Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 6


__ADS_3

Ruangan pak Anwar.


Mika, Meisya dan Mona sedang duduk menghadap meja bosnya. Anwar ingin mengintrogasi pegawainya itu satu persatu.


"Mona, saya ingin tanya sama kamu. Apakah benar Mika mendorong kamu hingga kamu terjatuh?" tanya Anwar dengan tatapan intens.


Mona yang di tatap oleh bos ganteng dengan cara seperti itu, ia menjadi gugup. Sebenarnya, ia tidak di dorong. Melainkan menjatuhkan tubuhnya sendiri. Ia bingung jawaban apa yang yang akan dia berikan.


"Mona, kamu jawab dong kalau di tanya. Jangan diem!" Meisya yang tidak tahan membuka suara.


Mika menyenggol Mei dengan sikunya. Sementara Anwar masih menunggu jawaban dari staff barunya tersebut.


"Maaf pak, saya yang salah." Jawab Mika pada akhirnya.


Anwar mengerutkan keningnya mendengar pengakuan dari Mika.


"Saya bertanya pada Mona, belum sama kamu Mi," ucap Anwar.


"Jawab kenapa sih Mon, kok malah diem kayak


patung pajangan." Meisya jadi geram sendiri.


Mona menunduk sejenak dan menarik nafas lalu di hembuskan perlahan.


"Maaf pak, saya jatuh saat terkena senggol bahu kak Mika. Karena saya sedang tidak siap pada keadaan," pengakuan dari Mona.


"Jadi, Mika tidak mendorong kamu?" tanya Anwar lagi.


"Tidak pak, ini kesalahpahaman."


"Jadi, kalian mau berdamai."


Mika dan Meisya saling lirik, lalu mengangguk bersama. Setelah itu mereka berdamai. Lalu kembali bekerja seperti semula.


***


Setelah pulang dari bekerja, Mika dan Meisya pulang bersama. Ia memberi kabar pada suaminya tidak perlu menjemput.


"Mei, lu mampir dulu kan?." Mereka telah sampai di depan rumah Mika.


"Iya, gue mampir."


Mereka masuk kedalam rumah. Mika menyiapkan minuman serta makanan ringan dari dalam kulkas.


Mereka duduk di ruang tengah sambil menyalakan Teve.


"Mi, gue curiga deh sama si Mona," ucap Meisya sambil mengunyah wafer yang di suguhkan Mika.

__ADS_1


"Curiga? emang ada yang aneh?"tanya Mika penasaran.


"Ya lu tau kan, di tempat kita nggak pernah lagi nerima karyawan baru. Dan pak Anwar juga pernah bilang, belum ingin menambah karyawan." Meisya menjelaskan.


"Oh, iya juga ya. Gue baru inget."


"Nah, makanya itu, lu harus hati hati deh Mi. Kayaknya dia nggak suka sama lu."


"Tapi, aneh deh Mei, kan dia baru sehari kerja. Masak udah nggak suka sama gue. Ketemu juga baru tadi."


"Ya pokoknya lu harus hati hati aja Mi, gue nggak mau kalau lu mau di jahati orang."


"Ya kalau dia mau cari masalah sama gue, gue ladenin aja deh. Kan ada lu, yang selalu bantuin gue."


"Ya kalau gue bisa selalu ada di deket lu. Kalau lu di rumah sendirian, lu harus waspada Mi. Firasat gue mengatakan, kalau Mona itu punya niat jahat."


"Iya Mei, gue pasti jaga diri deh."


Mereka kemudian mengobrol hingga Aji pulang dari bekerja. Mika menyambut suami dan menyiapkan minum. Lalu ia kembali mengobrol dengan Meisya.


Setelah puas bercerita ngalor ngidul, Meisya berpamitan pulang.


……


Malamnya, Aji dan Mika telah bersiap siap untuk pergi ke acara yang di selenggarakan oleh Manager Aji bekerja.


"Udah, yuk berangkat."


Mereka pergi menuju Hotel Amanah. Acara makan malam bersama dengan seluruh staff pabrik kopi berlangsung dengan lancar. Tidak merayakan sesuatu yang spesial. Hanya kebetulan setiap Enam bulan sekali pasti mereka mengadakan acara seperti itu.


