
Di dalam kostan
Mona sedang mematut dirinya di depan cermin. Setelah di rasa dirinya sudah cantik, ia meraih tasnya dan memasukkan ponsel serta dompet lalu mengunci pintu. Menunggu sejenak di depan kostan sambil memainkan rambutnya yang terurai dengan tangan sebelah berkacak pinggang. Matanya menatap lurus ke sebuah motor yang mendekat ke arahnya, dan itu adalah ojol pesanannya. Saat ojek online pesanannya tiba di hadapannya, Mona langsung saja mengarahkan tujuannya.
Beberapa menit kemudian, ia sampai di gerai ATM untuk mengambil sejumlah uang. Sementara si kang ojeknya langsung berlalu setelah mendapatkan ongkos dari si penumpang.
Mona berjalan masuk ke dalam ruangan kotak yang sempit itu dan memasukkan cardnya ke dalam mesin. Setelah transaksinya selesai, ia keluar sambil menyimpan kembali cardnya ke dalam tas. Saat membuka pintu, ia bersitatap dengan seseorang yang tidak asing baginya.
Seorang lelaki yang rasanya ia pernah bertemu, tetapi lupa di mana. Mona menunggu sejenak untuk memastikan orang tersebut.
"Mas!" sapa Mona saat seseorang itu telah keluar dari dalam ruangan dan terlihat otang tersebut sedang memasukkan dompetnya ke saku celana belakangnya.
"Ya! Ada apa mbak?" tanya bagas.
"Maaf, kayaknya kita pernah ketemu deh. Tapi saya lupa" Mona mencoba mengingat sesuatu.
"Oh! Itu, mbak kan yang ngojek sama saya waktu malam-malam" jawab Bagas sambil mengingat-ingat. Karena daya ingat Bagas yang luamayan bagus.
"Oh, iya. Saya baru inget. Masnya tinggal di daerah sini juga?" tanya Mona.
"Enggak mbak. Saya cuma kebetulan lewat, mau main di warnet ujung sana." Tangan Bagas menunjuk jalan yang ramai.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya cuma pengen menyapa aja. Saya permisi ya" pamit Mona hendak menuju pinggir jalan.
"Mbaknya mau kemana? Cantik amat?" tanya Bagas sedikit menggoda.
"Cuma pengen cari makan aja mas," Mona senyum malu-malu
"Kalau gitu, barengan aja gimana?" Bagas membuat penawaran.
"Emmm," Mona terlihat sedang berpikir.
"Kalau enggak mau ya udah, saya duluan kalo gitu" Bagas berjalan ke arah mobil warna hitam yang terparkir. Lalu tangannya meraih handle pintu dan akan membuka pintu kemudi.
"Saya ikut deh" Mona memberi keputusan. Dilihatnya mobil yang akan Bagas naiki adalah mobil mahal.
"Ya sudah, sini naik" Bagas memutari mobilnya dan membukakan pintu samping kemudi untuk Mona.
"Silahkan nona.." dengan gerakan tangan mempersilahkan ala-ala drama.
"Masnya mirip kayak yang di film-film gaya nyuruhnya" Mona terkekeh pelan.
Bagas segera menutup pintu itu dan masuk ke bagian kemudi. Ia mulai menjalankan mobilnya menuju warung makan tak jauh dari warnet langganannya.
\*Dine & Chat\*
Bagas menghentikan mobilnya dan memarkirkan di tempat khusus parkir mobil. Setelahnya ia membukakan pintu untuk Mona.
__ADS_1
"Oh ya, ngomong-ngomong, kita belum kenalan ya mas" ucap Mona sambil merapikan pakaiannya yang sebenarnya baik-baik saja.
"Iya, sampe lupa. Saya Bagas" ucap Bagas sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Mona," Mona menjabat tangan Bagas dan memperhatikan Bagas yang sedang tersenyum padanya.
Beberapa detik kemudian, tangan mereka masih bertautan. Mata saling memandang, entah apa yang ada di fikiran masing-masing.
Tiinn
Sebuah mobil yang akan lewat memarkirkan mobilnya membuat kedua orang tersebut tersadar. Dengan segera menyingkir lalu masuk ke restoran tersebut.
**
Di rumah Vivi
"Duuhh.. Aji mana sih, kok telpon aku nggak di angkat-angkat dari tadi" ucap Vivi dengan kesal. Ia sudah mondar-mandir di ruang kamarnya sejak setengah jam yang lalu.
