Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 63


__ADS_3

Haloooo man teman, apa kabar buat kalian? Semoga sehat selalu dan di beri kemudahan dalam segala akitiftasnya dan juga di mudahkan rejekinya. Maaf, Author lama update karena sesuatu. Untuk part ini, mohon di maafkan jika feel-nya nggak dapet. Author baru ingin memulai melanjutkan lagi kisah kehidupan rumah tangga para pemeran dalam cerita ini.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di bawah, ya!


Like, komen, vote, gift, dan juga favoritnya jangan lupa. Satu dukungan saja sangat berarti buat Author remahan kayak aku ini. Love You All.


Selamat membaca, maaf kalau kali ini aku lebay dan alay banyak banget nulis embel-embel sapaannya buat para readers!


***


Dalam sebuah kamar bernuansa kuning kombinasi jingga dengan hiasan boneka-boneka lucu, bayi mungil sedang menangis.


''Oeek, oeekk,''


Bik Rumi dari arah dapur berlari tergopoh-gopoh dengan membawa sebotol susuu yang baru saja dia buat untuk si kecil. Sesampainya di kamar, bik Rumi langsung menenangkan bayi kecil yang kehausan.


''Cup ... cup ... cup,'' bik Rumi menggendong dengan hati-hati dan memberikan botol susuu ke mulut mungil si bayi.


Dari luar ruangan Aji berjalan menuju kamar sebelah untuk melihat si kecil karena menangis lumayan kencang hingga terdengar ke ruang kerjanya.


''Ada apa, bik?'' tanya Aji. Dia mendekat dan melihat si bayi yang menangis di gendongan bik Rumi.


''Bibik nggk tahu, Tuan. Nangis nggak mau diem. Udah bibik kasih susuu juga,'' terang bik Rumi.


''Coba, bik. Biar aku coba yang gendong, tolong taruh di tanganku!'' pinta Aji. Dia merenggangkan tangannya untuk menyambut bayi kecil ke dalam gendongannya.


Cukup kesulitan di awal, setelah merasa aman, Aji menimang-nimang bayi kecil itu hingga terdiam. Dia tersenyum senang bisa mendiamkan sang anak.


''Anu, Tuan. Apa tuan sudah punya nama untuk anak manis ini,'' tanya bik Rumi dengan suara pelan.


''Emm, belum, bik. Aku belum kepikiran, kasih nama apa, ya, bagusnya?'' tutur Aji.


''Kalo Bibik yang kasih nama nanti malah nggak cocok, Tuan.'' Ujar bik Rumi.


''Viona aja gimana? bagus nggak, Bik?'' Aji meminta pendapat.


''Bagus juga, Tuan. Cantik namanya!'' seru bik Rumi. ''Bibik ke dapur dulu ya, Tuan. Mau cuci botol susuunya.'' Bik Rumi undur diri.


''Viona, anak manis. Sayangnya, Papa, bobok di tempat tidur, ya. Papa mau lanjut kerja lagi. Tugas Papa selama libur numpuk banget, cup ... '' Aji mengecup pipi bayi mungil itu dan perlahan-lahan dia menidurkan ke ranjang.

__ADS_1


Aji merapatkan pintu kamar tersebut dan kembali ke ruang kerjanya. Aji menggenggam buku kecil milik Vivi yang dia temukan di balik lemari pakaian. Semua isi dari buku itu sudah dia baca. Aji tidak menyangka jika Vivi sudah menyukainya sejak di bangku kuliah. Semua cerita tertuang dalam buku kecil tersebut.


Satu kalimat yang membuat Aji ingin segera menuntaskan urusannya dengan Vivi masalah obat perangsang. Dia menemukan benda itu di samping buku dairy tersebut.


''Kenapa kamu sangat licik, Vivi,'' gumam Aji. Dia mempererat genggaman tangannya pada buku tersebut. Dia ingin marah untuk melampiaskan semua uneg-uneg dalam dada.


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Semua yang Vivi lakukan itu demi obsesinya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Semua sudah terjadi, ibarat masak nasi, tapi malah jadi bubur. Tinggal di tambah kuah kaldu sama suiran ayam agar menjadi nikmat. Namun, sayang, kenikmatan itu tak berlangsung lama.


***


''Permisi!''


Tokk tokk tokk


Suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah. Bik Rumi dengan segera menuju ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang bertamu.


''Ya, sebentar!'' sahut bik Rumi sembari menekan knob pintu.


''Assalamualaikum.'' Seru seseorang di balik pintu. Berpakaian rapi dengan tangan tersimpan di balik saku celana.


''Walaikumsalam, maaf, Tuan. Cari siapa, ya?'' tanya bik Rumi ramah.


''Ada, Tuan. Tunggu sebentar biar saya panggilkan, silahkan masuk, Tuan!'' titah bik Rumi. Lalu, pergi menuju ruang kerja Aji.


Tak berapa lama, bik Rumi kembali bersama Aji yang berjalan di depannya.


''Bik, tolong buatkan kopi, ya.'' Pinta Aji.


