
Suara dentuman musik yang asik serta membuat para pengunjung yang ada di dalam club malam itu meliuk-liukkan tubuhnya dengan indah mengikuti ritme musik pengiring. Terlihat wanita dan pria saling berpasangan dan ada juga yang sedang berjoged bersama teman-teman serta ada yang mencari pasangan.
Berbeda dengan seseorang yang sedang duduk di kursi sendirian di temani minuman di genggamannya sembari membayangkan seseorang dan bibirnya meracaukan nama seorang wanita.
Sesekali dia menatap ke arah kerumunan orang-orang yang berjoged ria di depannya dan kembali menatap gelas kecil yang ada di tangannya.
''Mika, aku akan tetap mencintaimu apa pun yang terjadi. Biarkan semua berjalan mengalir seperti air ini." Aji menumpahkan minuman keras ke dalam gelas kecilnya dengan pelan.
Meski matanya menatap kedepan, tapi yang dia tuangkan tidak tumpah sedikitpun. Selama tidak bertemu dengan Mika, Aji selalu merindukan wanita itu. Karena Mika memang tidak ingin lagi bersitatap langsung dengannya dan hal itu membuat Aji frustasi. Beberapa minggu ini Mika dan Bagas terlihat sangat menempel hingga menimbulkan rasa cemburu dalam dada. Meski Bagas adalah sahabatnya, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Perasaan lelaki yang begitu perhatian dengan si wanita sudah di pastikan ada apa-apanya.
Aji bangkit dari duduknya dengan kepala yang sempoyongan, perlahan-lahan dia berjalan keluar meski beberapa kali menabrak tubuh orang lain. Dia pun berhasil sampai di tempat parkiran menuju mobil putih yang mana dia kira adalah mobilnya. Saat Aji hendak membuka pintunya ternyata tidak berhasil dan dia pun mencoba menatap rajam ke arah plat mobilnya yang ternyata berbeda.
Beruntung sang pemilik aslinya tidak ada, jika sang pemilik sedang berada di sekitar tempat tersebut sudah di pastikan Aji akan di teriaki maling oleh orangnya.
Sambil memijit kepala yang terasa pusing, Aji kembali menuju ke arah mobil yang di pasati dengan baik agar tidak lagi salah buka pintu.
Dalam keadaan mabuk berat, Aji mulai mengendarai mobil dengan tidak beraturan. Karena tidak sanggup, akhirnya dia mencoba untuk menghubungi seseorang yang ada di panggilan tetakhir yang ternyata itu adalah nomor Mika.
Aji menepikan mobilnya sambil menunggu sang empu menyahut panggilannya. Namun, hingga panggilan berakhir tak jua mendapat respon. Dia pun mengulang kembali dan menunggu, begitu mendapat sahutan dari seberang sana. Aji langsung melebarkan bola matanya yang terlihat begiu merah.
'Halo' terdengar suara berat dari seberang sana khas orang yang baru terbangun dari tidur.
''Tolong bantu gue bawa mobil. Sekarang!'' Aji langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dan dia menyandarkan kepalanya di kemudi dengan mata terpejam. Ponselnya pun jatuh di kursi sampingnya begitu saja tanpa dia hiraukan. Beruntung tempat tersebut adalah kawasan yang aman.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Mika yang mendapat telepon dari Aji ada sedikit rasa was-was karena ada yang berbeda dari suara Aji yang dia dengar dari telepon. Suara dengan intonasi berat seperti orang yang mabuk. Saat melirik ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul satu dini hari. Mika pun ragu untuk pergi dan dia mencoba berfikir sejenak untuk mencari cara. Segenap nyawa pun berhasil di kumpulkan dan Mika berhasil mendapat ide.
''Aku telpon Bagas aja deh, mereka kan sohib. Biar pun aku mantannya Aji, aku masih punya hati buat nolongin dia yang lagi kesusahan. Biar sahabatnya aja yang mengurus urusannya.'' Mika menempelkan ponselnya pada telinganya menunggu panggilannya di jawab oleh Bagas.
