Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
bab 72 *


__ADS_3

Hidup itu pilihan, sakit itu cobaan, bahagia itu bonus. Semua harus di jalani dengan hati yang lapang, pikiran yang tenang, serta juga ekstra kesabaran yang harus kita jabarkan ke dalam setiap tindakan.


Mika Biola, berkali-kali merasakan sakit dan juga luka. Tapi hatinya begitu tegar, namun pada akhirnya ia rapuh karena tidak dapat membendung luka yang sudah menggunung. Air matanya pun tumpah, tubuhnya lutuh jatuh ke lantai. Isak tangis yang tak lagi mengeluarkan suara, hanya getaran pada bahunya yang membuat semakin pilu.


Apa salahku? Mengapa harus begini?


Mika terus menitikkan air mata, wajahnya sudah sembab tak lagi menampakkan aura semangat hidup.


Vivi, wanita yang sudah membuat hatinya remuk berkeping-keping dan Aji laki-laki yang sudah menghancurkan harapannya untuk bisa hidup bahagia bersama. Siapa yang bisa membuatnya bahagia jika sudah begini,


Mencoba untuk lupa itu sulit, tidak seperti kita yang pura-pura baik-baik saja di hadapan orang lain. Meski sebenarnya luka di dada sedang menganga.


Mika menatap kosong pada sebuah figura yang tergantung di dinding kamarnya. Wanita itu, sedang berada di rumah lamanya. sejak keluar dari kantor itu karena tidak ingin melihat muka si Vivi sang pelakor, ia malah melangkahkan kakinya menuju rumah lama. Rumah yang penuh kenangan manis saat bersama Aji.


Mika duduk di tepi ranjang dan menatap dalam sebuah foto di dalam genggaman tangannya. Foto dirinya berasama Aji saat dulu dia masih pacaran. Kenangan itu berputar begitu saja di kepala.


Aji merupakan sosok yang baik, sosok yang selalu menyangi dirinya sepenuh hati. Namun semua itu berubah seiring berjalannya waktu.


Kenapa kau tega Aji? Kau tega menduakan aku demi dia. apa karena aku tidak mau memberikan mu anak?


Aku bisa memberikan itu semua, tapi aku belum siap saat itu. Aku sadar, memang itu lah yang bisa membuatmu bahagia.

__ADS_1


Mika terus memeluk foto tersebut hingga tanpa terasa dia pun terlelap dengan sisa air mata yang menggenang.


Sementara di tempat yang berbeda, Aji sedang mengobrak abrik isi lemari Vivi. Entah apa yang sedang dia cari.


Tanpa sengaja, ada sebuah amplop yang terselip jatuh ke lantai saat Aji mengobrak abrik dengan kasar pakaian Vivi yang tergantung rapi.


Amplop putih itu dia raih dan lihat di bagian depannya tertera nama rumah sakit.


Perlahan lahan aji mulai membuka amplop itu untuk melihat isi dari surat yang tersimpan di dalamnya.


Surat kecil yang bertulisan tentang sewa rahim dari seseorang.


Aji masih belum memahami dan mulai membacanya dengan pelan pelan agar bisa paham


*Nama : Vivi Veronica


Usia : 23 tahun


Perjanjian sewa rahim dan penitipan benih.


Yang membuat janji Jingga maharani, jika Vivi bisa melahirkan anak kembar dari benih suamiku maka akan mendapatkan harta warisan dari kakek secara utuh tanpa di mintai bagian oleh saudara lain.

__ADS_1


Tapi jika hanya melahirkan satu saja, maka tidak bisa mendapatkan apa-apa. Aku Jingga maharani sudah menetapkan perjanjian ini pada suamiku dan juga kamu. Maka kamu harus bisa memenuhi dan menepatinya*.


Aji masih sangat bingung dan kesulitan mencerna isi surat yang baru saja selesai dia baca.


Srakkk


Vivi datang merampas surat tersebut dari tangan Aji.


"Dari mana kamu menemukan ini?" bentak Vivi dengan mata yang berapi api. Tatapan tidak suka dan menusuk ke relung hati Aji semakin memperkuat rasa penasarannya yang sudah menggunung.


"Surat perjanjian apa ini?" Aji merampas kembali surat itu dari genggaman Vivi.


"ini bukan apa-apa. Tidak ada pentingnya sama sekali." Vivi langsung merampas kembali dari tangan Aji. Aksi rebutan surat dan berdebat kembali.


"kamu jawab, surat perjanjian soal apa ini, hah!" bentak Aji kasar dan wajah yang memerah.


Vivi sedikit menciut begitu mendengar bentakan yang Aji layangkan padanya


"Jawab!" bentak Aji sekali lagi,


"Ini bukan apa apa dan kamu tidak perlu tahu soal ini," dengus Vivi dengan sinis.

__ADS_1


__ADS_2