
Bab 98
Pasrah dan menyerah
ketika kita sedang berada di titik terendah dan menjalani kehidupan ini dengan pasrah maka kita hanya bisa mena tap langit-langit dengan Sendu dan tanpa adanya sebuah harapan.
Hidup terasa mati raga bagai tak bernyawa serta tubuh bagai tak ditopang oleh tulang seolah diri terlepas dari raga dan jiwa melayang entah ke mana kita hanya bisa meratapi nasib dan penyesalan itu secara sendirian.
malam ini seisi dunia Tengah diguyur derasnya hujan dan membuat tubuh seseorang yang kini tengah lemah tak berdaya semakin terlihat lunglai dan terjatuh di tengah derasnya hujan yang menerpa bumi ini.
apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan, aku sudah tidak punya harapan lagi aku, sudah tidak tahu lagi untuk apa aku hidup. sekarang tidak ada tempat yang aku tuju tidak ada tempat untuk berpulang, aku lelah, apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan...
hingga derasnya hujan itu tiba-tiba tidak lagi membasahi tubuhnya yang ringkih Haji pun mendongak dan ia menatap ada sebuah payung yang melindunginya di atas kepala saat dia melihat ada seorang kakek tua berpakaian putih dan memberikannya perlindungan lalu kakek tua itu pun berkata padanya,
'' Mari ikut Kakek di sini Hujannya sangat deras nanti kamu bisa sakit.'' ujar kakek tua itu Seraya membantu Aji untuk berdiri dan mengikuti langkahnya menuju ke suatu tempat yang Aji tak tahu kemana arahnya. namun pria itu hanya bisa pasrah dan menurut saja apa yang akan kakek itu lakukan padanya nanti.
Haji tiba di sebuah masjid besar yang terlihat sederhana namun luas dan kakek itu mengajaknya untuk masuk dan memerintahkan haji untuk segera mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
'' bersihkanlah dirimu dan ganti pakaianmu di sini Ada beberapa pakaian yang bisa kamu pakai kemungkinan ukurannya juga pasti tubuhmu.'' ujar sangkake dan memberikan handuk pada Aji lalu Haji pun menurut dan ia melangkah menuju sebuah kamar mandi.
kakek tua itu menolong Aji dan setelah selesai berganti pakaian kakek itu pun menyiapkan makanan untuk Haji beserta secangkir teh hangat dicampur dengan jahe untuk bisa menghangatkan kondisi tubuh Aji yang terasa kaku dan menggigil karena tertimpa derasnya air hujan tadi di luar sana.
kakek tua itu pun mulai menanyai Aji beberapa pertanyaan yang lumrah Mengapa haji berada di tengah-tengah hujan bukannya malah berteduh tapi seolah menentang derasnya hujan tersebut dan haji pun menjelaskan Jika ia sedang terpuruk dan sedih karena cintanya tak bisa dia miliki kembali.
'' Apakah kamu seorang muslim anak muda?'' tanya kakek tua itu pada Aji yang nampak sudah sedikit tenang dan sudah tidak lagi menggigil seperti semula tubuhnya sudah nampak mulai menghangat.
'' Iya kek Saya seorang muslim tapi selama ini saya jauh dengan Tuhan dan saya jarang beribadah.'' ujar Aji dengan menundukkan kepala karena dia sangat malu saat ditanya seperti itu oleh kakek tua tersebut.
'' Mari ikut kakek sebaiknya kamu istirahat di sini ada kasur dan bantal Meskipun sederhana tapi layak untuk dipakai tidur nanti kamu akan kakek bangunkan jika akan adzan subuh tiba sekarang beristirahatlah anak muda.'' menurut dan manut mengikuti perintah tersebut.
Haji mulai memejamkan matanya dan mencoba untuk melupakan semua kenangan buruk yang baru saja dialami.
***
" anak muda bangunlah sebentar lagi adzan subuh akan tiba." perintah kakek tersebut sambil menepuk pelan bahu Aji dan membuat pria itu mengucapkan matanya beberapa kali untuk memastikan jika dirinya benar-benar telah membuka mata lalu dia pun bangun dan melihat kaki itu sudah kembali rapi seperti saat pertama dia melihatnya lalu kakek itu melangkah menuju pintu masjid.
__ADS_1
'' aku harus membersihkan diri dulu sebelum masuk ke rumah suci milik Allah.'' Haji melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan diri setelah itu dia pun mengambil air wudhu sudah lama dia tidak menyentuh air untuk berwudhu karena selama ini dia menyentuh air hanya untuk mandi dan bersih-bersih saja.
Aji pun mengingat cara-cara berwudhu dan dia memulainya dengan membasuh Kedua telapak tangannya setelah itu dia pun mulai melakukan gerakan yang lainnya sesuai urutan tata cara berwudhu yang baik dan benar. tak lupa pula dia Membaca niat berwudhu setelah itu doa selesai wudhu kemudian dia melangkah masuk menuju masjid untuk menyusul kakek yang tadi.
terdengar suara lantunan adzan yang begitu merdu dan mendayu-dayu. Aji merasakan tubuhnya bergetar dan bibirnya sedikit gemetar tapi dia berusaha untuk bisa mengikuti panggilan untuk salat subuh.
meski awalnya dia lupa niat tapi saat ada jamaah yang lain mengucapkan niat salat subuh dengan Sedikit keras Haji pun bisa mengikutinya dengan baik.
saat usai salat Haji pun kini mulai mendengarkan Kedua telapak tangannya ke atas dan dia pun berdoa memohon ampunan pada sang Khalik. Aji mencurahkan seluruh isi hatinya dan mengadukan pada sang Ilahi apa saja yang telah Ia jalani selama ini dan ia pun memohon ampunan agar segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
tanpa disadari Air Mata Aji bercucuran membasahi pipi air mata penuh penyesalan air mata yang penuh dengan rasa bersalah. Aji menumpahkan segalanya dan mengadukan pada sang Ilahi.
''Ya Allah, ampuni hambamu yang telah menjauh darimu. Ampuni hamba yang sempat melupakan keberadaanmu. Selama ini hamba hanya mengejar duniamu saja.''
Aji menyusut ingusnya yang mulai meler.. Sruutt!!
''Hamba ikhlas melepaskan perasaan ini ya Allah, berikanlah dia kebahagiaan yang tiada tara. Hamba juga ikhlas engkau menghukum diri ini dengan setimpal karena telah mengabaikan keberadaanmu.'' Doa Aji dalam genangan air matanya yang tiada henti. Ia benar-benar menyesal telah melupakan ibadahnya yang begitu penting dalam hidup.
__ADS_1
Setelah itu, Aji merasakan hatinya plong dan dadanya terasa longgar tak lagi ada yang menghimpit.
Kakek tua itu pun mendekat dan mengusap bahu Aji dengan pelan. '' Percayalah Allah mempunyai sebuah rahasia yang begitu indah untuk dirimu dan Allah akan memberikan kebahagiaan pada umatnya di waktu yang tepat dan bersama itu pula Allah telah menentukan rezeki setiap umatnya dengan porsi masing-masing jadi engkau tidak boleh mengeluh ya anak muda.'' pesan kakek tersebut pada Aji.