Tokk tokk tokk
Terdengar suara ketukan pintu.
"Non, makan malamnya sudah siap" ucap Bibik dari luar pintu kamar Vivi dan membuat Vivi menghentikan langkahnya.
Setelahnya ia membukakan pintu, "nanti ya bik, sebentar lagi aku turun" ucap Vivi sambil menyongolkan kepalanya di balik pintu.
"Baik non," sang bibik undur diri.
Karena rasa kesal sedang menyelimuti hatinya, Vivi malah salah langkah. Kakinya langsung menuruni dua undakan tangga dan membuat tubuhnya tidak simbang.
Brruuukkk
Vivi terjatuh berguling dari 5 undakan tangga, ia meringis sambil memegangi perutnya. Ia berusaha menegakkan tubuhnya.
"Bibiiikkk!!!" pekik Vivi memanggil asisten rumah tangganya.
Bik Rumi tergopoh-gopoh dari arah dapur sambil mengelap tangannya di kanan kiri pahanya. Celana yang ia kenakan jadi korban pegelapan.
"NON VIVI!!!!" pekik bik Rum yqng mendapati Vivi setengah berbaring sambil memegangi perutnya. Dengan sigap bik Rumi membantu memapah Vivi ke sofa dan mendudukkannya di sana.
"Saya telpon dokter dulu sebentar ya non" ucap bik Rum hendak mengambil ponselnya.
"Tolong telpon Aji aja bik, ini.." Vivi menyerahkan ponselnya yang masih ia genggam. Bik Rum langsung menghubungi Aji.
Beberapa saat kemudian telpon terhubung dan mendapat jawaban dari seberang sana.
"Ha.. Halo tuan"
__ADS_1
("........")
"Tolongin non Vivi tuan, non Vivi jatuh dari tangga dan perutnya sakit!" ucap bik Rum sambil memperhatikan nonanya yang meringis.
Bik Rum mengembalikan ponsel Vivi.
"Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit saja non, bibik takut terjadi apa-apa sama non!"
Bik Rumi terlihat begitu panik dan ia bingung harus melakukan apa. Tak berapa lama, datang seseorang dari arah pintu depan.
"Permisi.." ucap seseorang dengan pakaian formal dengan menenteng tas.
"Masuk dokter" ucap bik Rumi menyambut kedatangan dokter tersebut.
Setelah di periksa, tidak terlalu membahayakan. Dan janin di dalam kandungan Vivi begitu kuat. Jadi aman-aman saja di dalam perutnya.
Dokter tersebut memberikan resep obat untuk di tebus. Setelahnya, dokter tersebut berpamitan.
"Terimakasih dok, saya akan tebus obatnya" ucap bik Rum seraya mengantar dokter tersebut hingga pintu.
"Sama-sama, saya permisi. Mari," dokter tersebut berlalu dari rumah Vivi. Dan berselisihan dengan kedatangan Aji.
"Bagaimana keadaan Vivi bik?" tanya Aji langsung masuk begitu saja.
"Kata dokter tidak apa-apa tuan" jawab bik Rumi.
Aji segera menghampiri Vivi yang masih duduk bersandar di sofa, "kamu tidak apa-apa Vi? Bagaimana perut kamu, apa sakit?"
Vivi hanya menganggukkan kepala, dan langsung berhambur memeluk tubuh Aji. Bik Rumi langsung melipiri menuju dapur.
"Kita ke rumah sakit ya, aku khawatir terjadi apa-apa sama anak ini" tunjuk Aji ke perut Vivi.
"Anak kita ini, Ji" ucap Vivi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kamu tadi menelpon sampai berkali-kali" ucap Aji mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau ngajakin kamu makan bareng di sini, Ji. Tapi kamu nggak angkat telpon aku" jawab Vivi dengan manja.
"Aku sedang membeli makanan untuk istriku, dan malah aku tidak pulang gara-gara telpon darimu."
Ponsel Aji berdering dan ia langsung merogoh saku celananya. Tertera nama Mika di layar ponselnya.
"Halo" jawab Aji menempelkan ponselnya ke telinga.
("....")
"Aku ada urusan mendadak, maaf ya sayang. Nanti aku langsung pulang. Kamu makan saja duluan ya"
__ADS_1
("......")
Telpon berakhir.