''Baik, Tuan!'' bik Rumi pun undur diri untuk membuatkan minuman yang di pinta oleh Aji.


''Lu, Gas. Duduk,'' Aji mendekat dan merangkul sekilas sahabatnya.


''Gimana kabar, lu? Sorry gue baru bisa nemuin lu hari ini. Banyak banget kerjaan di kantor.''


''Seperti yang lu lihat, gue besok udah bisa ngantor kok. Lu tenang aja, mulai besok kerjaan lu nggak akan numpuk lagi.'' Ujar Aji.


Bik Rumi menyajikan kopi serta cemilan ringan di meja tamu. Obrolan mereka pun terjeda sesaat. Setelah bik Rumi balik ke belakang, baru mereka melanjutkan lagi obrolan yang tertunda.


''Gimana bayi, lu? gue boleh liat, nggak?'' tanya Bagas setelah mereka menunda beberapa saat obrolan itu.

__ADS_1


''Boleh, minum dulu kopi, lu. Ntar kita liat ke dalam. Baru gue tidurin soalnya.'' Terang Aji.


''Wehhh, udah bisa lu ngurus bayi. Bapak yang handal juga ternyata,'' seloroh Bagas.


Mereka pun mengobrol sambil menikmati kopi dan juga cemilan ringan yang tadi di suguhkan oleh bik Rumi. Setelah itu, Bagas sudah tidak sabar ingin melihat bayi mungil anak dari sahabatnya ini. Kedua orang itu pergi menuju ke kamar bayi bersamaan. Saat sudah sampai di ambang pintu, Aji mencegah Bagas untuk buru-buru masuk ke dalam ruangan. Bukan tidak boleh, akan tetapi, Aji khawatir kedatangan Bagas akan membangunkan tidur sang bayi yang sedang nyenyak.


''Sssttt! pelan-pelan, jangan berisik!'' perintah Aji saat mereka berjalan mendekat dengan suara sangat pelan. Bagas pun menurut, karena dia belum pernah menengok bayi sama sekali. Hidupnya di isi dengan bermain game saja.


''Wahhh, cantik banget bayi ini. Boleh pegang nggak, Ji?'' lirih Bagas. Dia sangat antusias melihat bayi mungil yang tertidur dengan imut. Tangannya pun tak sabar langsung saja menyentuh pipi lembut sang bayi.


Tanpa menunggu ijin dari Aji, Bagas sudah lebih dulu memegang pipi bayi yang menggemaskan dengan cara mencubit pelan dan halus.


Plaakk


Aji menepis tangan Bagas yang mendarat begitu saja di wajah putrinya yangcsedang terlelap menjadi bergerak menggeliat karena ulah Bagas.


''Uughh! pelit amat sih, lu! cuma pegang doang.'' gerutu Bagas.


''Lu bilang tadi cuma mau liat, kan? kenapa pakai acara sentuh-sentuh anak gue!'' balas Aji tak terima.


Bagas pun tergelak melihat keposesifan sang sahabat teruntuk putri kecilnya.


''Biasa aja kenapa, sih! Kan dia nggak kebangun juga, gue coba gendong, ya. Siapa tau bisa nular!'' tutur Bagas. Tangannya sudah siap hendak menyentuh Viona.


''Nggak boleh! ayok kita keluar, anak gue lagi tidur anteng, nggak boleh di ganggu.'' Aji menarik Bagas agar keluar dari ruang kamar tersebut.


''Astaga! pelit amat lu jadi Bapak.'' Tukas Bagas. Dia hanya bisa menurut keluar dari ruangan itu dan kembali menuju ruang tempat mereka ngopi sebelumnya.


Tak berapa lama, Bagas pun berpamitan pulang karena diaasih ada urusan lain yang akan di kerjakan. Mereka akan melanjutkan obrolan keesokan harinya jika sudah berada di kantor.


''Gue cabut, ya! Sekali lagi, jaga dan rawat bayi lu baik-baik. Kasih susuu yang teratur, jangan sampe nangis kejer tuh bayi.'' Saran Bagas sebelum dia masuk ke dalam mobilnya. Nadanya sudah mirip seperti bapak yang profesional dalam urusan mengurus bayi. Padahal membuatnya saja belum pernah.


''Gaya lu, Gas! kayak udah pengalaman bikin bayi aja, pasangan aja belom ada. Dah, hati-hati di jalan. Bye!'' Aji mendorong tubuh Bagas agar segera masuk ke dalam mobilnya.


''Apa lu bilang tadi? gue udah nggak jomblo wati ya! sembarangan tu muncung!'' jawab Bagas tak terima.


Aji hanya tergelak kemudian Bagas pun berlalu. Bercanda dengan Bagas membuat Aji menjadi lebih fresh dalam berfikir. Sesuatu yang menjadi beban bisa berkurang dengan adanya candaan dari seorang sahabat.


-------Bersambung--------

__ADS_1


Terimakasih banyak buat yang selalu menanti kisah ini.


__ADS_2