Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 122


__ADS_3

Bab 122


''Ada apa di luar kok ribut-tibut!'' ucap pak Rt yang sedang minum kopi di ruang tengah. Sementara di depan rumahnya terdengar suara keributan yang mengganggu waktu santainya.


Pria berkumis tebal dan juga mata tajam itu keluar rumah menghadapi warga yang berbondong-bondong datang ke rumahnya.


''Ada apa ini!'' ujar pak Rt bingung.


''Ini Pak, ada salah satu warga di kampung kita sudah melakukan perbuatan tidak senonohh dan itu mencemari nama baik kampung kita!'' cerocos salah satu warga yang dari awal memimpin keributan.


Betulll


Seru warga lain dengan kompak membuat pak RT kaget dan menatap tajam pada sosok yang tengah di cekal tangannya ke belakang.


''Ini orangnya pak RT!'' pria itu mendorong tubuh Aji hingga tersungkur di bawah kaki pak RT. Sementara di belakangnya Vivi juga di perlakukan dengan sama.


''Astagfirullah!! kalian tidak boleh main hakim sendiri.'' Pak RT memundurkan langkahnya.


Dengan banyak beradu argumen dan juga saling memprovokasi, akhirnya pak rt bisa menenangkan warganya yaitu akan menikahkan pelaku detik itu juga jika terbukti bersalah.


''Sekarang, kalian semua bubar. Biar saya yang akan mengintrogasi dua pelakunya,'' usir pak Rt.


Terdengar suara sorakan dari mereka lalu mulai membubarkan diri dan meminta keadilan untuk lingkungan mereka agar tidak terjadi lagi hal seperti itu.


''Dari mana asalmu anak muda?'' tanya pak Rt pada Aji. Pakaian pria itu sudah compang camping dan wajahnya lusuh akibat ulah warga.

__ADS_1


''Kampung sebelah, Pak,'' jawab Aji menunduk.


''Apa anda memiliki hubungan khusus dengan warga saya yang bernama Bu Vivi ini?'' tanyanya penuh selidik.


''Ya, saya suaminya.'' Aji menatap intens pada pak rt yang sejak tadi terus melontarkan pertanyaan padanya.


Pak rt tersebut nampak bingung tapi juga sedikit percaya pada ucapan Aji. Karena Vivi saat ini tengah menggendong bayi berusia setahunan dan wajahnya mirip dengan Aji.


''Apa bukti yang bisa kalian tunjukkan. Karena Bu Vivi saat datang ke kampung ini hanya berdua saja dengan anak yang sedang di gendongnya.'' elak pak Rt agar Aji terus mengungkap semua informasi yang di milikinya.


Aji terdiam sejenak lalu melirik ke arah Vivi. Wanita itu tersenyum meski wajahnya kusut.


''Saya punya buktinya pak, dan itu ada di rumah. Bapak bisa melihat berkas-berkas penting soal status kami.'' jawab Vivi lugas.


'' baiklah kita akan melihat bukti-bukti itu langsung saja agar warga-warga di sini tidak lagi salah paham pada kalian'' ujar Pak RT. Mereka pun bergegas kembali ke rumah Vivi meskipun hanya ada dua warga yang mewakili berikut juga Pak RT yang akan melihat bukti yang dikatakan oleh Vivi.


Setibanya di rumah kontrakan milik Vivi berarti dan juga dua orang warga yang akan dijadikan saksi menunggu di depan teras sedangkan Vivi masuk ke dalam kamar diikuti oleh Aji.


'' Vivi bukti apa yang akan kamu tunjukkan pada mereka?'' tanya Aji dengan sangat penasaran. lagi-lagi Vivi menunjukkan senyumnya karena selama ini dia masih menyimpan bukti surat pernyataan bahwa dia menikah Siri dengan Aji waktu itu.


