Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 50


__ADS_3

Waktu terus bergulir, malam telah berganti siang. Siangpun telah berganti sore. Dimana kebanyakan orang mulai bergegas untuk menyelesaikan tugas di kantor dan mempersiapkan diri untuk pulang ke tempat masing-masing.


Sore ini, Aji tengah bersiap-siap untuk menjemput Vivi pulang ke rumah mereka. Ia sedang membereskan beberapa berkas di atas meja kerjanya. Setelah semua berkasnya tersesusun rapi, Aji keluar dari ruangan. Saat menuju ke parkiran, lagi-lagi ia harus melihat mantan istrinya bersama orang yang sama saat itu. Saat ia melihat di taman waktu ia hendak mencari angin segar.


Mereka berpas-pasan saat akan menuju mobil masing-masing. Entah mengapa, bibir Aji tiba-tiba gatal ingin menyapa keduanya.


''Hei, Mika, tumben kamu enggak bawa kendaraan sendiri.'' Sapa Aji menyebut nama Mika. Namun, tatapan matanya menjurus menatap Anwar yang baru saja membukakan pintu untuk Mika masuk.


''Eh, ada sang mantan.'' Anwar menjawab sapaan dari Aji dengan tangan yang ia masukkan ke saku celana. Sementara itu, Mika memilih langsung masuk ke dalam mobil.


Fyuhh!


Aji mendengus mendengar panggilan yang di lontarkan oleh Anwar untuk dirinya. Sebutan yang bikin panas telinganya. Akhirnya, Aji langsung masuk ke mobilnya dan menutupnya dengan kuat.


Jduggh!!


Bunyi pintu yang di hempas oleh Aji membuat Anwar tersenyum remeh. Hanya dengan satu kata sudah membuat Aji panas. Entah panas di bagian mana ia tak memperdulikan. Kemudian, Anwar menyusul Mika masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannya keluar dari area parkiran.


"Apa dia masih sering mengganggumu, Mi?" tanya Anwar ketika sudah dalam perjalanan.


"Enggak terlalu sih, Mas. Cuma seperti tadi aja, nyapa. Kalau aku ladenin nanti pasti menjurus ke masalah masa lalu. Jadi, aku males mau nanggepinnya" ungkap Mika.


"Ohh, ya sudah kalau begitu. Apa kamu mau langsung ke bengkel ambil mobil?" tanya Anwar ingin memastikan tujuan awal ia menjemput Mika. Karena pagi tadi Mika membawa mobilnya ke bengkel untuk di servis dan Anwar menawarkan bantuan untuk menjemputnya saat pulang dari kantor.


"Iya, Mas, sekalian aja. Soalnya kan udah selesai" ujar Mika.


Anwar pun mengantarkan ke bengkel tempat Mika menyervis mobilnya. Setelah selesai dengan urusan di bengkel, Anwar mengiringi mobil Mika dari belakang dan mengantarkan sampai depan rumah Mika.


"Mas, kamu nggak perlu repot-repot nganterin aku sampe rumah," ucap Mika.


"Mas cuma ingin memastikan bahwa kamu sampai dengan selamat. Itu saja, Mas langsung pulang kok." Jawab Anwar.


"Makasih, ya, Mas. Hati-hati,..."


Anwar berlalu dari rumah Mika menyusuri jalanan yang ia lewati. Ia pun langsung balik ke rumah. Semua urusan pekerjaan sudah ia bagi bersama sang adik.


"Udah pulang, nak," sapa Bu Dina saat melihat Mika melintas di hadapannya.

__ADS_1


''Udah, Bu. Ayah mana?'' tanya Mika sambil mencari keberadaan Ayahnya.


''Lagi keluar, ada yang mau di urus katanya'' jawab Bu Dina.


''Oh, ya udah bu, aku ke kamar dulu mau mandi'' jawab Mika dan ia menuju kamar.


''Iya,'' sahut Bu Dina. Kemudian ia keluar menuju halaman samping rumah hendak menyiram bunga.


Sementara Mika langsung membersihkan diri di kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air shower. Membubuhkan sabun pada busa dan meremasnya, lalu ia sapukan pada area tubuhnya hingga rata.


***


"Aku seneng banget, akhirnya bisa pulang ke rumah!" seru Vivi yang kini tengah berada dalam perjalanan pulang bersama Aji.


