
Aji memutar kepalanya dengan perlahan ke arah samping. Matanya langsung tertuju ke arah orang yang sedari tadi menyebut nama mantan istrinya.
''Ibu!'' ucapnya lirih. Dengan gerakan seribu bayangan, ia menghabiskan makanannya. Aji memperhatikan Vivi yang masih asik menikmati ikan bakarnya yang tersisa setengah.
''Ayo! kita pulang sekarang. Hari sudah malam, tidak baik buat kandungan kamu,'' ujar Aji. Ia masih memelankan suaranya. Takut terdengar oleh orang yang ada di belakang.
''Tapi ini belum habis, sayang!'' protes Vivi. Ia masih enggan untuk berdiri dan ingin melanjutkan makan. Aji yang badannya sudah terserang panas dingin karena melihat mantan mertuanya ada ditempat yang sama saat ini. Terlebih ada Mika juga, ia takut akan mendapat serangan fajar.
''Sudah! besok kita ke sini lagi. Ayo!'' Aji langsung menarik lengan Vivi berdiri dan berjalan melipir agar tak terlihat oleh pengunjung di belakangnya. Ia meninggalkan kunci mobilnya di meja tempatnya semula.
Mata Mika menelisik ke sekitar bangku-bangku yang di tempati pengunjung. Ia merasa ada sesuatu yang menggelitik matanya untuk menatap kesekeliling. Semua pengunjung warung tersebut fokus dengan makanan mereka masing-masing.
''Loh? mana kuncinya?'' Aji merogoh isi kantong celana mencari kunci mobilnya.
''Buruan buka pintunya, sayang. Aku pegel kalo berdiri lama-lama," ucap Vivi.
"Sebentar, kayaknya kuncinya ketinggalan di dalam. Aku cek dulu, kamu tunggu disini sebentar!"
Aji dengan gerakan cepat masuk kembali ke dalam dan langsung menghampiri meja yang tadi ia tempati. Dan ia melihat kunci mobilnya teronggok di atas meja tersebut. Aj pun langsung meraih kuncinya dan berbalik arah untuk keluar kembali.
Brukk
Dada bidangnya menabrak tubuh seseorang yang hendak keluar dari tempatnya. Seorang wanita hampir oleng karenanya. Ia dengan segera menangkap tubuh wanita itu.
Matanya terbelalak saat tatapan keduanya bertemu.
"Aji," ucap Mika
"Mika," sebut Aji.
"Mika! kamu nggak apa-apa, sayang?!" suara bu Dina kontan membuat Aji melepaskan tubuh Mika dari tangannya. Ia lupa bahwa saat ini Mika sedang bersama dengan kedua orang tuanya.
"Heh! ada si pengkhianat rupanya disini. Jangan kamu sentuh-sentuh anak saya lagi!" maki bu Dina.
"Buk, tenang, kita ditempat umum. Ayo kita pulang." Ajak Mika. Ia langsung menggandeng lengan ibunya dan berjalan keluar.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, kamu duluan ke mobil. Biar ibu bicara dulu sama laki-laki pengkhianat ini!" sinis bu Dina.
"Ayo, kamu ke mobil dulu, nanti biar Ayah susul ibu kesini lagi," tutur pak Rizal. Ia menuntun Mika menuju mobil. Saat sampai di parkiran, Mika melihat Vivi sedang berdiri bersandar di depan pintu mobil milik Aji.
"Ayah langsung susul Ibuk, ya. Aku tunggu disini," pinta Mika. Pak Rizal pun menyetujui dan masuk kembali ke dalam menyusul istrinya yang sedang berbicara dengan Aji.
Sementara Mika, perlahan-lahan melangkah menuju mobilnya yang bersebelahan dengan Vivi berdiri. Pintu kemudinya tepat menghadap ke arah Vivi.
Tanpa menoleh, Mika langsung membuka pintu dan hendak masuk. Namun, belum sempat Mika mendaratkan bokongnya, Vivi menegurnya.
"Hey, apa kabar pimpinan pabrik?" sapa Vivi dengan wajah sinis dan senyum iblis.
Mika hanya menoleh sekilas, lalu iya kembali masuk dan hendak mendaratkan bokongnya. Lagi-lagi di cegah oleh Vivi.
"Sombong sekali, ya! mentang-mentang sudah berada diatas!" sindir Vivi.
