Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 59


__ADS_3

Skip biar cepet, siapa tau udah banyak yang bosen. Aku pun yang nulis merasa bosen kalo cerita ini tuh muter muter kayak gasingan. Maaf juga jika tidak bisa up setiap hari.


***


"Mas, kenapa kamu nutup mataku, nanti aku kesandung, loh!" ucap Mika.


Anwar sedang berjalan menuntun Mika dengan cara menutup matanya dengan kain hitam yang tidak tembus pandang menuju sebuah tempat yang sudah Anwar siapkan di sebuah taman. Ia sudah menyusun rencana untuk suatu hal yang mungkin bisa membahagiakan perjalanan hidupnya.


"Nggak akan, kamu pelan-pelan aja jalannya." Titah Anwar.


Jalan yang mereka lalui di hiasi lampu taman yang sangat cantik.


"Kok lama banget, ini sebenarnya kita kemana sih?" tanya Mika. Ia semakin penasaran karena sejak sebelum turun dari mobil, Anwar sudah menutup mata Mika.


"Sebentar lagi kita akan sampai, sabar." Ujar Anwar.


Mika terus melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Sampai di tempat yang terasa berlantai keramik. Mika menghentikan langkahnya dan kembali bertanya.


"Apa kita sudah sampai?"


"Lima langkah lagi," jawab Anwar.


Mika kembali melanjutkan langkahnya dengan masih dituntun oleh Anwar. Hingga sampailah mereka di sebuah meja yang sudah di hias cantik dan terkesan romantis untuk sepasang kekasih. Tapi, mereka bukanlah sepasang kekasih. Jadi, biarkan mereka ikut-ikutan romantisan walau hanya teman.


''Sekarang sudah boleh di buka,'' perintah Anwar. Mika perlahan melepaskan tali pengikat di belakang kepalanya.


Pandangan mata yang masih buram membuat Mika mengedipkan mata berkali-kali agar penglihatannya menjadi jelas dan terang. Terlihatlah meja bundar dan dua buah kursi berhiaskan kain serba putih membungkus kursi dan juga meja. Terlihatlah lilin-lilin cantik beserta ornamen lainnya. Sementara Mika masih terpana mengamati pemandangan di hadapannya yang begitu cantik. Tiba-tiba muncul kue tart mini dari arah samping.


''Selamat bertambah usia, Mika Biola,'' ucap Anwar. Mika sangat terkejut dan tidak menyangka sama sekali. Bahkan, ia lupa jika saat ini adalah hari ulang tahunnya.


''Makasih, Mas. Kok, kamu tau hari ulang tahunku? aku aja nggak inget,'' seloroh Mika. Ia tersenyum sangat manis karena merasa begitu di spesialkan.


''Sekarang, berdoa dan tiup lilinnya.'' Pinta Anwar. Mika mulai memejamkan mata dan berdoa dalam hatinya.


Semoga kebahagiaan selalu ada bersamaku


Doa yang sangat singkat di utarakan oleh Mika. Ia tidak ingin meminta banyak pada yang maha kuasa. Karena ia tahu bahwa Tuhan selalu memberikan apa pun yang terbaik untuk umatnya tanpa harus di minta. Usai berdoa, Mika meniup lilinnya.

__ADS_1


''Silahkan duduk, Tuan Putri.''


''Kamu yang siapin ini semua, Mas?'' tanya Mika.


''Enggak, cuma nyuruh orang buat nyiapin.'' Jawab Anwar santai.


Mika hanya tersenyum mendengar ucapan Anwar. Ia meraih pisau yang sudah tersedia di atas meja, lalu ia memotong kue tart tersebut. Setelahnya, ia taruh di piring dan ia suguhkan ke Anwar.


''Ini buat kamu, Mas.''


''Suapin, dong!'' pinta Anwar.


''Ihh, ogah! Kamu kan punya tangan sendiri.'' Tandas Mika.


''Nggak bisa romantis, ih!'' cebik Anwar.


''Romantis itu kalau sama pasangan, Mas!'' tutur Mika. Ia memotong lagi sebagian kue untuk ia santap sendiri.


''Apa kamu mau jadi pasanganku?'' tanya Anwar. Ia menatap serius ke arah Mika.


