Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 125


__ADS_3

Bab 125


''Bi–bisa, Pak. Akan saya buatkan untuk Bapak sekarang juga,'' ucap Rina menyanggupi.


''Baiklah. Saya tunggu siang ini.'' Anwar lalu melambaikan tangan agar Rina keluar dari ruang kerjanya.


Dengan semangat yang membara di iringi senyum mengembang di bibir Rina. Gadis itu berjalam keluar dari ruang kerja lalu pergi keluar dari tempat kerja. Beruntungnya di depan sana ada penjual nanas matang dan juga nanas yang masih mentah. Rina pun memilih dua buah nanas yang satunya mentah dan satunya sudh matang. Dia akan membuat dua varian langsung. Buah tersebut pun langsung di kupas agar mudah nantinya.


Setelah mendapatkan buah yang di butuhkan, Rina pun kembali ke toko dan menuju ke pantry kecil yang tersedia di kantornya. Rina mulai memotong dengan bentuk sedang buah nanas yang sudah di cucinya dengan air garam.


Karena Rina memang suka bereksperimen, akhirnya dia pun memblender buah nanas itu dan di ambil ampasnya. Sedangkan air jusnya dia pisahkan ke wadah lain.


Ampas buah nanas itu dia beri tepung maizena dan juga telur. Lalu beberapa bahan lain juga dia tambahkam hingga bisa di bentuk menjadi adonan bulat-bulat. Setelah selesai semua, dia pun mulai menggorengnya.


Dua versi nanas goreng yang berhasil Rina selesaikan dan di sajikan ke dalam wadah. Dia pun menatanya dengan sangat cantik lalu segera ia bawa ke ruangan Anwar untuk pria tersebut.


''Ini Pak, sudah jadi. Saya nggak tahu sih rasanya gimana, kalau tidak enak biar saya buat ulang dengan resep yang lain.'' Rina meletakkan dua jenis nanas goreng yang dia buat barusan.


Bentuknya memang di buat dengan apik dan menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Anwar pun mencoba satu potong bagian yang ada di hadapannya. Lalu melahapnya setelah dia yakin dengan tatapan Rina yang menantinya dengan was-was.


''Hmm!'' Anwar mengernyitkan keningnya. Merasai makanan itu seraya berfikir apa yang kurang pada makanan tersebut.


''Tidak enak ya, Pak?'' tanya Rina khawatir. Dia masih menunggu rekasi Anwar berikutnya.


''Kurang manis, ini harusnya enak kalau ada rasa manis-manisnya. Karena nanasnya sendiri sudah asam.'' Anwar beralih ke wadah satunya lagi dan kembali mencicip makanan itu.


Nanas goreng berbentuk bulat seperti bola pingpong yang telah dia beri topping gula halus dan malah mirip dengan sonat salju.


Rina terus menanti rekasi Anwar saat mencobai makanan buatannya.


''Hmm!'' mata Anwar tampak berbinar menatap ke arah Rina. Tatapan senang bercampur bahagia ia layangkan pada gadis yang nampak cemas menunggu review dari sang atasannya.

__ADS_1


''Yang ini, Enak banget!'' puji Anwar tanpa sadar karena terlalu senang.


''Syukurlah kalau rasanya tidak mengecewakan,'' ujar Rina yang nampak Wajahnya segar kembali tanpa ada rasa tertekan yang mengurung jiwanya.


''Bungkus, ya Rin.'' titah Anwar setelahnya. Rina pun menurut dan dia harus pergi kembali keluar untuk membeli alat pembungkus.


Anwar tampak senang karena akhirnya dia bisa menemukan makanan yang di inginkan oleh istrinya tanpa harus capek keliling-keliling kota. Dia sudah punya tempat untuk memenuhi permintaan sang istri di rumah.


''Ini pak, sudah saya bungkus rapi,'' ucap Rina.


''Terimakasih, Rin.'' Anwar meraih bungkusan itu dan dia akan segera pulang ke rumah siang ini juga. Mumpung makanan itu masih hangat dan enak di santap.


