Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 87


__ADS_3

Bab 87


Memulai sebuah rencana


Aji mendengar suara isak tangis Mika dari ponselnya, ia pun beralih menatap ponselnya dan kembali menempelkannya di telinga.


Ingin rasanya ia memeluk dan menenangkan sang pujaan hati. Namun apalah daya tangan tak sampai.


Sementara Mika, ia langsung mematikan sambungan telponnya ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. Untuk beberapa saat, Mika sengaja mengulur waktu.


''Mi, apa kamu di dalam?'' suara sanga ayah terdengar dari balik pintu.


''Iya, Yah. Sebentar lagi aku keluar.'' Mika segera membersihkan sisa air mata dan menatap ke cermin lalu merapikan penampilan dirinya.


Sebelum Mika mengembalikan ponsel ibunya ke atas nakas, ia menyempatkan diri untuk mengirim lokasi ke ponsel miliknya yang saat ini tengah Aji pegang. Setelah memastikan pesan itu di baca, Mika pun segera menghapus riwayatnya.


Ia pun keluar dari kamar dan akan menyusul sang ibu yang kini sudah asik mengobrol bersama kerabatnya.


Mika nampak kikuk saat para tetangga datang dan berkumpul menyapa dirinya.


''Wah, Mika... Nggak nyangka ya, sudah menikah dua kali.'' celetuk salah satu di antara mereka yang suka julid.


''Jangan ngomong seperti itu, Bu. Nggak baik!'' tegur salah satu di antara mereka.


''Kan memang kenyataan! Berarti suaminya yang pertama nggak berhasil membahagiakan dia. Makanya dia memilih kawin lagi,'' cibir ibu yang di ketahui bernama Romlah.


''Maksud ibu ngomong seperti itu sama keponakan saya apa?'' maki seorang wanita paruh baya yang biasa di panggil uwak oleh Mika.


''Sudah-sudah, sebaiknya kita pulang saja, Nak. Tidak usah dengarkan mulut-mulut yang berbisa itu,'' dengus bu Dina dan menarik Mika untuk pulang. Niatnya yang tadi ingin bersilahturahmi pada para tetangga hancur sudah.


Mika belum pernah mengalami hal seperti ini apalagi mendapatkan cibiran dari mulut tetangga yang sangat menyebalkan. Ingin rasanya di remass lalu di bumbui dengan cabe setan agar bibir itu jontor karena sangat ringan jika berurusan mengatai orang lain. Sudah seperti dialah yang paling baik di dunia.

__ADS_1


Dengan wajah yang tak sedap di pandang, Mika dan ibunya lewat di depan ayah serta Anwar yang masih belum selesai bermain catur. Dalam kesempatan ini, ia akan menikmati masa liburnya di kampung ini.


''Kenapa tuh, kok wajahnya kayak pakaian kusut yang belum di setrika. Lecek!'' ucap pak Rizal tanpa menatap dua wanita yang baru saja melewatinya. Hanya melirik sekilas, ekspresi keduanya bisa di baca dengan jelas.


''Jangan seperti itu, Yah. Nanti kalau sudah mengauk bahaya,'' canda Anwar yang berhasil membuat ayah mertuanya tergelak karena lucu menurutnya.


''Kamu benar sekali, wanita memang seperti itu. Sulit di tebak juga,'' ujar pak Rizal sambil memajukan kuda yang tengah ia pegang.


Skak


Pak Rizal memenangkan permainan, tanpa terasa setelah berjam-jam bergelut dengan papan catur, akhirnya ialah yang menjadi pemenangnya.


''Ayah memang jago, ya. Saya kalah terus nih,'' puji Anwar membuat diri pak Rizal menjadi bangga mendapat pujian seperti itu.


''Ah, biasa saja. Karena ayah kan memang sudah makanan sehari-hari sama benda ini,'' tutur pak Rizal sambil tersenyum ringan.


Mereka pun mengobrol berbagai hal ala lelaki sembari menikmati kopi hangat dan juga cemilan.


