Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 54


__ADS_3

Plakk!


Bu Dina melayangkan tangannya ke wajah Aji dan membuat cap lima jari disana. Mata dan pipi itu memanas. Ia menjadi dongkol sekali dengan mantan mertuanya.


Tanpa sepatah kata pun, Aji dan juga Vivi pergi meninggalkan tempat tersebut. Keduanya masuk ke dalam mobil secara bersamaan tanpa memasang seat belt. Aji memacu kendaraannya dengan cepat dan tidak lagi melihat kanan kiri jalan. Hati dan perasaannya tengah diliputi rasa kesal yang mendalam. Kata-kata pengkhianat yang dilontarkan oleh bu Dina terus berputar di otaknya.


Flash back on


''Ibu, saya tidak bermaksud berkhianat pada Mika! saya sedang mencari tahu kebenarannya. Ibu jangan menuduh saya seperti ini,'' ucap Aji. Ia berusaha menjelaskan kronologinya mengapa ia berpisah dengan Mika. Namun, bu Dina tidak ingin mendengarkan penjelasan apa pun dari Aji.


''Hentikan omong kosong kamu itu, Aji! sudah dari dulu saya tidak yakin kamu bisa membahagian putriku. Dan sekarang telah terbukti!'' ucap bu Dina dengan sinis.


''Saya akan cari buktinya kalau saya ini tidak salah, Bu!'' Aji membela dirinya.


''Sudah! saya muak berbicara dengan kamu, pengkhianat!'' lalu, bu Dina mendorong tubuh Aji agar enyah dari hadapannya.


''Pergi, sana!'' hardik bu Dina.


Flash back off


Mobil terus di pacu hingga sampai di pertigaan jalan yang mengarah rumah mereka. Namun, tanpa di sangka ada kucing yang menyebrang jalan. Aji tampak tidak memperhatikan kondisi jalan.


''Awas, Ji!'' pekik Vivi.


Saat Vivi berteriak memberi peringatan, Aji baru tersadar bahwa ia mengemudi dengan pikiran berkelana.


Aji langsung membanting stir ke arah kiri dan menabrak pembatas jalan. Untung, kucingnya langsung melarikan diri dan selamat. Sementara mobil Aji penyok dan mengepulkan asap karena benturan yang sangat keras.


Kepala Vivi terantuk dasboard dan mengeluarkan darah. Sama halnya dengan Aji, kedua manusia itu pingsan tak sadarkan diri di dalam sana. Aji dan Vivi yang terburu-buru tidak ingat memasang sabuk pengaman dan mengakibatkan tubuh mereka ringsek.


Suasana jalanan sepi senyap, korban kecelakaan tunggal tersebut belum mendapat pertolongan sama sekali. Setelah lima menit kemudian, terlihat lampu sorot menyinari mobil yang teronggok di tepian pembatas jalan.


''Yah, itu kenapa mobil di depan mengeluarkan asap? apa habis kecelakaan?!'' Mika menatap tajam ke arah mobil tersebut.


''Bukannya itu mobil yang tadi? mantan suami kamu, Mi?!'' pak Rizal terlihat tegang menyaksikan pemandangan tersebut. Dengan perlahan ia menepikan mobilnya.


''Iya, Yah! ayo kita tolongin!'' ucap Mika. Ia terlihat panik melihat plat mobil tersebut benar milik mantan suaminya.

__ADS_1


''Kalau itu si Aji, biarkan saja, Yah! ngapain di tolongin!'' ujar bu Dina.


''Tidak baik bicara seperti itu, Bu!'' sanggah pak Rizal.


Mika dan pak Rizal segera turun memeriksa keadaan dalam mobil.


''Astaga!! Aji!'' pekik Mika.


''Ayah! segera telepon ambulans, Yah! titah Mika. Ia sangat cemas melihat dua korban di dalam mobil tersebut. Ia tidak berani untuk menolong karena tubuh Aji meleot. Sedangkan tubuh Vivi nyungsep di dasboard.


Pak Rizal dengan segera menghubungi nomor gawat darurat dan mengatakan sedang ada korban kecelakaan.


Tak berselang lama, mobil ambulans pun datang. Tim medis langsung segera mengevakuasi korban dan dilarikan kerumah sakit terdekat.