''Pak,'' lirih Rina. Gadis itu mendekat,


''Nanti akan saya buatkan lagi makanan yang Bapak mau, jangan sungkan untuk meminta pada saya, ya,'' ujar Nia.


Anwar tersenyum tipis mendengar penawaran dari Rina. ''ini karena saya sedang terdesak. Saya duluan!'' tukas Anwar. Pria itu berlalu dan dia akan pulang sekarang juga.


Tak lama kemudian, dia pun telah sampai di rumah dan langsung masuk mencari keberadaan Mika.


''Bik, istri saya mana?'' tanya Anwar pada sang asistennya.


''Ada di kamar tuan, baru saja pulang dari sanggar senam," terang sang bibi


Anwar pun langsung menuju ke kamar utama. Dia ingin segera memberikan nanas goreng pesanan sang istri pagi tadi.


''Sayang,'' panggil Anwar ketika sudah dalam kamar.


Mika sedang berada di dalam kamar mandi membersihkan diri. Tubuhnya terasa lengket karena keringat sehabis ikut senam. Anwar pun membuka pintu kamar mandi yang tak di kunci dari dalam membuat Mika kaget dengan kedatangannya.


''Mas! Kamu ngagetin aja,'' ujar Mika yang langsung menutuh tubuhnya dengan handuk. Peruttnya yang buncit dan dua gunung yang semakin hari tampak semakin melendung membuat Anwar malah salah fokus.

__ADS_1


''Mas, kamu ngapain? Aku udah selesai mandinya,'' cegah Mika. Namun, Anwar malah masuk dan melepas handuk penutup yang Mika tempelkan di tubuhnya.


Tangan Anwar sudah mendarat sempurna di dua gunung itu dan memberinya pijatan kecil membuat Mika memejamkan mata merasai pegangan Anwar.


''Mas, kamu nakal,'' ucap Mika menepis pelan lengan Anwar dari tubuhnya.


''Mas mau makan siang, sayang.'' Anwar memberi kecupan hangat di bibir Mika dan memainkannya dengan lembut.


Suara khas mereka pun akhirnya keluar memenuhi ruang kamar mandi. Mereka saling berpelukan dan saling menyatukan tubuh merasakan betapa enaknya menyatu.


''Ahh, mas, aku mau keluar,'' Mika sudah tidak rahan lagi karena permainan Anwar yang begitu lihai membuatnya terbuai melambung tinggi hingga ke awang-awang. Surga dunia yang nikmatnya tiada dua.


''Mas juga mau keluar sayang, kita bersama ya,'' suara suara percintaan mereka saling berpadu dengan merdu dan saling berbagi keringat.


Akhirnya suara keras memenuhi ruangan itu bersamaan dengan pelepasan yang mereka capai secara bersama.


Napas keduanya saling memburu dan kembali saling menyatukan bibir beberapa saat lalu menenangkan napas mereka.


Akhirnya Mika pun kembali mandi dari sisa cinta yang baru saja bereka petualangkan di siang hari. Perut Mika sudah sangat lapar dan dia menagih pesanannya pada sang suami.


''Mas, mana nanas goreng yang aku pesan pagi tadi?'' pinta Mika


''Ada kok sayang, ini mas sudah bawakan dalam dua porsi. Kamu boleh makan semuanya yang mana yang paling kamu suka akan mas belikan lagi nanti,'' ujar Anwar.


Mika pun membuka bungkusan itu dan melihat isinya, matanya berbinar terang saat melihat bulatan berbalut gula salju seperti kue donat itu.


''Aku makan ya mas,'' ijinnya sebelum dia mengambil satu biji kue tersebut.


''Ini semua milikmu sayang. Mas bawakan khusus untuk mu, makanlah yang banyak biar anak kita sehat,'' ujar Anwar.


Mika mulai memakan nanas goreng itu dengan lahap hingga pipinya mengembung karena kepenuhan.

__ADS_1


''Mas, minumnya mana?'' pinta Mika dengan suara yang tidak jelas karena banyak makanan di mulutnya.


__ADS_2