''Saya serius, Mika Biola. Apakah kamu mau menjadi pasangan hidupku?'' ulang Anwar dengan menambahkan kata.


''Apa kamu sedang melamarku, Mas?'' Mika mengerutkan kening.


''Menurutmu?'' Anwar balik bertanya.


''Aku menganggap, kamu sedang bercanda!''


''Saya sangat serius. Izinkan saya membahagiakanmu,'' Anwar menggenggam jemari Mika. Sebelumnya, Mika sudah menaruh kembali kue yang velum jadi ia makan.


Mika menatap dengan dalam bola mata yang menatap dirinya. Ia melihat kesungguhan di sana. Namun, hati Mika belum bisa menerima.


''Maaf, Mas. Aku lebih nyaman kalau kita berteman seperti ini,'' Mika melepas genggaman tangan Anwar dengan perlahan.


Tuiinggg


Hati Anwar langsung mendelep ke dalam rongga dada. Perasaan yang selama ini ia pendam untuk Mika telah ia simpan rapat-rapat di sanubari. Dan ia butuh waktu untuk mengungkapkan. Namun, belum sempat kata romantis ia lantunkan. Mika sudah menolaknya.

__ADS_1


Semua perhatian yang ia curahkan tak lebih hanya di anggap sebagai perhatian seorang teman.


''Baiklah, kita berteman saja.'' Jawab Anwar pada akhirnya. Wajahnya yang tadi semangat kini menjadi sedikit muram.


Mika masih belum siap jika dirinya mengisi kekosongan hatinya dalam waktu singkat. Ia masih ingin menikmati kesendirian dan bebas dari beban apa pun.


''Ini buat kamu, Mas mohon kamu terima, ya.'' Anwar memberikan semuah kotak kecil berbentuk hati dan ia buka perlahan di hadapan Mika.


''Apa ini, Mas?''


***


Dalam ruangan yang di penuhi peralatan medis. Terbujur seorang pasien yang masih terhubung dengan peralatan tersebut. Layar monitor yang menampilkan detak jantuk berjalan menunjukkan garis bergelombang.


Terlihat ada pergerakan di mulai dari jari telunjuk yang menempel di ranjang pesakitan. Pergerakan yang samar-samar menjadi lebih jelas dan aktif. Suster yang sedang berjaga di sana pun menyadari dan langsung menghubungi dokter.


Dokter pun memeriksa keadaan pasien tersebut dengan intens. Usai pemeriksaan, Aji membuka mata perlahan-lahan. Ia bergerak sedikit hendak mengangkat kepala. Namun, kepalanya terasa sakit.


"Anda baru siuman, jangan banyak bergerak dulu." Titah sang dokter.


''Aw!'' Rintih Aji. Ia berusaha menggerakkan kepala dan anggota tubuh lainnya namun terasa kaku. Dokter pun langsung memeriksa kembali kondisi tubuh Aji di mulai dari pemeriksaan mata lalu kemudian ke detak jantung dan lain-lain.


Usai pemeriksaan, dokter menyarankan agar Aji tidak banyak melakukan pergerakan yang bisa mengganggu sistem kerja otot-ototnya dengan paksa. Lalu dokter tersebut pamit undur diri.


Aji hanya bisa memejamkan matanya dan berfikir apa yang sudah terjadi pada dirinya sebelumnya. Ingatannya hanya berputar saat ia menabrak pembatas jalan. Lalu setelahnya ia tidak ingat apa-apa lagi. Ia pun tidak ingin berfikir yang terlalu berat karena kepalanya terasa berdenyut.


-


-


-


Maafkan auhtor ya dear, beneran aku enggak dapet feelnya. Maaf jika tidak memuaskan. Moodku beneran lagi berantakan banget. Maaf, kalo curhat. Oh, ya menjelang menunggu aku up untuk bab selanjutnya, ada baiknya mampir ke karya temenku yang satu ini ya, guys. Ceritanya bikin baper dan geregetan. Yuk, langsung cus ke lapaknya.



Terima kasih banyak, semoga kita semua selalu di beri kesehatan dan bahagia selalu. Buat yang belum mampir ke karya author yang satunya, jangan lupa mampir, yak. Biar rame. See you letter.

__ADS_1


__ADS_2