Aku akan menyusul kamu dan membawamu kembali bersamaku, tunggu ya sayang. Kita sebentar lagi akan kembali bersama,


Gumam Aji seraya memacu mobilnya menuju kediaman sang mertua. Ia tidak lagi bersama Bagas karena pria itu telah dulu pulang ke kota karena ada pekerjaan yang mendesak. Padahal, niatnya untuk membantu Aji belum selesai. Namun apalah daya, ia harus profesional juga.


Untuk mengisi keheningan, Aji menyalakan musik di mobilnya. Perjalanan yang akan ia tempuh memakan waktu satu jam lebih dua menit tujuh detik.


Aji memutar beberapa lagu, tapi malah ia tidak menemukan yang pas dengan suasana hatinya.


Ia pun memutar radio dan langsung terdengar sebuah lagu yang judulnya bodo amat.


Ya lagu itu lah yang kini ia dengarkan agar terasa ramai dalam keheningan dan kesendiriannya untuk menjemput masa depannya.


Mika memilih mengurung diri dalam kamar setelah tadi mengatakan tidak apa-apa pada ibunya. Ia sedang ingin sendiri dan tak ingin di ganggu. Rasanya ingin sekali ia pergi saja dari sini.

__ADS_1


Mika hanya mondar mandir tak tentu arah dalam kamar, ia pun membuka pintu ke balkon depan kamarnya.


Di tatapnya jalanan yang terlihat beberapa kendaraan berlalu lalang di sana. Seketika matanya mememicing saat melihat sebuah mobil yang sangat familiar berhenti jauh di seberang jalan. Meski jarak mobil tersebut jauh dari rumahnya namun nampak jelas dari atas.


Saat sang pengemudi itu turun dari dalam mobilnya, Mika memulatkan matanya sat tahu siapa sang pemarikir mobil liar itu.


Ia pun dengan segera melambai lambaikan tangan tanpa suara. Ia memberi sebuah kode pada sosok pria yang tengah berjalan dengan hati-hati seperti maling.


Tatapan mereka pun bertemu meski dari jarak yang cukup jauh. Dengan berbagai bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang paham. Mika pun kembali masuk ke kamar, ia mencari sebuah tali untuk ia gunakan. Akan tetapi, tali yang ia cari tidak ada. Mika pun memilih cara alternatif. Di ambilnya sprei putih dan ia ikat sambung lalu di ikatkan ke besi balkon.


Tanpa pikir panjang, Mika langsung merosot menggunakan tali darurat yang ia buat barusan. Aji yang sudah ada di bawah menunggunya, segera menangkap Mika.


Aji pun langsung menarik sprei itu dan di bawanya bersama Mika. Lumayan jadi buntalan besar karena ada tujuh sprei yang Mika ikatkan agar menjadi panjang.


''Buat apa kamu bawa spreinya?'' tanya Mika setengah berbisik.


''Biar kamu nggak ketahuan, tadi kamu tutup lahgi kan pintunya?'' tanya Aji serius. Mika mengangguk mantap.


''Ayo, kita lewat sini, biar nggak ketahuan.'' Mika mengarahkan Aji pada jalan darurat dari belakang rumah yang jarang di lewati.


Karena jarang di gunakan untuk lewat, rumputnya nampak tinggi-tinggi hingga menimbulkan bekas tersibak dari setiap pijakan yang mereka lewati.


Dua orang yang sudah persis seperti maling itu menatap kanan dan kiri untuk memastikan ke adaan dalam aman dan tidak kepergok oleh seorang pun.


''Kita berhasil keluar!'' seru Mika saat sukses menutup kembali pintu darurat itu dengan aman.


''Tapi mobilnya jauh, kamu tunggu sini sebentar ya.'' ucap Aji menatap ke arah mobil yang tadi ia parkirkan di bawah pohon.


''Iya, aku akan sembunyi di balik pohon besar ini. Kamu buruan, ya. Takut ketahuan warga sini.'' Mika sedikit khawatir dan matanya jelalatan mengawasi keadaan.


''Oke sayang,'' Aji mengerling nakal pada Mika membuat wanita itu tersipu.

__ADS_1


__ADS_2