Mika mencoba mengabaikan ucapan Vivi dan ia duduk lalu menutup pintu. Tetapi, lagi-lagi Vivi menghalangi. Pintu itu di hadang dengan kaki Vivi. Hingga Mika mengurungkan niat untuk merapatkan pintunya.
"Apa mau kamu, hah!" tanya Mika dengan dingin. Tanpa menatap mata wanita di hadapannya.
"Kamu mau tau, apa yang aku mau?,..." tanya Vivi. Ia menunduk menatap dalam bola mata Mika. Senyum setan terbit dari bibir seksinya.
"Aku ingin kamu mengembalikan semua milikku!" ucap Vivi penuh penekanan. Ia menekan kata-katanya dan juga peraduan giginya.
"Hmm, maaf! itu semua sudah menjadi milikku. Kau tidak akan bisa mengambilnya lagi dariku." Tegas Mika.
"Oh, ya?! Uh, aku tidak percaya," ucap Vivi dengan nada meledek diiringi bibirnya yang menyerupai bebek.
Mika masih terus berusaha untuk mengendalikan dirinya. Ia tidak boleh terpancing dengan ucapan dari Vivi yang melukai hatinya.
"Kalau kau tidak mau mengembalikannya padaku, kita lihat saja nanti! apa yang bisa aku perbuat untuk kedua orang yang sangat kau sayangi itu." Ucap Vivi. Tatapan matanya ia arahkan ke dalam warung dan tertuju pada kedua orang tua Mika.
"Kau! jangan macam-macam dengan ayah dan ibuku!" kecam Mika.
"Uugghh! takut," cebik Vivi.
__ADS_1
Mika benar-benar dibuat meradang oleh perkataan Vivi. Ia pun melayangkan tangannya ke wajah Vivi yang mulus.
Plakk
"Auw! hik, hik,..." Vivi memegang pipinya yang panas karena di damprat oleh Mika. Tepat saat Mika mendaratkan tangannya di wajah mulus Vivi, saat itu pula Aji sampai disana dan menyaksikan Mika menampar pipi istrinya.
Aji langsung mendekat, "kamu kenapa, Vi?" tanya Aji. Ia melihat pipi yang memerah itu dan beralih menatap Mika dengan tatapan bingung.
"Dia mau mencelakai anak kita, Ji. Aku hanya berusaha melindungi kandunganku dari serangannya. Tapi, dia malah menamparku. Hu hu hu," Vivi menangis tersedu-sedu.
Mika langsung terperanjat mendengar Vivi memutar balikkan fakta. Baru saja Mika ingin protes, aji lebih dulu menyela.
"Apa benar begitu, Mi?" tanya Aji. Ia mencari jawaban dari tatapan itu.
"Iya sayang, aw! perutku," rintih Vivi.
Saat Vivi merintih kesakitan, Aji pun mempercayai ucapan Vivi begitu saja. Tanpa menunggu jawaban yang belum Mika ucapkan, Aji melayangkan tatapan tidak suka ke Mika.
"Aku tidak menyangka, kamu setega itu, Mi! apa kamu iri dengan kehamilan Vivi?" hardik Aji.
Mika malah melongo mendengar penuturan dari bibir Aji. Ayah dan ibu Mika menghampiri putrinya yang terlihat sedang dipojokkan oleh dua manusia di depannya.
"Heh! kamu masih berani menyakiti putriku?!" kecam bu Dina.
"Putri Ibu sedang mencoba mencelakai kandungan Vivi, Bu. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi!" ujar Aji.
"Itu semua nggak benar, Buk. Wanita itu memfitnah aku!" jawab Mika dengan jujur.
"Aw! sayang, ayo kita pulang, aku nggak ingin terjadi sesuatu sama anak kita gara-gara dia!" tunjuk Vivi ke wajah Mika. Ia masih meringis sambil memegangi perut buncitnya.
"Jaga mulut kamu ya wanita ******!" geram bu Dina.
Aji yang hendak membuka pintu mobil ia urungkan mendengar sebutan nama istrinya yang di lontarkan oleg bu Dina.
"Apa Ibu bilang?! Sudah cukup hinaan yang ibu beri untukku dan untuknya!" titah Aji. Ia tak terima, tadi sudah di hina habis-habisan di dalam. Sekarang Vivi juga diikut sertakan.
__ADS_1