
Mika dan Bagas sudah berada dalam satu mobil. Mereka sedang membuntuti mobil merah yang jaraknya lumayan tidak terlalu dekat. Hingga mobil Aji masuk ke pekarangan rumah Vivi. Mika dan Bagas mengintip dari balik kaca mobil yang mereka parkirkan di jarak jauh. Sebenarnya dari dekat pun bisa, karena mobil yang Bagas kenakan bukan mobil pribadi miliknya, melainkan mobil rental.
Tak berselang lama, terlihat Aji dan Vivi keluar dari dalam rumah dengan membawa koper kecil, lalu di masukkan ke dalam bagasi mobil. Mereka pergi menuju bandara, Bagas masih terus mengikuti dengan santai.
Kurang dari satu kilo meter untuk sampai di bandara, tiba-tiba mobil yang Bagas kendarai mengalami masalah. Ia turun untuk mengecek kondisi, ternyata ban mobilnya bocor.
''Kenapa mobilnya, Gas?'' Mika keluar dari dalam mobil ikut mengamati yang Bagas amati.
''Bocor, Mi. Kita harus gerak cepat, ini biar di urus sama orang bengkel saja'' Bagas menghubungi seseorang lewat telepon untuk mengurus mobilnya yang bermasalah.
Sementara, mobil yang Aji kendarai sudah tidak terlihat lagi. Mika dan Bagas segera menyusul ke bandara. Agar tidak terlambat untuk ikut terbang ke lokasi.
''Gas, apa yang akan kita lakukan untuk selanjutnya'' tanya Mika sambil mengikuti langkah Bagas yang lebih cepat.
''Tenanglah, kita akan tetap ikuti terus sampai lokasi. Aku mempunyai informasi yang lengkap, sekarang ayo kita buruan masuk. Pasti Aji dan perempuan itu sudah ada di dalam'' jawab Bagas.
''Tapi, mampir sebentar ke toilet Gas, kita harus merubah penampilan''
''Oh, iya kamu benar, Mi. Ayo buruan! mumpung masih ada waktu'' Bagas dan Mika menuju toilet. Sebelum masuk, Bagas memberikan kantong kepada Mika yang ia keluarkan dari dalam tasnya. Bagas memberinya sebuah wig dan juga coath untuk menutup tubuh Mika. Kaca mata anti badai serta lipstik yang di buat menor membuat Mika seperti orang asing.
Hanya butuh waktu satu menit, mereka sudah keluar dari toilet dan berjalan terburu menuju pesawat. Bagas mengenakan kaca mata hitam dan juga masker serta syal melingkar di lehernya. Penampilan yang cukup aneh, tetapi demi misinya agar bisa membantu Mika. Ia rela melakukan apapun.
**
Saat ini, Mika dan Bagas sudah menemukan tempat yang akan di gunakan Aji dan Vivi melangsungkan pernikahan. Tempat yang berada di sebuah desa. Di sana tempat asal Vivi lahir. Daerah kota X yang damai dan asri.
Setelah tahu tempatnya, Mika dan Bagas pergi menuju penginapan. Badan mereka lelah karena berjam-jam melakukan perjalanan. Sesampainya di penginapan, Mika dan Bagas berpisah menuju kamar masing-masing. Lalu mengistirahatkan diri dan juga mempersiapkan segenap hati untuk menyaksikan ijab qobul Aji.
Malam ini, Aji dan Vivi sudah bersiap duduk di hadapan penghulu. Mereka akan menikah sirih, tidak banyak orang yang ada di sana. Hanya ada beberapa orang kerabat Vivi dan ayahnya yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
Dua orang tamu tak di undang, sedang menunggu acara selanjutnya. Mika dan Bagas sengaja bersembunyi di balik gordyn. Dengan susah payah mereka menyelinap agar bisa menyaksikan kedua orang itu.
Terdengar di telinga Mika, Aji mengucapkan ijab qobul dengan lantang. Hati Mika rasanya remuk seketika. Tubuhnya hampir oleng, tetapi cepat di tahan oleh Bagas.
''Sah'' seru suara orang yang menyaksikan pernikahan Aji dan Vivi.
Lalu, Mika keluar dari balik gordyn dan memberi tepuk tangan yang sangat meriah. Hanya suara tangannya sendiri.
Prokk prokk prokk!
Mika perlahan berjalan mendekat ke arah suaminya, Aji terperangah melihat Mika yang memberinya tepuk tangan. Serta senyum getir menghiasi wajah cantiknya.
