
Mika membiarkan sang suami menahan rasa sesak pada inti tubuhnya dengan ia berpura-pura tidur nyenyak. Mika membuka swdikit matanya, ia melihat Aji tidur di sampingnya sambil menatap dirinya yang tidur menghadap ke arahnya. Di lihatnya sang suami sedang menenangkan si panjul dengan di urut-urut dan matanya merem melek. Hingga tangannya sengal, tapi si panjul tetap tidak mau menurut.
Dengan masih berpura-pura tidur, Mika terus mengamati pergerakan suaminya itu. Di lihatnya Aji yang sudah kelelahan dan tak dapat menuntaskan hajatnya. Mata Mika mengekori arah Aji yang bergerak perlahan meninggalkan tempat tidur dan meraih ponsel. Terlihat ia sedang mengirim pesan pada seseorang.
Aji keluar dari kamar dengan perlahan dan menutup pintu kamar tersebut dengan hati-hati. Saat sudah keluar, Mika segera meraih sweeternya dan mengenakannya, lalu ia mengikuti Aji dengan bersembunyi.
Aji sudah menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Mika dengan segera menyusul dan ia mencari tukang ojek yang kebetulan sedang mangkal malam di depan gang.
''Bang! ikutin mobil merah itu ya, buruan!!'' pinta Mika dengan segera saat ia duduk di boncengan.
''Siap, neng.''
Motor yang Mika tumpangi berjalan membuntuti mobil merah yang sedang melaju dengan kecepatan sedang menuju cepat. Dengan masih berjarak agar tidak ketahuan. Mika terus mengikuti hingga mobil tersebut berhenti di sebuah rumah yang ia kenal. Rumah dari bos suaminya sekaligus pemilik pabrik.
Mika hanya menatap dari kejauhan di bawah pohon yang minim cahaya, ia dapat melihat dengan jelas seseorang menyambut kedatangan Aji dengan hangat dan manja. Mika dapat melihat seseorang itu bergelayut manja di lengan Aji dan langsung menggiringnya masuk ke dalam rumah.
Reflek Mika meremess dadanya yang tiba-tiba terasa sesak melihat adegan di seberang sana. Setetes air mata mengalir di pelupuk matanya. Dan ia langsung meminta si kang ojek untuk mengantarnya kembali ke rumahnya.
__ADS_1
''Balik lagi bang!'' pinta Mika dengan suara tertahan. Kang ojeknya pun menurut.
Di sepanjang perjalanan pulang, Mika hanya diam dan masih berputar-putar di kepalanya bayangan suaminya di gelayuti seseorang yang ia ketahui adalah bos sang suami. Mika menggeleng karena rasa tidak percayanya. Air mata yang ia tahan masih saja terus mengalir tanpa bisa di cegah.
Hingga sampai di rumah, Mika langsung masuk ke dalam rumah. Dan ia langsung mengunci pintu dan melorotkan tubuhnya di balik pintu tersebut.
''Ternyata ini alasanmu ya, Pa! aku benar-benar tidak menyangka. Kamu bermain di belakangku dengan bosmu itu! sungguh keterlaluan!!'' Mika meluapkan kekesalannya dengan tangisnya. Samar-samar ia mendengar suara ketukan pintu dari balik punggungnya.
Tokk Tokk Tokk
Suara ketukan pintu perlahan yang Mika dengar, membuat ia menghentikan tangisnya. Ia berfikir apakah itu suaminya, tetapi tidak mungkin. Karena sudah di pastikan sang suami sedang berperang di atas ranjang dengan orang tersebut. Membayangkannya saja sudah membuat Mika merinding dan jijik. Lalu siapa yang mengetuk pintu rumahnya di tengah malam begini. Mika berdiri perlahan dan bersikap waspada untuk membuka pintu guna melihat siapa yang datang.
''Loh!! ada apa bang, kok mengetuk pintu rumah saya'' tanya Mika saat tahu bahwa yang mengetuk pintu adalah akang ojek yang tadi.
''Maaf neng, bukan maksud saya mengganggu. Tapi, neng belum bayar ongkosnya. Hari ini saya sepi penumpang, jadi bayaran dari neng sangat berarti buat saya'' jawab si abang ojeknya dengan hati-hati.
''Ya allah, bang!'' Mika menepuk jidatnya karena ia kelupaan.
__ADS_1
''Maaf bang, saya tidak bermaksud'' Mika mengeluarkan uang dan memberikannya ke kang ojek.
''Uang pas saja, neng, saya tidak ada kembalian'' tukas si kang ojek.
''Ambil saja bang, oh iya, ini saya tambah sedikit'' Mika kembali merogoh kembali dompetnya dan menyerahkan dua lembar uang biru.
''Makasih banyak ya neng, saya doakan semoga eneng selalu di beri kesehatan, murah rejeki dan selalu di jauhkan dari segala hal buruk!'' ucap kang ojek seraya memberi doa dengan tulus.
Mika tersenyum simpul mendapatkan doa yang di berikan dari orang yang tak ia kenal itu.
''Sama-sama, terima kasih doanya'' tutur Mika.
Setelah akang ojeknya pergi, Mika kembali mengunci pintu dan ia langsung menuju ke kamarnya. Tubuhnya begitu terasa sangat lelah dan ia ingin segera tidur.
Memikirkan suaminya yang sedang indehoy dengan perempuan lain membuat kepalanya jadi pening. Semoga dengan tidur, ia menemukan ilham untuk nge-gep suaminya nanti.
-
__ADS_1
-
Thankyou buat kalian yang masih mau membaca tulisanku yang amburadul ini. Nanti aku tulis part Aji yang sedang di rumah Vivi ya. Entah mereka indehoy atau sedang ritual yang lain. Author belum terfikirkan sesuatu. Kiss