Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 79


__ADS_3

Bab 79


Kehilangan Lagi


Maaf ya untuk part ini ada kegiatan dua satu pelus. kalian bisa skip kalau nggak suka ya,


Aji tiba di rumah dan telag memeriksa semua ruangan yang ternyata kosong. Mika tidak ada di rumah, ia bingung harus mencari kemana lagi. Otaknya sedang buntu dan tidak bisa berfikir dengan baik. Terlintas wajah Vivi yang sejak tadi mengikuti dirinya.


''Pasti ini ulah kau Vivi. Awas saja!'' Aji mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju tembok yang tak bersalah.


Aji kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tujuannya kali ini ialah rumah Vivi. Rumah yang telah menyebabkan kehancuran antara rumah tangganya dengan Mika.


Ciittt


Aji mengerem dengan kuat hingga menimbulkan bunyi decitan pada ban mobilnya. Dengan kasar Aji membanting pintu mobilnya dan langansung tergesa menggedor pintu rumah Vivi.


Brak!! brak!! brak!!


Masih belum ada sahutan dari dalam dan Aji kembali menggedor pintu itu secara kasar. Hingga pintu itu terbuka dan menampakkan wajah si bi Rumi yang masih setia menjaga rumah tersebut.


''Tuan, silahkan masuk...'' bi Rumi mempersilahkan masuk dengan wajah sedikit takut dan seketika ia bergidik karena wajah Aji yang nampak merah padam. Aji langsung nyelonong dan menuju ke kamar untuk mencari keberadaan Vivi.


Brak!!


Aji membuka pintu kamar itu dengan kasar dan mendapati Vivi yang sedang menyusui Viona di pangkuannya. Wanita itu nampak terkejut karena kedatangan Aji yang mendadak.


''Di mana kau sembunyikan Mika, hah!'' Aji mencekik leher Vivi tanpa memperdulikan bayi Viona yang langsung menangis kencang mendengar teriakannya.


Vivi sangat kaget dan takut melihat Aji semarah ini. Ia sendiri bingung mengapa Aji menanyakan Mika padanya. Pasalnya Vivi tadi kehilangan jejak mereka dan memutuskan untuk pulang.


''Aa–" Vivi terbata.


''Jawab!!'' bentak Aji dengan sangat kuat hingga bayi Viona semakin kencang menangis.

__ADS_1


Bi Rumi yang mendengar suara ribut-ribut segera masuk ke dalam kamar Viona tanpa ijin.


''Maaf, Non. Biar neng Vio sama Bibi.'' Bi Rumi langsung meraih bayi yang tak tahu apa-apa itu dari tangan Vivi.


''Lepas! Sakit Aji,'' rintih Vivi menahan lengan Aji yang mencekik lehernya.


''Katakan di mana Mika!'' Aji mengulangi lagi pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban.


''Aku–nggak tahu, lepas... Uhuk uhuk!'' Vivi berhasil melepaskan tangan Aji dari lehernya yang terasa nyeri. Nampak memerah di sekitar kulitnya karena cengkraman itu begitu kuat dan menyakitkan.


''Ayo, segera katakan di mana kamu sembunyikan Mika! Aku tidak akan segan-segan membunuh kamu detik ini juga jika kamu tidak mau mengatakannya!'' gertak Aji yang semakin membuat tubuh Vivi bergetar hebat. Rasa takut menyerang tubuh hingga menggigil.


''Tapi, aku beneran nggak tahu,'' Vivi terbata-bata. Ia memang tidak tahu di mana keberadaan Mika saat ini.


Aji menjambak rambutnya dengan kasar dan berteriak keras meluapkan rasa kesal dan emosi yang bercampur menjadi satu.


Arrrgghh!!!


Vivi mencoba mendekat memberanikan diri untuk menyentuh Aji. Di sentuhnya bahu Aji dan berkata dengan suara parau, ''Mika pergi ke mana? Bu–bukannya tadi dia sama ka–kamu?'' tanya Vivi tersendat-sendat.


Aji menarik napas sangat dalam dan menggembuskannya dengan kasar, ia pun bangkit dan keluar dari dalam kamar yang bernuansa khas milik bayi.


Vivi pun ikut bangkit dan menahan Aji, ia ingin menunjukkan rasa emapatinya pada Aji untuk bisa menarik kembali perhatian Aji.


