Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 69


__ADS_3

Di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari taman kota, Mika sedang duduk santai menikmati waktu sorenya. Menyesap secangkir kopi hangat, memandang indahnya langit sore yang mulai meredup untuk pergantian waktu.


Sekilas ekor matanya melirik ke arah jam digital di hadapannya lalu menatap jalanan yang padat karena kendaraan yang berdesakkan. Wanita itu sedang menunggu seseorang yang sudah membuat janji padanya di tempat itu.


Kopi dalam cangkir sudah tinggal setengah, Mika mulai jenuh menunggu karena sudah satu jam duduk di kafe tersebut tapi yang di tunggu tak kuncung menampakkan batang hidungnya.


Mika meraih ponselnya dan mencoba menghubungi orang tersebut. Namun, nomor yang di tujunya sedang berada di luar jangkauan.


''Huuftt, kemana nih, orang. Kok di hubungi susah banget. Bikin orang khawatir, aja." Mika mencoba menelepon nomor itu lagi tapi hasilnya tetap sama.


Seseorang yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang, tapi malah ada orang lain yang tak di harapkan datang menghampiri Mika.


''Mi, sedang apa kamu di sini?'' tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri meja tempat Mika berada.


''Menunggu teman,'' jawabnya singkat. Seseorang itu adalah Anwar, dia sedang ada janji dengan rekan bisnisnya di tempat tersebut. Sembari sama-sama menunggu, Anwar mengajak Mika untuk mengobrol sejenak.


Sementara di tempat lain, jalanan sangat macet. Kendaraan yang di tumpangi oleh seorang wanita cantik dengan dress selutut ikut terjebak di dalamnya. Berkali-kali ia melirik jam yang melingkari pergelangannya tapi belum juga usai kemacetannya.


''Pak, saya turun aja di sini, ya. Takut temen saya kelamaan nunggu.'' Meisya merogoh tasnya untuk membayar ongkos taksi yang dia tumpangi. Setelah itu, Meisya langsung keluar dan menyusuri trotoar dengan tergesa. Matanya menatap kiri dan kanan mencari tukang ojek, hingga sampai di perempatan jalan dia baru menemukan ojek dan dengan cepat dia mengarahkan tujuannya.


Tak berapa lama, akhirnya Meisya sampai di tempat yang ia jnjikan untuk bertemu dengan sahabatnya.


Saat sampai di depan pintu masuk, Meisya mengabsen seluruh meja kafe beserta orang-orang yang menempati kursi tersebut. Matanya menangkap sesosok yang ia cari—Mika, sedang duduk bersama seorang pria yang memunggunginya. Meisya tersenyum begitu melihat Mika, orang yang dia rindukan karena lama tak bertemu.


''Hai, Mi!'' sapa Meisya dan langsung memeluk Mika dengan erat.

__ADS_1


Mika terkejut karena di peluk secara mendadak, tapi dia merasa lega sekaligus senang karena orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang dengan keadaan baik-baik saja.


''Mei...gue kangeen banget sama Lu, lu banyak hutang sama gue dan harus bayar hari ini juga!'' Mika membalas perlakuan Meisya padanya dengan sangat erat.


''Ishh hutang apaan? Gue nggak pernah minjem duit sama lu!'' Meisya terkekeh.


Anwar yang melihat kedatangan Meisya ikut terkejut karena dia pun sudah lama tidak melihat mantan karyawannya yang satu itu sejak dia mengundurkan diri secara mendadak di tempat usahanya.


''Mei.'' Anwar memecah keharuan di antara Mika dan juga Meisya yang sontak membuat kedua melepas rangkulan dan menoleh bersamaan ke arah Anwar.


''Eh, Pak Anwar. Maaf, kok Bapak bisa ada di sini?'' balas Meisya.


Bukan menanyakan kabar, tapi malah pertanyaan tak penting yang Meisya ucapkan pada mantan bosnya.


''Menemani sahabatmu. Kalau begitu, saya duluan.'' Anwar beranjak meninggalkan meja mereka menuju ruang VVIP karena rekannya sudah tiba di sana.


