan Aji di rumah ini. Ia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Mika langsung melepaskan sapu dari genggamannya dan menuju ke kamar. Ia sedang tidak ingin berbicara pada pria yang kini tengah menatapnya dengann tatapan penuh kerinduan.


Mika langsung menutup pintu itu dan ingin segera keluar dari rumah. Ia belum siap berhadapan dengan Aji sang mantan suami.


Namun tidak dengan Aji, segenap jiwanya yang sudah terpupuk oleh rasa rindu yang mendalam segera menyusul Mika ke dalam kamar.


''Mi, aku sangat menrindukanmu.'' Aji memeluk tubuh Mika dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mika dan mengeratkan pelukannya membuat tubuh Mika kaku. Terkejut, kesal, rindu dan juga ingin marah. Akan tetapi, bukan malah menghindar, justru Mika malah mematung dan tidak melakukan apa-apa. Tubuhnya seolah sedang di pasung dan tidak bisa di gerakkan sama sekali.

__ADS_1


Air mata lolos begitu saja tanpa permisi, bibir Mika bergetar dan dadanya tiba-tiba terasa sesak. Mulutnya terkunci dam tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia hanya bisa membiarkan Aji menikmati hangatnya tubuh Mika yang berdiam diri.


''Mi, kita rujuk, yuk!'' ajak Aji setelah melepaskan pelukannya. Ia menghadap ke arah Mika yang nampak tegang.


__ADS_2