''Ji, tunggu!'' tahan Vivi hingga Aji berhasil menghentikan langkah lebarnya. Dengan tatapan dingin Aji menatap ke arah Vivi.


''Biar aku bantu cari, ya. Aku punya kenalan detektif,'' ucap Vivi penuh keyakinan.


Wajah datar Aji tidak menunjukkan reaksi sama sekali, ia hanya mendengus dan pergi begitu saja.


***


Mika menangis saat sadar jika tubuhnya tidak di bungkus oleh pakaian. Selimut yang menutup tubuhnya ia remass dengan kuat, tatapan penuh kebencian ia layangkan pada sosok pria yang saat ini sedang tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


"Brengsekk kau Anwar! Apa yang kau lakukan padaku, hah!" Mika memukul berkali-kali tubuh kekar Anwar hingga sang empunya menggeliat akibat serangan itu.


Emmhh


"Stop, stop, stop." Anwar menghentikan aksi Mika dengan menahan lengan wanita itu dengan kedua tangannya.


"Bajingan kamu, Anwar, laki-laki biadab!!" amuk Mika tidak terima akan perlakuan Anwar yang telah memperkosanya.


"Sssstt, diamlah. Kamu tidak akan bisa lagi lari dariku. Sebaiknya kamu menurut saja," tutur Anwar dengan santai. Mika menatap Anwar dengan nanar. Sungguh harga dirinya di buat hancur berkeping-keping karena perbuatan laknath tersebut.


Mika meraih pakaiannya yang berserak di lantai dan memungutnya, namun Anwar langsung mencegahnya dan mendorong dengan kasar tubuh Mika hingga terbanting di atas kasur. Selimut tebal itu ia sibakkan dengan kasar dan di buang ke sembarang tempat.


"Aku sangat ketagihan dengan tubuhmu, sayang." Anwar mengelus lembut punggung Mika yang terpampang jelas di matanya. Kedua tangan Mika yang menutup aset kembarnya dan telungkup di kasur membuat Anwar semakin gencar mengusapnya.


Tubuh Mika terasa sakit semua akibat perbuatan bejad Anwar semalam yang tidak dia sadari. Mika berusaha melepaskan diri dari serangan yang Anwar lakukan padanya.


Namun, tubuh lemahnya tidak bisa mengalahkan kekuatan yang Anwar miliki. Anwar mengikat tangan Mika dengan ikat pinggang di kepala ranjang. Ia kembali beraksi menjelajahi tubuh Mika dengan buas. Mika hanya bisa menangis merasakan sensasi yang Anwar berikan. Sakit dan perih yang saat ini Mika rasakan, melihat air mata wanita yang ia cintai mengalir dengan begitu derasnya, Anwar berhenti dan mengusapnya dengan lembut.


"Jangan menangis, nikmatilah permainan ini. Aku yakin, kamu juga akan merasakan nikmatnya bercinta yang telah lama tidak kamu lakukan, bukankah kau merindukan sentuhan?" bisik Anwar seraya mengusap lembut air mata yang membanjiri pipi Mika. Di kecupnya dengan lembut dan tangan Anwar kembali bergerilya memberikan sentuhan-sentuhan di area yang membuat tubuh Mika bereaksi.


Anwar tersenyum senang melihat reaksi dari tubuh Mika. Ia berhasil membuat Mika terhanyut akan sentuhan lembut yang Anwar curahkan. Namun, Mika terus menggeleng dengan kuat dan menolak. Apalah daya karena tangan yang terikat dan tubuh yang di tindih membuat Mika sulit untuk bergerak banyak.


"Jadilah milikku," bisik Anwar dan ia mulai memompa pinggangnya menjelajahi area kepelikan Mika.


Semakin lama, permainan yang Anwar terapkan membuat Mika tidak bisa menahan suaranya yang sejak tadi ia tahan.


"Aaahhhh...." le nguhan Mika lolos begitu saja dari bibir seksinya.


"Ya... Teruslah men de sah, sayang." Anwar semakin menggila memainkan senjatanya di dalam gua milik Mika.


Hingga suara erangan dari mulut Anwar keluar dengan kencang memenuhi ruang kamar yang saat ini mereka huni.


Dalam rahim Mika, ia merasakan ada cairan hangat yang memenuhi rongga miliknya. Benda besar itu berdenyut-denyut di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2