''Baru juga gue mau ngelurusin pinggang,'' gerutu Meisya dengan memajukan bibir.


''Haha, nanti bisa lebih lurus lagi kalo di rumah. Yuk! buruan.'' Mika menarik lengan Meisya menuju ke mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya bersenda gurau dan menceritakan banyak hal tak penting yang bisa membuat mereka tertawa.


Sesampainya di rumah, mereka langsung menuju kamar. Mika sudah menyiapkan banhak camilan dan juga beberapa minuman di meja untuk menemani obrolan mereka selanjutnya.


Meisya langsung merebahkan tubuh lelahnya ke atas ranjang empuk milik Mika. Sedangkan sang pemiliknya memilih untuk berganti pakaian menjadi santai dan nyaman untuk di kamar.


''Mei, gimana kabar orang tua lu?'' tanya Mika memulai sesi obrolannya. Dia sudah tidak sabar untuk ingin tahu ada apa dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


''Alhamdulillah, semua sehat." Meisya tampak malas untuk membahas mengenai orang tuanya.


''Yang gue liat itu nggak bener kan?'' tanya Mika ambigu.


''Liat apa?'' Meisya bingung.


''Yang lu kirim ke Bagas waktu itu.'' Mika menatap intens ke arah Meisya dan mendekat. Meisya pun mengubah posisi dan menyandar pada sandaran tempat tidur. Meraih guling dan dia peluk di atas pangkuannya.


''Ohhh, itu sebenarnya cuma iseng.'' Meisya nampak cuek.


''Iseng gimana maksud lu? Kalian ini saling mencintaikan?'' heran Mika.


''Sangat, Mi. Tapi...karena permintaan konyol dari orang tua gue jadi dengan terpaksa gue putusin dia.'' Tampak jelas kesedihan tersimpan di hati Meisya. Mika pun mengelus pundak sahabatnya memberi kekuatan.


''Tapi itu beneran lu nikah? gue nggak percaya Mei.'' Mika sudah sangat tidak sabar untuk mendapat kepastian itu.


''Iya, nikah satu minggu doang. Udah gitu gue di tinggalin.'' Meisya menitikkan air mata begitu teringat hal menyakitkan saat kejadian yang lalu.


''Whatttt... Ditinggalin gimana, Mei. Sumpah gue nggak ngerti maksudnya.'' Mika sangat terkejut ternyata nasib sahabatnya ini sungguh malang sekali.


Meisya memeluk Mika menumpahkan segala rasa sesal, kesal dan juga sedihnya. Mika pun dengan sabar dan penuh kasih sayang pada sahabatnya itu mendengarkan segala cerita yang di alami oleh Meisya. Jodoh yang sudah di pilih oleh kedua orang tua Meisya pergi meninggalkan Meisya untuk selama-lamanya karena sakit parah. Kedua orang tua gadis itu sudah berjanji pada keluarga si lelaki untuk memenuhi permintaan terakhirnya—menikah.


Menikah memang bukan hal yang bisa di jadikan sebuah permainan. Meisya merasa sangat di permainkan oleh takdir. Bagaimana tidak, mimpi yang sudah di rangkai dengan indah justru harus terhapus begitu saja dengan satu tindakan.


''Yang sabar ya, Mei. Lu kan orang yang kuat, gue yakin lu bisa menghapus kesedihan itu.'' Mika melepas pelukannya dan mengusap air mata di pipi Meisya. Dia pun ikut menangis karena ikut merasakan sakitnya sang sahabat.

__ADS_1


''Gimana kabarnya dia?'' Meisya masih sesenggukan. Ternyata Meisya masih ingat pada sang mantan.


''Kabarnya baik, apa kamu ingin bertemu dengan dia?'' Mika dengan semangat ingin mempertemukan Meisya dengan Bagas. Bagaimana pun, Mika ingin melihat sahabatnya itu ceria kembali dan lepas dari kesedihannya. Meaki sempat menyimpan rasa, hal itu Mika buang jauh-jauh. Dia menetapkan prinsip pertemanan tak boleh tergoyahkan.


__ADS_2