Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 11


__ADS_3

"Ayo kita masuk" Anwar langsung menarik tangan Mika untuk ia gandeng masuk kedalam warung yang lumayan ramai itu. Lagi lagi Mika terkejut dengan perlakuan bosnya ini.


"Pak!" seru Mika seraya menghentikan langkahnya.


Anwar menoleh kearah Mika, dan ia juga menghentikan langkahnya. "Ada apa Mi, kok berhenti?" tanya Anwar yang hendak melanjutkan langkahnya lagi.


"Bapak bisa lepasin tangan saya." Tatapan Mika beralih ke tangannya yang digenggam oleh bosnya itu.


Anwar langsung menyadari kesalahannya dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mika.


"Maaf," ucapnya sedikit lirih. Namun jelas dan terdengar di telinga Mika.


"Ayo kita makan, nanti malah tidak dapat tempat duduk." Anwar segera mengalihkan perhatian Mika dengan segera mengajak masuk kedalam.


Mika hanya mengikuti langakah bosnya tersebut. Setelah mengamati tempat duduk yang kosong, dapatlah mereka posisi duduk di belakang sekali.


Duduk berhadapan dan langsung memanggil kang Mie Ayamnya, yang di panggil segera menghampiri. Lalu Anwar memesan Mie Ayam ekstra pangsit, sedangkan Mika memesan yang biasa.


Cukup lama menunggu, kira kira Delapan menit untuk menu Mie nya. Karena yang datang lebih cepat adalah minumannya.


Minuman botol Teh Sossro dingin menemani mereka, serta minuman botol berisi air mineral.


Setelah makanan disajikan, mereka makan dalam diam. Tak ada yang membuka suara hingga makanan dan minuman mereka ludes.


Setelah selesai makan, mereka duduk lebih lama. Karena kampung tengahnya terasa penuh.


"Mi, isitirahat sebentar ya. Perut saya begah" ucap Anwar sambil menegakkan punggungnya.


"Iya pak, saya juga sangat kekenyangan. Porsinya lebih banyak disini ketimbang di tempat lain." Ucap Mika dengan ekspresi yang mirip orang lagi kekenyangan. Mereka memang lagi kekenyangan thor.


"Iya, tunggu Lima menit lagi baru kita jalan balik" ucap Anwar sambil merogoh ponselnya yang berbunyi. Ia menatap layar ponselnya sejenak dan memperhatikan sang penelpon.


Mama memanggil, tertera dilayar yang sedang ia pegang. Namun, Anwar memilih tak menjawab dan ia kembali memasukkan ponselnya kedalam sakunya.


"Kenapa tidak bapak jawab telponnya?" tanya Mika yang sedari tadi memperhatikan gerakan bosnya di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa, tidak terlalu penting. Ayo, kita balik lagi ke pusat." Ajak Anwar setelahnya.


Anwar dan Mika berdiri bersisian untuk membayar makanan mereka. Namun Anwar melarang Mika untuk membayar, biar dirinya saja yang membayarkan makanan mereka tadi.


Diluar sana, mobil hitam sedang memasuki area parkiran yang memang penuh itu. Setelah diarahkan oleh juru parkir, mobil tersebut mendapatkan tempat.


Turunlah kedua orang tua yang baru menginap semalam dirumah anaknya dikota ini dari mobil yang baru selesai diparkirkan. Mereka mulai melangkahkan kakinya memasuki warung 'Mie Ayam Podo Moro' tersebut sambil berjalan bergandengan seperti pasangan pemuda.


Mereka langsung menuju tempat yang kosong, dengan waktu yang bersamaan. Mika dan Anwar melewati kedua orang tua yang baru saja duduk.


"Rame banget disini yah" ucap bu Dina kepada suaminya.


"Iya bu, mungkin disini enak.Terbukti dengan ramainya pengunjung disini." Ujar pak Rizal.


Mereka kemudian menunggu menu yang dipesan dengan selingan obrolan. Sementara itu, Mika dan Anwar masuk kedalam mobil untuk kembali melewati jalanan yang ramai dan padat oleh pengendara lainnya.


Setengah jam waktu tempuh untuk sampai di toko 'Glamour' tersebut. Anwar dan Mika keluar bersamaan.