Mobil Mika mengikuti dari belakang hingga tiba di rumah sakit. Aji dan Vivi langsung di bawa ke ruang ICU dan sedang ditangani oleh dokter.


Mika bersama kedua orang tuanya menunggu di ruang tunggu. Mika terlihat gelisah, ia mondar mandir kesana kemari menanti kabar dari dokter.


''Mi, sebaiknya hubungi keluarga mereka. Biar di urus sama keluarganya saja. Ngapain kita repot-repot mengurus mereka!'' usul bu Dina pada Mika.


Setelah itu, Mika menghubungi nomor tersebut.


**


Di ruang kerja, Anwar terlihat masih setia berkutat dengan komputernya. Waktu sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari.


Hoaamm


Anwar telah menguap beberapa kali, dan tinggal satu berkas lagi selesai ia kerjakan. Matanya sesekali beralih ke berkas kemudian beralih ke layar komputer. Setelah selesai merekap semua berkas-berkasnya, Anwar merapikan berkas tersebut.


"Akhirnya, selesai juga!" ujar Anwar. Ia meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri.


Pletok krekek, krekek


Bunyi pinggang Anwar saat ia meliuk. Usai dengan urusan pekerjaan, Anwar menuju ruang kamarnya.


Baru membuka pintu, ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering. Suaranya sangat berisik dan Anwar dengan segera mendatangi ponselnya yang berbunyi.

__ADS_1


Anwar menatap layar ponselnya dengan mengerutkan alis tanda ia tidak percaya. Di kuceknya kedua matanya yang mengantuk tersebut kemungkinan ia salah membaca nama kontak


"Mika," gumam Anwar. Dengan ragu ia menekan tombol terima. Ada apa gerangan hingga Mika menelponnya dini hari begini. Begitulah pikir Anwar.


"Halo, Mi," jawab Anwar.


"Halo, Mas. Kamu sudah tidur? maaf kalau aku mengganggu! ini ada berita darurat, Mas!" suara Mika terdengar cemas di seberang telepon sana.


"Hah! ada apa, Mi?! kamu kenapa? ada yang terluka?" panik Anwar. Ia mendengar dengan jelas bahwa Mika sedang cemas dan khawatir.


"Eng, enggak, Mas! aku nggak apa-apa. Tapi, ini masalah Vivi, Mas. Kamu segera ke rumah sakit, ya. Nanti aku jelaskan kalau kamu sudah di sini.''


''Oh, oke! kamu kirimkan alamatnya, ya. Biar Mas langsung ke sana!''


Setelah telepon berakhir, notifikasi pesan dari Mika masuk. Anwar membaca sekilas alamat yang di kirim Mika. Kemudian, Anwar meraih jaket, dompet, dan kunci mobilnya yang ada di nakas. Lalu ia bergegas hendak menuju rumah sakit.


''Kak! Kakak, mau kemana?'' tanya Anggi yang tiba-tiba muncul dengan segelas air putih di tangannya.


''Kakak mau ke rumah sakit, kata Mika, Vivi sedang gawat disana!'' ujar Anwar. Ia berjalan denfan langkah lebar menuju pintu keluar.


''Kak! aku ikut!'' pekik Anggi.


Anwar menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Anggi yang berlari menghampirinya.


''Ayo!" ajak Anwar.


"Tapi, aku,..." Anggi melirik pakaiannya. Ia hanya mengenakan piyama lengan pendek dan celana panjang.


"Suda, jangan fikirkan penampilan!" tukas Anwar.


Mereka langsung menuju garasi mobil. Anwar langsung menekan pedal gas dan melajukan mobilnya. Jalanan sepi senyap membuat Anwar lebih cepat sampai di alamat rumah sakit yang dituju.


Anwar langsung memarkirkan mobilnya dan keluar bersama Anggi. Mereka langsung menuju ruang ICU dimana disana ada Mika dan juga kedua orang tuanya yang sedang duduk menunggu.


Dengan langkah lebar Anwar dan juga Anggi menghampiri Mika yang sedang duduk bersandar. Matanya memerah terlihat bekas menangis.


"Ada apa dengan Vivi, Mi?!" tanya Anwar dengan was-was.

__ADS_1


__ADS_2