'' ini kamu lihat lah.'' Vivi menyerahkan satu buah map yang isinya adalah surat pernikahan mereka dulu, meski Aji telah mengajaknya berpisah waktu itu tapi baginya dia tetaplah suami untuk selamanya.


'' apa ini Vivi? kenapa kamu masih menyimpannya sedangkan aku sudah meminta perpisahan padamu waktu itu,'' ujar Aji tidak percaya dengan bukti yang baru saja dia lihat dan ini ada di genggamannya.


'' Sudahlah Ayo segera kita keluar.'' Vivi merebut kembali dokumen yang ada di tangan Aji Lalu diserahkan pada Pak RT.

__ADS_1


'' Maaf Pak saya cuma punya bukti ini.'' Vivi menyerahkan dokumen tersebut Dan disambut oleh Pak RT lalu segera dibuka dan dibaca isinya.


'' jadi kalian menikah Siri, Oh ya ya... saya ingat waktu kamu pertama kali datang ke kampung ini mencari kontrakan dan saya meminta data-data kamu kamu mengatakan jika suamimu bekerja di luar kota, lalu ini kenapa suamimu katanya dari Kampung Sebelah?'' pertanyaan Pak RT langsung membuat Aji ingin meluruskan karena Jalan aman sudah terbuka lebar.


''Jadi begini pak waktu itu saya memang bekerja di luar kota dan saya kan kehilangan nomor kontak istri saya karena kecelakaan dan hp hilang, saya orangnya pelupa tapi yang saya ingat alamatnya itu tidak jauh dari Kampung Sebelah tempat saya tinggal saat ini. makanya pas pertama kali saya menemukan rumah istri saya ini saya sangat senang dan sering berkunjung tapi itu tidak sampai menginap, karena saya tahu pasti warga disini mengira istri saya ini adalah seorang janda. Tapi kami tidak akan membeberkan privasi rumah tangga kami yang penting Pak RT sudah tahu titik permasalahannya dan kami tidak bersalahkan?'' ucap Aji membuat kepala Pak RT itu menggangguk-angguj paham atas apa yang sudah dia jelaskan secara detail dua warga yang menjadi saksi pun merasa tidak enak karena sudah menuduhnya yang bukan-bukan. lalu dua orang pria itu langsung meminta maaf pada Aji dan juga Vivi setelah permasalahan selesai Mereka pun bubar.


''Makasih ya Vi, kamu sudah menyelamatkan sayang dari amukan massa.'' ujar Aji.


Mereka pun membicarakan hal serius dan Aji akan mengambil langkah baru. Meski dia harus memikirkannya secara matang. Tapi, dia tahu betul ketulusan Vivi serta obsesi yang masih melekat akan membuat orang lain percaya.


Aji akan meminta pendapat pada kakek tua yang telah menolongnya waktu itu. Banyak sekali pertanyaan yang sudah dia siapkan untuk permasalahannya ini.


''Aku pamit pulang dulu ya, Vi. Maafkan aku sudah membuatmu jadi terseret masalah seperti ini,'' ucap Aji.


''Tidak apa-apa, aku selalu berdoa agar kita di persatukan kembali. Meski banyak sekali rintangan dan badai sekalipunm aku akan menghadapinya dengan kekuatan cinta yang ku miliki untuk mu.'' Vivi mengedipkan matanya dengan genit.


''Sudah pandai kamu menggombal ya,'' Aji menarik hidung Vivi lalu berlalu pergi.


Dia punya sebuah rencana tapi belum yakin sepenuhnya atas rencana yang dia ambil ini.


Aji memesan ojek online yang sudah dari tadi menungguinya. Cuaca semalam memang tidak mendukung dan jaringan sedikit terganggu membuatnya tidak pulang ke rumah.


Vivi melambaikan tangannya saat Aji sudah duduk di boncengan kang ojek online.


Vivi pun memilih untuk membersihkan diri bersama putri kecilnya. Air hangat yang semula sudah di siapkan tinggal tuang saja ke dalam bak mandi milik putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2