''Halo, ... ''
....
''Gas, gue minta tolong dong. Itu sahabat lu lagi butuh bantuan, lu cek aja dia lagi di posisi mana. Oke, sorry kalo ngerepotin ya..''
Setelah berhasil, Mika pun kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu. Mencoba memejamkan mata secara perlahan, tapi pikirannya malah tertuju pada Aji. Dia pun mengirim pesan pada Bagas untuk memberinya kabar jika sudah berhasil mengantar Aji.
Begitu pesan di kirim, Mika pun berhasil melelapkan diri berbaur dengan alam mimpi.
''Lu ngapain coba tiap hari nyusahin gue mulu! Lama-lama gue kurung lu di kamar mandi, Ji.'' Bagas mengomel begitu sampai di tempat biasa dia menjemput Aji lalu mengantarnya sampai ke rumah Vivi. Namun kali ini dia tidak akan lagi mengantar lelaki itu ke rumah istrinya, tapi Bagas membawanya ke rumah lama.
Meski dengan hati dongkol karena tiap malam tidurnya selalu terganggu dengan kelakuan Aji yang seperti remaja labil, Bagas masih tidak tega jika sahabatnya terlantar begitu saja.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah kontrakan yang dulu pernah Aji dan Mika tinggalin bersama. Entah apa tujuan Bagas membawa Aji kembali ke masa lalu melalui rumah tersebut.
Selama ini, diam- diam Bagas membeli kontrakan tersebut dan menyuruh orang untuk merawatnya, sehingga tempat itu pun tertata rapi dan juga bersih.
Dekorasi masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah sama sekali. Hanya saja, ada satu foto yang sengaja Bagas pajang di dalam kamar yang sekarang dia tuju untuk Aji beristirahat.
__ADS_1
Sebagai sahabat, Bagas pun tak tinggal diam dan mencoba mencari cara untuk membantu Aji agar cepat menyelesaikan masalah yang sudah di ciptakan oleh Vivi bersama sang sepupu si Anwar.
''Aduhh, makin berat aja lu, Ji. Dosa lu banyak bener!'' Bagas menggeret tubuh Aji hingga naik ke ranjang. Napasnya yang kembang kempis membuatnya tambah lelah. Akhirnya dia pun memutuskan untuk tidur di sana juga hingga pagi.
''Gue tidur di kamar sebelah, kalo lu bangun Tolong bangunin gue.'' Bagas berucap pada Aji yang tidur pulas. Meski dia tahu jika apa yang dia katakan tak akan di dengar oleh Aji.
Pagi pun menjemput dan sinar mentari menerangi bumi hingga masuk ke celah jendela. Di karenakan hari ini adalah hari libur, Bagas tak kunjung bangun karena lelah. Sementara Aji, mulai ada pergerakan sedikit karena tubuhnya yang terasa berat.
''Aww!'' Aji bangun dengan kepala yang berdenyut. Setelah memijitnya pelan, dia pun meraih air mineral botol yang ada di nakas dan menenggaknya.
Beberapa saat kemudian, Aji mulai mengamati tempatnya tidur yang berbeda. Tidak seperti sebelumnya dan dia merasa sedang bermimpi.
''Ini kan kamar yang dulu,'' gumamnya pelan dan dia mencoba menelusuri isi ruangan tersebut. Terdapat foto dirinya bersama dengan Mika saat masih berpacaran dulu.
Aji meraih bingkai foto tersebut dan mengelusnya pelan, senyum tipis penuh kerinduan terbit dari sudut bibirnya. Aji mendekap foto itu dengan erat sambil memejamkn mata meresapi masa silam yang pernah terukir dengan indah.
''Tuhan, jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini,'' lirihnya dengan menitikkan air mata.
-
-
Maafkan alurnya yang kacau balau ya guys.
__ADS_1