Anwar tak membukakan pintu untuk Mika lagi, karena sudah dilarang keras oleh Mika. Anwar menuruti apa yang dikatakan oleh Mika agar tak lagi memperlakukan dirinya begitu intim.


Sedangkan Anwar menuju keruangan miliknya, dan bertemu dengan Meisya yang baru keluar dari dalam Gudang.


"Bagaimana Mei, ramai pengunjung hari ini." Tanya Anwar sebelum masuk kedalam ruangannya.


"Ramai pak, seperti biasa." Jawab Meisya sambil menutup pintu gudang pakaian.


"Syukurlah, bagaimana kinerja Mona?" tanya Anwar.


"Sampai saat ini baik baik saja pak" jelas Meisya yang tidak menemukan keanehan.


"Baiklah kalau begitu, selamat bekerja Mei. Saya masuk dulu"



Mika keluar dari dalam toilet dan berdiri menghadap kaca lebar didepan washtafel, ia merapikan rambut serta merias wajahnya sejenak agar kembali terlihat fresh.

__ADS_1


Setelah selesai, Mika keluar dari tolilet dan berjalan kearah depan untuk kembali bekerja seperti biasa.


"Eh, kak Mika, dari tadi nggak keliatan kak." Ucap Mona saat berpapasan dengan Mika.


" Oh, iya Mon. Saya tadi mengecek toko cabang bersama Pak Anwar." Ucap Mika sambil melanjutkan langkahnya.


Oh... enak ya kak, bisa diajak sama bos. Aku juga mau kak" ucap Mona sambil mengikuti langkah Mika dari belakang.


Mika menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menjadi berhadapan dengan Mona.


"Maksud dari pertanyaan kamu apa Mon, saya kurang mengerti." Ucap Mika sambil memicingkan matanya menatap Mona yang sedang berhadapan dengannya.


"Maksudnya, saya juga kepengen seperti kakak. Menjadi orang kepercayaan di toko ini" dengan senyum yang ramah ia tunjukkan ke Mika.


"Oh, kalau itu. Kamu harus lebih giat lagi bekerja dan juga harus teliti. Jangan sampai mencari Muka, karena pak Anwar tidak menyukai hal itu" terang Mika dengan tegas.


Setelahnya, Mika kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti gara gara pertanyaan konyol Mona.


Mika langsung menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang belum dikerjakan oleh Meisya. Karena memang peran Meisya juga banyak, jadi memang tidak bisa semuanya dikejar oleh Meisya saat ditinggalkan oleh Mika.


Setelah selesai mengecek bagian depan, Mika pergi menuju gudang pakaian. Ia masuk kedalam dan merapatkan pintunya.


Mika membuka daftar catatan yang selalu ia bawa untuk mengecek barang digudang, setelah semuanya aman Mika kembali keluar dari dalam gudang, lalu ia menuju meja kasir dan memberikan rekapan data.


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Aji sedang menunggu client nya bersama dengan Vivi untuk mengadakan rapat.


Diruangan hotel yang sudah disewa khusus oleh bagian marketing dari pabrik kopi mereka untuk mengadakan pertemuan dengan client luar negeri.


Sementara menunggu, biar tidak bosan. Vivi memulai obrolan dengan Aji. "Ji, kenapa kamu hari ini tidak bersemangat. Apakah ada masalah dengan pekerjaan yang saya berikan?" tanya Vivi yang seharian ini memperhatikan gerak gerik Aji yang tak seperti biasanya.


"Tidak ada apa apa, mungkin hanya kurang istirahat" jawab Aji sekenanya.


"Kalau masalah pekerjaan, kamu langsung sampaikan saja Ji, Aku pasti akan memperbaiki bagian mana yang tidak kamu suka." Ucap Vivi dengan lembut.


Aji hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Vivi, setelah beberapa saat. Client yang di tunghu tunggu oleh mereka tiba menghampiri mereka.

__ADS_1


Vivi dan Aji serentak berdiri untuk menyambut kedatangan orang tersebut dengan ramah dan kemudian kembali duduk bersama untuk membahas masalah produk mereka.


__ADS_2