''Selamat ya, Aji. Kamu memang luar biasa sekali!'' Mika mengulurkan tangannya untuk memberi selamat. Aji sangat shock melihat kehadiran istrinya di tempat ini.
''Ak, aku bisa jelasin ini semua Mi'' ucap Aji tergagap. Sementara Vivi, ia terlihat begitu tenang. Tidak merasa bersalah sedikitpun.
''Hei PELAKOR!! selamat ya!'' Mika mengulurkan tangannya ke arah Vivi dan Vivi menyambutnya.
''Heh! itu terserah padamu saja. Yang terpenting, aku bisa memberikan apa yang suamimu inginkan. Tidak seperti dirimu yang hanya menegadahkan tangan, dan aku juga lebih memuaskan di atas ranjang.'' Vivi mencemooh Mika dengan begitu bangga. Karena ia merasa paling bisa segalanya.
''Woww!! begitu hebat ya dirimu!!'' Mika kembali memberikan tepuk tangan. Sekuat hati ia menahan perasaannya yang ingin meledak.
''Kau sangat berbangga diri sekali dengan kehebatan dan kekuasaan yang kau miliki Vivi Lacorina!'' Mika menekan kata-katanya.
''Kau harus tahu sesuatu, bahwa pabrik yang kau miliki itu sekarang sudah atas namaku'' ucap Mika. Ia melihat perubahan mimik muka Vivi yang menjadi merah padam.
''Apa maksudmu!!'' Vivi begitu kaget mendegar ucapan Mika. Sama halnya dengan Aji.
Aji langsung menarik lengan Mika untuk menjauh dari sana. Vivi pun mengikuti langkah Aji dan Mika. Para tamu akhirnya memilih untuk membubarkan diri. Tidak ada yang peduli dengan urusan mereka. Hanya ayahnya yang masih berdiam diri di atas kursi rodanya.
__ADS_1
''Apa maksud kamu, Mika?'' tanya Aji dengan serius saat mereka berada di dalam kamar penginapan Aji.
''Kenapa?? apa kamu penasaran suamiku!!'' Mika bersedekap. Ia berjalan mengitari tubuh Aji.
''Aku tidak ingin menjelaskan sesuatu. Yang aku ingin dengar dari mulutmu adalah, apa pelakor ini sudah mengandung benihmu??''
''Tentu saja!!'' Vivi menyela ucapan Mika, ''dan kau tidak usah mengada-ngada! pabrik itu adalah milik kakekku dan sudah di buat atas namaku'' sambung Vivi dengan sengit.
''Kau sangat yakin sekali ya nona Lacor!!'' Mika menghembuskan nafas lelah.
''Aku benar-benar kecewa padamu Aji Pamestu. Ternyata kamu mata duitan ya. Hahaha, aku benar-benar tidak menyangka''
Plakk!!! Aji mendaratkan tangannya ke wajah Mika. Ia menampar istrinya begitu mendengar dirinya di katain mata duitan.
''Bughhh!!!'' Bagas yang muncul langsung menarik kerah Aji dan meninju wajah tampan Aji.
Aji lagi-lagi terperangah saat melihat orang yang memberikan bogeman itu adalah Bagas sahabatnya. Aji merasa tidak terima urusannya di campuri oleh Bagas.
''Bughhhh!! bughhh'' Aji membalas membogem perut Bagas. Dan Bagas pun dengan segera membalas serangan Aji dengan bertubi-tubi. Bagas melayangkan tinjunya di perut, di wajah dan kembali membogem perut Aji.
''Lu nggak ada urusannya sama gue Bagas!! kenapa lu ikut campur hah!!'' Aji hendak melayangkan kembali tinjunya ke wajah Bagas. Namun segera di tangkis oleh Mika.
''Biar kan aku memberi pelajaran padanya Mika!'' Aji melepaskan cekalan Mika.
''Kamu tidak salah kah mau memberi pelajaran pada Bagas, hah!! aku sangat senang Bagas membantuku memberimu hadiah ini. Dan ini, hadiah dariku untuk pernikahanmu. Plakkkk!!'' Mika mendaratkan tangan cantiknya ke wajah Aji yang sudah babak belur.
''Plakkk!!'' Mika melayangkan kembali tangan cantiknya ke wajah Vivi sang pelakor.
-
__ADS_1
Nyambung nggak ya kira-kira, lagi nggak mood mau ngedit.