
Sesampainya di rumah, Aji langsung membersihkan diri. Kemudian ia bergabung dengan istri dan kedua mertuanya untuk makan malam.
"Kok lama kamu pulangnya Pa?" tanya Mika sambil menyendokkan nasi beserta lauk kepiring Aji.
"Iya, aku, ada pekerjaan tambahan" bohong Aji untuk menutupi yang sebenarnya terjadi.
"Ya sudah, kita makan dulu nanti baru ngobrol lagi" ucap pak Rizal.
Mereka menikmati makan malam tanpa suara, hanya dentingan sendok yang bersahutan di atas meja makan.
Setelah usai, Mika membereskan sisa makan mereka dan membersihkan piring kotornya. Lalu mereka berkumpul di ruang depan. Dan mereka berbincang-bincang.
" Mi, Ji," bu Dina menatap anak dan mantunya bergantian, "besok pagi ibu sama ayah akan pulang ke palembang." ucap bu Dina memberitahu kepulangannya.
"Loh, kok cepet banget pulangnya bu?" tanya Aji.
"Iya, Ji, ayah ada urusan. Jadi besok harus pulang." Sambung pak Rizal.
"Kapan-kapan kalau ada waktu, kalian main kerumah ibu ya" pinta bu Dina kepada anaknya.
"Iya bu, nanti kita main kesana" ucap Aji.
"Oh ya, jangan lupa juga ya, permintaan ibu sama ayah segera dikabulkan" ucap bu Dina dengan senyumnya. Ia kembali mengingatkan putrinya untuk segera memberikan beliau cucu.
Aji dan Mika menanggapi peringatan dari ibunya dengan senyum yang dipaksakan. Biar hati orang tuanya tenang ketika pulang nanti.
Usai berbincang-bincang hingga pukul 22:30, akhirnya mereka membubarkan diri untuk beristirahat di kamarnya masing-masing.
Di dalam kamar, pak Rizal dan bu Dina kembali berbincang tentang masalah yang mereka bahas tadi.
"Yah, apa menurut ayah, kita tidak salah telah menikahkan mereka?" tanya bu Dina sambil membaringkan tubuhnya di sisi suaminya yang sudah lebih dulu berbaring disana.
"Maksud ibu apa? ayah kurang paham?" jawab pak Rizal bingung.
"Maksud ibu, apa mereka benar-benar menunda punya momongan, atau disalah satu dari mereka ada yang bermasalah" bu Dina menerangkan.
"Kalau menurut ayah, mereka memang benar menunda, kamu bisa lihat sendiri sikap Mika"
__ADS_1
"Ibu memang merasa begitu si Yah"
"Ya sudah, jangan kamu fikirkan terlalu dalam. Biarlah mereka yang memutuskan. Mungkin, Mika masih belum siap jika dia memiliki momongan." Jawab pak Rizal pada akhirnya.
Setelah itu, mereka menenggelamkan dunia nyata mereka kedalam alam mimpi.
Sementara di kamar Aji, ia masih tak bisa terlelap. Ia merasa bersalah dengan istrinya. Ia amati wajah terlelap istrinya dengan lekat. Aji menyapukan tangannya kewajah Mika yang damai dalam tidurnya.
'Maafkan aku, Mi,.. aku sudah menghianatimu. Aku merasa benar-benar bukan lelaki yang bisa menjaga komitmen kita.'
Aji kembali menerawang ke langit-langit ruangan. Ia akan mencoba melupakan kejadian buruk tersebut, dengan memejamkan matanya. Hingga pagi menyapa ia masih tidak mengantuk.
Saat tubuh Mika ada pergerakan dari tidur nyenyaknya, Aji berpura-pura sedang tidur nyenyak.
"Pa, bangun.. udah pagi" dengan suara serak khas bangun tidur, Mika menggoyangkan lengan suaminya.
Aji tak bergerak sedikitpun. Dan Mika memutuskan untuk bangun duluan, ia pergi membersihkan diri, lalu pergi menyiapkan sarapan.
Di dapur, bu Dina sudah sibuk dengan kegiatannya disana. Ia sedang mengaduk-aduk isi dari kuali dihadapannya, Dira kemudian menghampirinya.
"Iya, nggak apa-apa kan, kalau ibu yang memasak?" jawab bu Dina sambil mematikan api kompornya.