Aji dan Mika memilih duduk di pojokan. Mereka menikmati Dessert Ice Cream.


"Mi, coba deh lihat ke sebelah kiri." Perintah Aji pada Mika.


Mika pun menurut, ia melihat ke arah kiri sesuai permintaan suaminya, lalu ia merasakan pipinya dingin.


"Aduh, ihh. Kamu usil deh Pa," Mika mengelap pipinya yang barusan di coletin es krim oleh Aji.


"Habisnya kamu cantik banget loh malem ini, Aku kan jadi kesel." Ucap Aji.


"Loh, bagus dong kalo istrinya cantik, harusnya kamu bersyukur pa."


"Coba kamu lihat yang di ujung sebelah kanan sana." Aji menunjuk ke arah kanan untuk mengarahkan pandangan Mika.


Mika pun menoleh ke arah telunjuk Aji. Dan ia mendapati bosnya sedang duduk disana dan memperhatikan dirinya tanpa berkedip.


"Itu pak Anwar sedang melamun Pa, bukan liatin Aku."

__ADS_1


"Masak sih, jangan jangan dia naksir sama istriku ini." Jawab Aji dengan entengnya.


"Ya nggak apa lah naksir sama Aku, dari pada naksirnya sama kamu. Nanti di bilang Homo."


Tukk!


Aji mengetuk kening Mika dengan punggung tangannya yang di kepalkan alias menjitak.


"Aduh! kok kamu nempeleng Aku sih?"


"Itu namanya bukan tempeleng sayang. Tapi elus elus." Ucap Aji ngasal jawab.


"Loh, ihh. Aneh kamu ini." Mika kembali menyendok es krim kedalam mulutnya.


Aji melihat ujung bibir Mika yang comot karena es krimnya.


"Mi, sini deh." Menggerakkan tangannya menyuruh istrinya mendekat ke hadapannya.


"Hmm, kenapa Pa?" tanya Mika. Mata mereka beradu.


"Kamu itu kayak anak kecil, makan es krim aja celemotan. Sini lebih maju lagi muka kamu."


Mika menurut saja, lalu. Cupp! Aji mengecup celemot di bibir istrinya tersebut. Mika yang di cium di saksikan banyak orang, jadi malu. Wajahnya memerah seperti Udang goreng.


"Astaga!! ihh. Malu tauk!" Mika mencubit pinggang suaminya dengan reflek. Dan Aji langsung mengaduh.


"Adduhh!" dengan suara yang tertahan, nggak mungkin dia harus jerit di depan umum. Walaupun cubitan itu rasanya sangat panas seperti di celup ke Cabe rawit giling yang sering di sandingkan bersama makanan kuah seperti Tekwan, Mie Ayam dan Bakso.


Aduhh, otor jadi kepengen makan makanan yang berkuah pedes gara gara nulis part yang nggak jelas ini.


Sementara di ujung sebelah kanan sana, Anwar terus memperhatikan tingkah pegawainya yang selalu membuat hatinya bergetar itu.


'Mesra banget sih kalian. Coba aja Aku yang ada disana. Pasti enak bisa ngerasain cubitan kamu' Anwar bergumam. Makanan di piringnya yang masih sisa setengah, hanya di aduk aduk seperti bubur.


Sedangkan di depan meja utama, duduk seorang gadis cantik dengan penampilan anggunnya. Ia pun tak luput memperhatikan meja sudut pojokan tempat Aji dan Mika berada. Wajahnya sudah merah menahan rasa... Cemburu mungkin.


Sedangkan yang jadi pusat perhatian, tak begitu menghiraukan para atasannya tersebut.


Karena merasa bukan di jam bekerja, jadi ya rileks aja bawaannya mah.


Suasana masih tetap meriah karena banyak yang bergantian menyumbangkan lagu untuk menghibur rekan rekan yang menikmati hidangan. Tak terasa, akhirnya acara penutup di kumandangkan oleh MC tersebut.


Para tamu mulai berduyun duyun meninggalkan tempat acara itu, Mika dan Aji juga ikut berjalan keluar dari gedung tersebut.


Maaf ya. Aku ngerasa part ini gaje banget.


Jan di baca kalau nggak suka ya, hehehe. jangan lupa goyangkan jempol kalian.

__ADS_1


Kiss.


__ADS_2