Aji melirik dari samping, nampak wajah riang gembira di tunjukkan oleh Vivi. Ia pun ikut senang melihatnya kembali bersemangat seperti dulu.


Setelah sampai di rumah, bik Rumi menyambut kepulangan Vivi. Membantu membawakan barang bawaan Vivi ke dalam rumah.


"Selamat datang kembali, non Vivi" sambut Bik Rumi.


"Saya siapkan minum dulu sebentar," bik Rumi hendak ke belakang.


"Nanti antar langsung ke kamar, ya. Aku mau langsung ke kamar, bik" ucap Vivi.


"Baik, non."


Vivi hendak naik ke lantai atas menuju kamar miliknya. Namun, Aji mencegahnya.


"Mau kemana, hmm, kamar kita sudah aku pindah ke bawah. Biar kamu enggak capek naik turun bawa si junior" ungkap Aji dan menuntun Vivi menuju kamar yang Aji siapkan.


Sebelumnya, Aji mendekor ruang tidur mereka dengan bunga-bunga layaknya kamar pengantin. Saat Vivi masuk dan melihat jadi terkagum. Ia langsung mendekat ke ranjang dan mengambil kelopak bunga mawar tersebut dan menghirup aromanya.


''Hmm, wangi sekali. Makasih, ya ,sayang. Kamu, udah siapain ini buat aku'' ujar Vivi.


''Bersihkan dirimu, baru kita istirahat'' Aji memerintah Vivi agar ia mandi terlebih dahulu baru berbaring di ranjang.


''Okey, aku akan mandi'' Vivi melenggang ke kamar mandi.

__ADS_1


Aji pun membuka pakaian kerjanya dan menaruhnya di keranjang kotor yang ada di dalam kamarnya.


Tokk! tokk! tokk!


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan. Aji menghampiri dan membuka pintu tersebut yang ternyata bik Rumi mengantarkan minuman.


''Maaf, tuan, ini minumnya'' wajah bik Rumi menunduk. Tangannya menyodorkan nampan berisi dua cangkir teh panas.


''Kenapa bibik menunduk begitu?'' tanya Aji dengan heran. Tangannya meraih nampan yang di ulurkan oleh bik Rumi padanya.


''Anu, maaf. Bibik permisi, tuan!'' dengan wajah masih menunduk bik Rumi pamit undur diri.


Aji menutup pintu kembali, lalu meletakkan nampan tersebut ke atas nakas di dalam kamarnya.


Sementar bik Rumi yang menuju kembali kedapur menggerutu dengan wajah yang memerah karena habis melihat pemandangan yang sudah lama tak ia lihat. Terakhir kali ia melihat dada bidang milik lelaki saat umurnya masih remaja.


Bagaimana tidak, di usianya yang sudah menginjak hampir kepala empat. Ia masih betah sendiri dan belum ada niatan untuk membangun kehidupan baru bersama belahan jiwa.


''Ya gusti, mata hamba ternodai. Ampunilah hamba...'' lirih bik Rumi sembari memegang kain lap yang akan ia gunakan untuk membersihkan meja bekas ia gunakan untuk membuat teh.


Sementara di dalam kamar, Vivi baru saja selesai dengan ritual mandinya. Handuk yang menutup tubuhnya bagian atas, namun tidak dengan bagian bawah. Karena perutnya yang membuncit. Membuat handuk tersebut tidak bisa menutup bagian area ladang berumput hitam di bawah sana.


''Sudah selesai?'' Aji menatap ke area ladang milik Vivi. Ia mendekat dan mengelus perut buncit Vivi dan beralih ke gunung kidul milik Vivi.


Sebagai lelaki yang normal, ia sudah beberapa bulan tidak mendapat jatah untuk merumput di ladang istrinya sejak Vivi di rawat di rumah sakit. Tiang benderanya sudah siap tegak untuk di tancapkan di ladang tersebut.


Gunung kidul milik Vivi yang terlihat padat berisi karena ia sedang mengandung, semakin menantang untuk segera di kemut.


''Ji, aku sangat rindu akan sentuhanmu...''


-


-


Hay, author mau rekomendasiin cerita dari sobat othor yang sangat wajib buat kalian baca. Ceritanya tentang poligami yang bikin greget. Jangan lupa mampir dan dukung ya, kiss.


__ADS_1


__ADS_2