
Bab 100
Keputusan
Jika kita dihadapkan dengan suatu keadaan yang mengharuskan kita untuk memilih antara harus lanjut atau harus meninggalkan. Maka, sebuah kata hatilah yang bisa kita ikuti untuk membuat diri kita menjadi yakin.
Semua rasa bimbang dan juga keresahan dalam diri yang sudah tidak dapat lagi di utarakan. Maka yang harus di lakukan adalag bertindak dengan kata hati.
''Mas, maafkan aku.'' Mika menatap wajah Anwar dari samping karena saat ini kepala pria itu berada di bahu Mika.
__ADS_1
Anwar tak menanggapi, tapi dia mendengar dan menanti apa lagi yang akan istrinya katakan. Posisi masih tetap sama dan tidak berubah sama sekali.
''Aku ingin bebas,'' jujur Mika dari hatinya yang paling dalam. Suaranya terdengar bergetar meski tak ada keraguan bahkan juga tidak terbata. Namun, keberaniannya benar-benar terkumpul sempurna.
Anwar bukannya langsung menjawab, melainkan mengeratkan pelukannya pada pinggang Mika. Hatinya tak kuasa untuk menjawab permintaan sang wanita meski itu adalah harapannya. Dia berharap Mika mau berbicara padanya lalu mengatakan apa keinginannya. Namun, saat dia mengetahui permintaan itu sungguh membuatnya tak sanggup untuk berkata-kata. Bibirnya terasa kaku hingga untuk mengeluarkan suaranya saja dia tidak mampu.
Bahu seorang pria yang tegap itu nampak samar bergetar. Dia berusaha menyembunyikan perasaan tidak relanya dengan mengukir sebuah senyum tipis. Matanya nampak sendu, akan tetapi tidak bisa mengeluarkan air mata. Dia memang bukan tipe pria yang bisa menangis dengan mudah seperti orang lain.
Mika bukan menganggap sebuah ikatan suci itu seperti sebuah permainan. Seperti bermain layang-layang yang jika kita sudah tidak kuat mengendalikan kencangnya angin. Lalu kita langsung mengambil keputusan untuk melepaskan talinya. Lalu layangan itu terbang tak tentu arah. Namun, karena memang hatinya tidak kuat, ia pun memilih untuk menurunkan layangan tersebut dan menyerah.
__ADS_1
''Bisakah kamu membebaskanku, Mas?'' ucap Mika lembut dan hati-hati, ia mengulangi kembali permintannya tersebut. Di tatapnya dalam-dalam iris mata pria yang ada di hadapannya kini. Dengan jarak yang begitu dekat hingga pantulan dirinya pun terlihat di kornea sang pria.
''Apakah kamu melihat kerlip bintang di langit itu?'' tunjuk Anwar ke tingginya langit yang bertabur bintang. Dia sengaja untuk tidak langsung menjawab permintaan sang istri. Dan malah mengalihkan pembicaraan.
Hatinya masih bisa sabar, mungkin ada sesuatu yang akan Anwar ungkapkan sebelum megabulkan permintaannya. Mika pun beralih memandang ke arah langit dan menatap ratusan bintang yang saling berdekatan dan berkerlip di sana.
''Diantara ratusan bintang yang berkerlip di sana, ada satu bintang yang berukuran besar. Bintang itu tampak redup dan hampir samar.'' Anwar menatap ke arah bintang yang juga di tatap oleh Mika.
''Bintang itu seperti suasana hatiku, cintaku begitu besar padamu. Namun, karena tak terbalas dan hanya bersinar di satu sisi. Maka ia menjadi tak menonjol,'' papar Anwar yang mengibaratkan sebuah rasa cintanya seperti bintang itu.
__ADS_1
''Aku memang tidak bisa memaksakan perasaanmu agar bisa berlabuh di hatiku. Meski semua yang kulakukan tak bisa membuat hatimu untuk tertarik. Maka, membebaskanmu adalah hal yang terbaik. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia,'' ujar Anwar yang sekuat hatinya berusaha tegar melepas cintanya pergi.