"Iya nggak apa bu, ayah mana bu, apa bekum bangun?"
"Belum, tolong bangunkan ayah mu ya, Mi. Semalam ayah bilang akan berangkat jam setengah Tujuh. Nanti malah terlambat" ucap bu Dina memberitahu Mika, dan anaknya itu pun kemudian menuju kamar dimana ayahnya berada.
"Yah, bangun yah, kita sarapan." Mika berjongkok menatap wajah ayahnya yang tidur dengan pulas.
Setelah itu, mulai ada pergerakan dari ayahnya dan membuka mata "eh, kamu Mi, ibumu mana?" ayahnya kemudian bangun dan menurinkan kakinya dari ranjang.
"Ayah buruan mandi, ibu sudah menunggu di ruang makan." Mika menyunggingkan senyumannya menyambut ayahnya bangun tidir, setelahnya ia keluar membiarkan ayahnya bersiap terlebih dahulu.
***
"Mona, kamu bantu susun di etalase depan ya barang-barang ini," perintah Mika pada Mona.
"Iya kak,"
__ADS_1
Mona melakukan perintah dari Mika sesuai dengan jenis barang yang sudah disusun sebelumnya. Sementara masih sibuk dengan barang yang baru masuk sore tadi, ia dengan fokus meneliti dan mengecek.
Mika dan Meisya kini sedang berada di dalam gudang penyimpanan, mereka memang benar-benar sibuk dengan tugas masing-masing hingga malam menjelang.
Anwar datang menghampiri Mona yang sedang menyusun stock di etalase, "Mon, kamu lihat Mika dimana?" tanya pak Anwar didepan Mona.
"Eh, nggak liat pak." Jawab Mona yang pura-pura tidak mengetahui keberadaan Mika. Anwar pun berlalu meninggalkan Mona, ia menuju kebelakang tempat gudang penyimpanan barang.
Dan ia melihat Mika bersama Meisya sedang fokus menghitung stock. "Sudah selesai disusun semua" suara pak Anwar mengagetkan kefokusan mereka berdua.
"Sudah pak," jawab keduanya kompak.
"Setelah ini, kalian langsung pulang saja. Dilanjutkan besok" ucap Anwar sambil berlalu.
"Mi, kamu udah mempersiapkan keperluanmu untuk cuti besok?" tanya Mei setelah selesai dengan catatan di tangannya.
"Belum, besok aja lah. Kan besok udah libur juga" ucap Mika sambil menyimpan buku catatan stock barang, dan kemudian keduanya keluar dari dalam gudang.
Setelah Mika dan Meisya keluar, Mona segera menyelinap masuk kedalam gudang tersebut. Area yang hanya diperbolehkan karyawan kepercayaan Anwar yang masuk kesana. Dan mona tidak termasuk, ia akan melakukan sesuatu didalam sana. Kebetulan Mika dan Meisya sudah keluar.
"Aku akan ubah data stock ini, siap-siap aja ya kamu Mika" ucap Mona yang mulai mengotak atik data didalam gudang tersebut.
keluar dari toilet, Mika dan Mei langsung pulang. Ia tidak menemukan Mona di depan. Mereka mengecek barang yang di susun Mona sebelumnya. "Apa dia sudah pulang?" tanya Mika sambil menatap kesekeliling tempat tersebut.
"Kenapa Mi, kamu nyari siapa" tanya Meisya yang berdiri disisi Mika.
"Mona, apa dia sudah pulang?"
"Nggak tau, mungkin sudah. Soalnya nggak kelihatan"
Mereka berdua keluar dari dalam toko, sementara Mona yang mengintip dari balik pintu segera keluar setelah Mika dan Meisya menghilang dari balik pintu utama.
Mona tersenyum licik, ia segera memberi laporan pada Vivi atas apa yang sudah ia lakukan barusan.
[Kerja bagus, setelah dari sana kita langsung ketemuan di kafe kemarin] begitulah isi pesan balasan dari orang yang ia berikan informasi terkait.
Kemudian Mona segera meninggalkan tempat tersebut, ia buru-buru keluar menuju pintu utama. Dan salah satu staff melihat Mona yang terburu-buru mengerutkan keningnya.
__ADS_1